Perjalanan Sanggarbambu di RJ Katamsi, Mohamad Sobary: Melawan Arus Agak Lebih Indah

YOGYAKARTA | KSOL – Setelah sukses menyelenggarakan Srawung Jogja di rumah joglo tua di tepian pertemuan (tempuran) dua sungai bersejarah: Bedog dan Kalibayem, di usianya yang ke-58 Sanggarbambu kembali menyelenggarakan pameran “Gerakan Kesenian di Tepian Arus” di Galeri R.J. Katamsi ISI Yogyakarta 30 November 2017 – 15 Desember 2017.

Pameran yang melibatkan sekitar 50 karya rupa terdiri dari lukisan, sketsa, karikatur, keramik dan dokumen pribadi sejak awal berdirinya Sanggarbambu dihadiri sejumlah tokoh seniman, satrawan dan budayawan Indonesia.

Tidak hanya lukisan, surat kabar yang pernah diterbitkan Sanggarbambu juga dipamerkan dalam ruang arsip Sanggarbambu di RJ Katamsi. (FOTO KSOL/A.S.ADAM)

Tidak hanya lukisan, surat kabar yang pernah diterbitkan Sanggarbambu juga dipamerkan dalam ruang arsip Sanggarbambu di RJ Katamsi. (FOTO KSOL/A.S.ADAM)

Totok Buchori mengatakan bahwa Sanggarbambu merupakan wadah bagi para seniman dan pada setiap individu justru melawan arus bukan bermain di tepian arus karena satu sama lainnya berbeda dan ingin tampil beda. “Setiap seniman selalu melawan arus.”

“Sanggarbambu melahirkan banyak tokoh, tidak hanya tokoh-tokoh seni rupa maupun  sastra,” katanya.

Ketika di era Soekarno politik memecah Sanggarbambu memilih berteman tidak bermusuhan—yang penting berkesenian—bukan permusuhannya. Hal ini dijelaskan Totok di sela-sela usai pembukaan pameran di RJ Katamsi ISI Yogyakarta, Kamis (30/11/2017).

Menurut Ketua Sanggarbambu Totok Buchori, Sanggarbambu akan selalu bercermin dan merekonstruksi ulang agar selalu menjadi seperti orang yang bijak dan baik.

Seorang anak SD kelas 4 memotret koleksi arsip milik Sanggarbambu yang dipamerkan. (FOTO KSOL/A.S.ADAM)

Salah satu tokoh seni rupa Indonesia Klowor Waljiono dari generasi Sanggarbambu yang mendunia sedang berbincang-bincang dengan teman seniman di ruang kearsipan Sanggarbambu di RJ Katamsi. (FOTO KSOL/A.S.ADAM)

Suasana pameran di RJ Katamsi. (FOTO KSOL/A.S.ADAM)

Pameran yang digagas sebagai bentuk kearsipan dan dokumentasi Sanggarbambu sehingga bisa dijadikan rujukan riset terhadap kesenirupaan di Indonesia menurut Kurator Pameran Suwarno Wisetrotomo merupakan peristiwa penting sehingga dapat melacak kembali sejarah panjang Sanggarbambu.

Menurut Suwarno, Sanggarbambu yang muncul di sela-sela turbolensi politik sosial ekonomi justru berani mengambil posisi. “Saya kira penting untuk kita ketahui apa, mengapa dan bagaimana Sanggarbambu,” katanya.

Sanggarbambu, lanjut Suwarno, memberi pengaruh besar pada perkembangan seni rupa di Yogyakarta, dan juga mewarnai perkembangan di Indonesia karena Sanggarbambu mencapai gayanya. “Corak dekoratif dan linier, misalnya,” ujarnya.

Suwarno menambahkan, pameran ini menjadi penting karena tepat berada di sebuah galeri yang berada di tengah institusi pendidikan tinggi seni rupa. “Mahasiswanya, dosennya, siapa pun mengakses dan memancing untuk menyelediki, meriset, menulis dan menginspirasi,” pungkasnya.

Masyarakat dunia seni rupa Indonesia dapat terinspirasi dan melihat dinamika yang dikembangkan oleh Sanggarbambu, menjadi suatu model yang mungkin bisa dikembangkan untuk kehidupan dunia seni rupa pada masa sekarang juga, pesan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Profesor Agus Burhan kepada Kabar Sumatera.

Mohamad Sobary membuka pameran Sanggarbambu di RJ Katamsi, Kamis (30/11) malam. (FOTO KSOL/A.S.ADAM)

Menurut Prof. Agus Burhan tentang eksistensi dan peran Sanggarbambu menjadi penting karena Sanggarbambu lahir dalam dinamika sosial politik pada tahun 50-an sehingga Sanggarbambu mempunyai eksistensi kuat dan mempunyai sikap berbeda dengan arus politik utama pada masanya.

“Sanggarbambu memang tidak mempunyai afiliasi politik dengan partai-partai yang menguat di masa itu, tetapi di lain pihak Sanggarbambu juga mendukung manifestasi politik,” kata Profesor.

Meski Sanggarbambu pernah terkabar menolak manifes kebudayaan yang sedang dikembangkan di masa itu, namun pada tahun 1963 setelah musyawarah besar Sanggarbambu menyatakan sikapnya kembali mendukung manifestasi politik (manipol) dari Bung Karno pemimpin besar revolusi pada waktu itu.

“Intinya adalah bagaimana Sanggarbambu harus mempunyai komitmen kuat terhadap Pancasila,” ungkap profesor.

Ini, lanjut Profesor, tentu saja memunyai relevansi yang kuat untuk diaktualisasikan kembali di masa sekarang. Menjadi kajian sejarah berbagai macam penelitian yang masih memungkinkan digali untuk berbagai persoalan yang terkait dengan masalah-masalah itu.

Sanggarbambu mempunyai kesadaran kuat untuk bisa hidup dalam dinamika dan menghidupi seniman-seniman yang ada di dalamnya, bahkan menghidupi kesenian yang sedang tumbuh pada waktu itu.

Ada tiga komisariat yang membuat Sanggarbambu terus menyala, yaitu komisariat jiwa yang berada di Yogyakarta, komisariat nafas yang berada di Jakarta, dan komisariat tubuh yang berada di Yogyakarta.

“ini tentu harus bisa didefinisasikan terus menerus bahwa Sanggarbambu pada waktu itu bisa hidup karena prinsip yang dikembangkan oleh tiga komisariat,” kata Profesor.

Kenyataannya pada tahun ke-5 setelah Sanggarbambu berdiri bisa melakukan berbagai aktifitas pameran dan kesenian lainnya. Bahkan dalam rentan waktu pendek mampu berpameran di 26 tempat di Jawa  dan Madura. “ini sangat luar biasa!” ucap rektor ISI Profesor Agus Burhan.

Ia berharap dari perjalanan Sanggarbambu yang dipamerkan menjadi inspirasi bagi pelaku seni di manapun. Bagaimana seniman bisa hidup agar menjadi profesional yang terintergrasi dengan masyarakat maupun kebudayaannya.

Senada dengan kurator pameran Suwarno Wisetrotomo, bahwa Sanggarbambu sebagai Sanggar yang besar dalam perjalannya telah menemukan gayanya sendiri yaitu gaya dekoratif sanggarbambu.

Perlu diketahui, karya-karya Galeri Nasional juga pernah dipamerkan di RJ Katamsi sebagai upaya penyemangat dan inspirasi bagi pelaku seni Indonesia di Yogyakarta.

Budayawan dan mantan pemimpin umum Kantor Berita Antara Mohamad Sobary mengatakan bahwa melawan arus dinilai agak lebih indah.

“Kalau seniman tidak berani melawan arus artinya tidak berani menyindir-nyindir dalam karyanya. Tidak berani menanggung resiko dengan kegetiran hidup sebagai seniman yang selalu tidak ditegur oleh rupiah,” katanya. “Itu pun tidak apa-apa.”

Sobary juga mengatakan bahwa tidak pernah ketelusupan rupiah itu juga tidak apa-apa, sepanjang spirit Sanggarbambu tidak ikut berpesta pora dalam era penuh duit dan pencurian seperti Setya Novanto dan pura-pura sakit itu.

“Kalau Sanggarbambu melihat Setya Novanto sekarang ini tidak mau main dalam arus hanya nepi arus itu artinya you see nothing!” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Setya Novanto harus dilawan, dan Setya Novanto itu bukan pribadi. Itu karakter. Karena Setya Novanto itu banyak sekali jumlahnya. Sobary juga mengatakan di DPR masih sekitar 5 yang sebangsa Setya Novanto.

Sobary juga mengatakan Nasirun adalah mualaf kontemporer. Nasirun memasuki wilayah kontemporer untuk menciptakan tradisi baru. Menurut Sobary Nasirun tidak pernah meninggalkan tradisi, tidak pernah meninggalkan apa yang menjadi milik masa lalu.

“Karena definisi dia itu definisi antropologis, jadi Nasirun itu pulang ke masa lalu,” kata Sobary.

Selama pameran berlangsung juga bakal ada Seminar diselenggarakan pada 7 Desember 2017 pada pukul 09.00-12.00 WIB menghadirkan pembicara Danarto, Totok Buchori dan Suwarno Wisetrotomo. Sedangkan workshop menong dan topeng kertas yang akan diselenggarakan 12 Desember 2017 pukul 09.00-12.00 WIB.

TEKS : A.S. ADAM




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com