Jalan di bawah Fly Over Janti ditutup, pedagang di Yogyakarta merugi

YOGYAKARTA | KSOL — Akibat tidak berfungsinya akses jalan yang melintas rel kereta api,  warga di sekitar lokasi mengeluhkan penutupan jalan di bawah jembatan layang Janti.

Banyak pengendara yang tidak tahu-menahu perihal penutupan jalan itu sehingga ketika melewati jalan bawah jembatan layang Janti harus berputar arah. Sementara sebagian pengendara lain berusaha mencari jalan alternatif.

Desi (27) penjual angkringan di sebelah timur pintu penjagaan rel kereta mengaku jualannya sepi setelah pemasangan rel besi penutup jalan yang berada di bawah jembatan layang Janti.

6. Imbauan peringatan saat menyeberang perlintasan kereta api, Jum’at (10/11/2017) sore. (KASOL/A.S. ADAM)

“Enak masih ketika belum ditutup mas,” kata Desi terlihat sibuk membenahi jualannya.

Kata dia sebelum jalan ditutup banyak orang datang ke angkringannya, namun setelah penutupan jalan itu omzetnya berkurang.

Desi juga tidak mengetahui soal rencana penutupan jalan itu. Kata dia penutupan jalan itu dilakukan oleh pihak pemerintah, namun soal kejelasannya ia tidak tahu pasti.

8. Pos jaga yang kosong tidak tempati, Jum’at (10/11/2017) sore. (KASOL/A.S. ADAM)

Sementara pos penjagaan penutup pintu rel kereta api terlihat berantakan dan tidak berpenghuni. Kaca juga berserakan seperti terkena hantaman benda keras.

Begitu juga Destri (31) warga sekitar Janti yang sudah lebih setahun berjualan di sekitar jalan jembatan layang Janti. Ia mengaku merugi omsetnya menurun drastis. Biasanya dalam sehari bisa habis puluhan gelas es dogan, namun sekarang sepuluh pun tak sampai.

“Ya sepi mas, biasanya tidak seperti ini, jualan bisa laku banyak,” katanya, Jum’at (10/11/2017) sore.

Ditemani suaminya, Destri bersabar menunggu pengendara yang berhenti dan sesekali mampir membeli es dogannya.

10. Sebelum adanya penutupan jalan, tempat ini ramai kendaraan sebagai jalan alternatif ke segala arah di dalam dan luar kota. (KASOL/A.S. ADAM)

Dirinya tahu jika sudah ada imbauan penutupan jalan melalui spanduk bentang yang dipasang di sekitar jembatan layang. Meski begitu Destri mengaku kecewa karena terkesan menghilangkan mata pencaharian membuat warga.

“Ya tahu mas, tapi banyak warga yang tidak setuju, bahkan sempat protes tapi tetap saja nihil,” katanya sambil menunjuk spanduk di bawah jembatan layang.

Aji (28) cukup kesulitan wara-wiri melompat besi untuk bisa mencapai pangkalan gas di selatan rel kereta api. Warga Janti ini juga mengaku was-was jika harus meninggalkan kendaraanya di sekitar rel saat membeli gas di toko seberang rel yang dipagari tumpukan rel besi.

“Ya repot mas, biasanya kendaraan bisa langsung sampai toko,” katanya sambil menenteng dua gas 3 kilogram.

3. Karena tidak tahu-menahu perihal penutupan jalan, banyak pengendara yang harus memutar arah saat melintas jalan di bawah jembatan layang Janti yang biasanya digunakan aktifitas lau-lintas. (KASOL/A.S. ADAM)

Ia juga berjualan panganan di sekitar jembatan layang Janti. Aji bahkan harus memutar otak agar dagangannya laku terjual. Ia juga terkena imbas penutupan jalan meskipun lapaknya agak jauh dari lokasi penutupan, di sebelah utara mendekati pesimpangan jalan utama.

Sampai berita ini ditulis, Kabar Sumatera belum bisa menemui pihak terkait untuk mengonfirmasi penutupan jalan tersebut. Selain membahayakan karena tidak ada tanda peringatan, di lokasi juga tidak terlihat petugas yang berjaga, Kabar Sumatera hanya menemui ruang pos jaga yang berantakan dan berserakan pecahan kaca.

TEKS : A.S. ADAM  | EDITOR : IMRON SUPRIYADI 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *