IWO OKU Mengecam Tindakan Kekerasan Terhadap Wartawan TVRI Sumsel

BATURAJA I KSOL — Terkait adanya insiden percobaan perampasan dan intimidasi oknum perwira pplisi terhadap reporter TVRI Sumsel Muhammad Wiwin yang bertugas di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) OKU, Rudi Hartono sangat menyayangkan dan mengecam perlakuan salah satu Oknum Perwira Polisi yang bertugas  di Polres OKU tersebut, menurutnya hal itu tidak semestinya terjadi.

“Kalau memang wartawan belum boleh mengambil gambar kejadian tersebut, kan bisa di sampaikan secara baik – baik, kepada awak media yang bertugas dilapangan,” kata Rudi.

Selanjutnya, Rudi menegaskan, sebagaimana diatur dalam Undang – Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers, pada BAB VIII Pasal 18 ayat 1,2 dan 3 menyebutkan isi pasal tersebut.

“Barang siapa yang menghalangi tugas pers dapat dituntut pidana dua tahun penjara atau denda paling banyak lima ratus juta rupiah,” tegasnya.

Terlebih lagi ada tindakan oknum hendak merampas kamera wartawan yang sedang bertugas.

“Kami atas nama IWO OKU memgecam keras kejadian ini,” tegasnya.

Terpisah Kapolres OKU AKBP Dra NK Widayana Sulandari saat dikonfirmasi melalui telepon selularnya mengatakan jika dirinya sudah mendapat laporan terkait insident tersebut.

“Saya sudah mendapat laporan tersebut, yang bersangkutan sudah saya panggil, tapi belum bisa menghadap saya karena sedang bertugas dilapangkan mengejar pelaku kejahatan. Nanti ya biar tidak simpang siur,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Pemberitaan TVRI Sumsel Candra Latuconsina sangat menyayangkan dan mengecam tindakan arogan oknum perwira polisi yang bertugas di Polres OKU tersebut.

“Kami tidak akan tinggal diam, dan akan segera melayangkan surat kepada Kapolda Sumsel selaku atasannya atas perlakuan oknum perwira polisi tersebut terhadap anak buah kami di lapangan,” tegas Candra.

Pasalnya menurut keterangan reporter TVRI Sumsel Muhammad Wiwin, sekitar pukul 02.00 wib Sabtu (23/12) dinihari, dirinya mendapat informasi ada kejadian pembunuhan disebuah kos -kosan di RT 06 Desa Tanjung Baru Kecamatan Baturaja Timur.

Mendengar adanya informasi tersebut dirinya langsung meluncur ke Tempat Kejadian Perkara (TKP)  dan  langsung mengambil gambar lokasi, yang tak jauh dari tempat tinggalnya, “Dilokasi warga sudah ramai, dan awalnya tidak ada yang menghalangi termasuk anggota Polisi yang ada di TKP, ” kata Wiwin pada Sabtu (23/12/2017).

Namun kata Wiwin,  saat dirinya memgambil beberapa gambar di TKP tiba – tiba datang seorang perwira polisi bernama Charli berpangkat IPDA langsung menghampirinya dan menegur dengan nada tinggi.

“Kamu siapa, kamu kalau wartawan konfirmasi dulu ya sama polisi,” tiru Wiwin seraya mengatakan jika saat itu oknum perwira tersebut membentak dan mempermalukan dirinya dihadapan warga sekitar.

Lebih lanjut Wiwin mengatakan jika perlakuan oknum polisi tersebut tidak sampai disitu saja.

Oknum polisi kemudian bertanya keberadaan wartawan selain Wiwin di TKP.

Oknum polisi tersebut bahkan memerintahkan anak buahnya untuk mengambil kamera yang dipegang Wiwin.

“Saat itu, ada tiga orang anggota polisi mendekati saya dan memegang tangan saya untuk mengambil kamera saya. Tapi tetap saya pertahankan karena kamera tersebut adalah aset saya. Kemudian salah satu anggota mengintimidasi saya dengan mengatakan hapusla gambar tersebut secara berulang-ulang,” lanjut Wiwin.

Akhirnya Wiwin meninggalkan lokasi. Secara diam-diam Wiwin kemudian menjauh dari polisi dan langsung mengamankan kameranya.

“Saat saya sudah terpojok saya meng-iyakan perintah polisi tersebut, namun saat polisi lengah saya langsung lari dan mengamankan kamera saya,” lanjutnya

Wiwin juga mengatakan jika kasus ini akan ditindaklanjuti ke jalur hukum.

“Ini akan saya bawa ke jalur hukum, perkara diterima atau tidaknya laporan saya tetap akan saya bawa kasus ini jalur hukum, agar tidak ada lagi oknum-oknum seperti Charli ini bertindak seenaknya saja,” pungkas Wiwin.

TEKS : RELEASE IWO OKU




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *