27 Santri Pondok Modern Daarul Abroor Banyuasin Ikuti Pelatihan Jurnalistik

BANYUASIN I KSOL — Sedikitnya 27 santriwan dan santri wati Pondok Modern Daarul Abroor (PDMA) Desa Tirtaharja Kecamatan Muara Sugihan Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan mengikuti Pelatihan Jurnalistik tingkat dasar selama 2 hari di Gedung Umar 02 dan 03 di PMDA, Sabtu-Ahad, (23-24/12/2017).

Puluhan santri PondokModern Daarul Abroor Banyuasin sedang serius belajar menulis pada pelatihan jurnalistik, Sabtu (23/12/2017).

Materi yang disampaikan diantaranya tentang dasar menulis berita, sejarah jurnalistik, editing berita, foto jurnalistik, teknik wawancara dan lainnya.

Pada sambutan pembukaan kemarin, Sabtu (23/12/2017), Ustadz Muktadi, S.Pd, M.Hum, salah satu pengasuh PMDA Banyuasin mengatakan acara ini bertujuan untuk menggali potensi santri terutama dalam bidang jurnalistik.

Melalui pelatihan ini menurut alumnus Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) ini diharapkan akan lahir jurnalis muslim yang kelak akan mewarnai nilai-nilai kebaikan di dunia media.

Suasana Pelatihan Jurnalistik di Pondok Modern Daarul Abroor Banyuasin, Sabtu (23/12/2017)

Sehubungan dengan itu, ayah dari 1 putri dan 2 putra ini mengimbau kepada para peserta agar serius dalam mengikuti pelatihan.

Sebab menurutnya, pelatihan sejenis ini sangat jarang dilakukan apalagi menghadirkan pembicara dari Palembang.

“Kalian ambil ilmu dari pembicara hari ini tentang bagaimana menulis berita dan bagaimana agar menjadi jurnalis muslim yang baik. Jarang kita adakan acara pelatihan seperti ini apalagi kita datangkan pembicaranya dari Palembang. Kalian ambil ilmunya dan setelah itu kembangkan hingga menjadikan kalian bisa menulis berita dengan baik sebagaimana jurnalis profesional,” ujarnya.

 

Ustadz Muktadi, S.Pd, M.Hum pada Pelatihan Jurnalistik di Pondok Modern Daarul Abroor Banyuasin, Sabtu (23/12/2017).

Pada acara tersebut Muktadi juga mengibaratkan santri yang belajar jurnalistik seperti memancing ikan.

Setiap santri harus dibekali berbagai ilmu termasuk ilmu jurnalistik.

“Santri harus memiliki banyak disiplin ilmu. Semua harus dipelajari. Kalau ibarat mancing semua jenis ikan harus dipancing, apakah itu ikan patin, gabus atau ikan apapun. Nanti setelah sampai rumah pilih mana yang bisa dimakan. Belajar jurnalistik, dan pengetahuan lainnya juga begitu
Ambil dulu ilmunya dan mana yang bisa dikembangkan silakan dikuasai dan dikembangkan sesuai potensi, minat dan bakat masing-masing,” tambahnya.

Pada penyampaian materi sesi pertama, Imron Supriyadi, jurnalis senior di Palembang ini mengatakan profesi wartawan bukan hal mudah menjadi pilihan bagi setiap orang.

Sebab menjadi wartawan harus siap turun ke lapangan dalam kondisi apapun.

“Panas, hujan siang dan malam bukan halangan untuk mencari memburu berita. Kapan saja dan jam berapa ada kejadian maka detik itu juga seorang wartawan harus siap menjalan tugasnya. Jadi tidak bisa wartawan itu mengeluh tapi harus siap dalam tekanan deadline dan jam siar sebuah berita,” ujar Imron yang juga mengelola Lembaga Pendidikan Pers Sriwijaya (LP2S) Palembang.

Imron Supriyadi, Direktur Lembaga Pendidikan Pers Sriwijaya (LP2S) Palembang

Lebih lanjut, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Palembang (DKP) megatakan, pelatihan diharapkan dapat melahirkan jurnalis muslim sejati yang tetap menjaga integritas moral agamanya baik sebagai jurnalis maupun sebagai generasi muslim yang siap ikut menghalau arus budaya di sejumlah media.

“Saya berharap pelatihan ini bukan hanya melatih secara teknis penulisan berita saja tetapi lebih dari itu juga akan menciptakan jurnalis muslim yang siap berhadapan dengan dinamika informasi di pentas global,” ujar Pemimpin Redaksi Media Online kabarsumatera.com, Sabtu, (23/12/2017).

TEKS : RELEASE I FOTO : DOK.PMDA




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *