Sanggarbambu Gerakan Kesenian di Tepian Arus

YOGYAKARTA | KSOL – Satu kalimat singkat, padat, jelas, diucapkan presiden Indonesia pertama Soekarno terhadap Sanggarbambu karena memilih untuk tidak berpolitik. “Apa yang telah dilakukan Sanggarbambu sudah benar!”

Sanggarbambu lahir ketika arus besar gerakan budaya secara masif dan liar berkesan membuang makna kesenian yang sesungguhnya. Itulah mengapa pameran ini bertajuk “Gerakan Kesenian di Tepian Arus”.

Keluarga Sanggarbambu foto bersama ibu Yani tahun 1966, tampak Sunarto Pr pendiri Sanggarbambu duduk memangku Irah Banuboro kecil bersebelahan dengan ibu Yani. Foto koleksi Hardiono/Sanggarbambu. (FOTO : KSOL/REPRO/A.S. ADAM)

Galeri R.J. Katamsi Institut Seni Indonesia kembali menyelenggarakan pameran bertajuk “Gerakan Kesenian di Tepian Arus”sejarah perjalanan Sanggarbambu. Acara yang akan berlangsung tanggal 30 November 2017 melibatkan sekitar 50 karya rupa terdiri dari lukisan, sketsa, karikatur dan keramik yang dibuat sejak awal berdirinya Sanggarbambu.

Pemasangan patung Gatot Subroto oleh Sanggarbambudi markas RPKAD Cjantung Jakarta. Foto koleksi Hardiono/Sanggarbambu. (FOTO KSOL/REPRO/A.S. ADAM)

Menurut pihak Katamsi pameran ini memang digagas sebagai bentuk kearsipan dan dokumentasi Sanggarbambu sehingga bisa dijadikan rujukan riset terhadap kesenirupaan di Indonesia.

Perjalanan Sanggarbambu tidak lepas dari peran masyarakat meskipun hanya sebatas menyaksikan. Jejak rekam Sanggarbambu menemui banyak peristiwa meskipun kadang tidak tercatat dan tidak terdokumentasi dengan baik. Padahal sebuah peristiwa sangat penting direkam walaupun dalam bentuk sebuah karya.

Ketua Sanggarbambu, Totok Buchori, menyambut baik gagasan dan ajakan R.J. Katamsi dalam upaya mengarsipkan karya-karya seniman Sanggarsambu dalam pameran.

Dalam pameran kali ini meski pihak penyelenggara telah memilih dan memilah karya-karya sekaligus mencatat nama-nama orang Sanggarbambu, tentu yang tercatat itu karena intens terhadap kesenirupaannya.

Tokoh-tokoh seni rupa Sanggarbambu menjadi catatan penting dalam perjalanan kesenirupaan di Indonesia sebab telah banyak membawa pengaruh besar terhadap penerusnya. Sunarto Pr bersaudara, Danarto, Syahwil, Mulyadi W, Handogo Sukarno, Wardoyo, Hardiyono, Muryoto Hartoyo, Indros, Mh. Iskan, Isnaini MH, Titis Jabarudin, Y Eka Supriyadi, Sitiadiyati Subangun, Sudarisman, Ivan Sagita, Dadang Christanto, Subandi Gianto, Nasirun, Klowor Waljiono, Galuh Taji Malela, dan masih banyak lagi deretan perupa Sanggarbambu tersebar dan mendunia.

Nama-nama tidak asing seperti FX Sutopo, Putu Wijaya, Kirjomulyo, Linus Suryadi AG, Arifin C Noer, dan Ebit G Ade, meski kerja kesenimanannya memilih tidak dalam kesenirupaan namun keterlibatannya dalam perjalanan panjang bersama Sanggarbambu tidak dilupakan.

Barangkali setelah pameran ini terselenggara, tambah Totok, ke depan pihak penyelenggara bisa kembali melakukan hal yang sama dengan konten berbeda. “Misalnya sejarah perjalanan Sanggarbambu dilihat dari teater, sastra dan musik. Tentu ini menjadi semakin menarik.”

Jika belakangan konsep pemerintah Indonesia menekankan kepada rasa Nasionalisme dan Bhineka Tunggal Ika, justru Sanggarbambu telah lebih dahulu mewujudkannya. Ini tidak lepas dari kesadaran seluruh anggota, kerabat dan simpatisan Sanggarbambu berupaya mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.

“Pameran ini sekaligus mendokumentasikan perjalanan panjang Sanggarbambu dalam format yang berbeda,” lanjut Totok, salah satu tokoh kesenirupaan di Indonesia.

Proyek monumen makam trah keluarga Presiden Indonesia kedua di Mangadeg, Tawangmangu, Surakarta, Jawa Tengah. Foto koleksi Hardiono/Sanggarbambu. (FOTO KSOL/REPRO/A.S. ADAM)

Meski banyak nama-nama yang tidak tercantum dalam daftar pameran, namun tokoh-tokoh seni dan budaya Indonesia yang lahir dari Sanggarbambu tetap menjadi keluarga besar.

Meski kurator membaca Sanggarbambu sebagai kelompok di tepian arus, tetapi banyak tokoh-tokoh kontemporer seni rupa yang muncul dari sana.

Proyek monumen makam trah keluarga Presiden Indonesia kedua di Mangadeg, Tawangmangu, Surakarta, Jawa Tengah. Foto koleksi Hardiono/Sanggarbambu. (FOTO KSOL/REPRO/A.S. ADAM)

Menurut Asisten Kurator Kumbo Adiguno, bahwa Sanggarbambu merupakan komunitas kesenian yang unik. “Danarto sendiri menjadi eksponen gerakan seni rupa baru,” kata Kumbo.

Selain lukisan karya-karya lama para angkatan pertama Sanggarbambu, juga akan dipamerkan sejumlah foto keramik koleksi dari Museum Keramik dan Seni Rupa Fatahilah.

“Orientasi dari pameran ini adalah perjalanan Sanggarbambu satu-satunya sanggar di Indonesia yang masih ada sampai kini sejak 1959,” kata Kumbo.

Dari pantauan Kabar Sumatera selain pameran seni rupa, juga akan diseleggarakan diskusi seni pada tanggal 7 Desember 2017 menghadirkan salah satu tokoh pendiri Sanggarbambu Danarto, Totok Buchori (Ketua Sanggarbambu), Suwarno Wisetrotomo dan Anusapati (kurator). Terdapat pula workshop topeng kertas yang bakal diadakan tanggal 12 Desember 2017.

 TEKS: A.S. ADAM




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *