Sumsel pasar potensial bagi bandar narkoba, 277 kg ganja disita

PALEMBANG  |  KSOL– Provinsi Sumsel saat ini tidak hanya sebagai lintasan masuknya barang-barang terlarang narkoba, akan tetapi juga sebagai pasar yang cukup potensial bagi bandar narkoba untuk memasarkan barang haramnya. Hal itu dikatakan  Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Pol Zulkarnain,  gelar perkara di Mapolda Sumsel, Rabu (20/9).

Oleh sebab itu, menurut Kapolda, sejak dirinya dilantik menjadi Kapolda Sumsel, menegaskan kepada anggotanya untuk berkomitmen dan konsisten menyikat habis pelaku pengedar maupun bandar narkoba yang ada di Sumsel.

Keseriusan Kapolda ini terbukti melalui, Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel menggagalkan pengiriman ganja seberat 277 kilogram dari Aceh. Pengiriman tersebut, baru saja tiba di Provinsi Sumsel.

GANJA — Suasana gelar perkara di Mapolda Sumsel, usai menggagalkan peredaran ganja seberat 227 Kg, Rabu (20/9/2017) (Foto.Google Image)

Sejumlah barang haram itu, berhasil diamankan Selasa (20/9/2017) malam di sebuah jasa pengiriman barang Indah Cargo, Sungai Lilin, Kabupaten Banyuasin, Sumsel.

“Jadi dari hasil penangkapan ini baru hal yang kecil dilakukan anggota kita. Kedepan kami akan tingkatkan lagi kinerja khusus membasmi peredaran narkoba di Sumsel,” katanya.

Selain berhasil mengamankan barang bukti ganja, petugas juga menangkap dua pelaku, yang diduga sebagai orang yang akan menerima kiriman ganja dari Aceh.

Kedua tersangka tersebut yakni, Kodri (50) dan Soliham (44) keduanya warga Kecamatan Keluang, Kabupaten Musi Banyuasin. “Atas perbuatan kedua tersangka ini akan dikenakan pasal 114 dan 132, ancaman hukuman seumur hidup atau paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun penjara,” katanya.

Sementara itu, Kodri, salah satu pelaku mengatakan, ganja tersebut dari Aceh dan transit di Sumsel sebelum dikirimkan lagi ke Provinsi lainnya.  Ganja tersebut dikirim melalui Haryono yang rencananya akan didistribusikan ke Lampung.

“Kami ngambil ganja itu di full Indah Cargo di kawasan Sungai Lilin dengan dijanjikan upah Rp10 Juta tapi kami keburu ditangkap Polisi,” pungkasnya.

TEKS : T PAMUNGKAS  |  EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *