Amanat 5 September 1945, peristiwa istimewa Yogyakarta

YOGYAKARTA | KSOL – Gelar Seni Revitalisasi Visi Kebangsaan Amanat, Selasa (5/10/2017) malam, di Pendapa Gamelan jalan Gamelan Kidul Panembahan Yogyakarta dihadiri sejumlah tokoh penting.

Pendapa yang merupakan bangunan cagar budaya memiliki nilai sejarah di masa revolusi kemerdekaan tahun 1945-1949 itu dulunya merupakan warung sate “Puas” yang menjadi tempat berkumpul sekaligus markas para pejuang gerilya.

Budayawan Mustofa W. Hasyim penggagas Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Yogyakarta membacakan karya puisinya mengkritisi persoalan hidup bernegara, Selasa (5/9/2017) malam. (FOTO.DOK.KSOL/A.S.ADAM)

Amanat 5 September 1945 adalah peristiwa ketika Sri Sultan HB IX dan Sri Paduka Pakualam VIII bersama-sama mengeluarkan amanat yang menyatakan Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Bergabungnya dua entitas kerajaan yang jauh sebelumnya telah memiliki kedaulatan politik dan keberadaannya diakui dunia internasional berdampak sangat penting bagi keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baru saja diproklamirkan.

Atas dasar amanat itu Presiden Sukarno mengeluarkan Piagam Kedudukan yang berisikan pengakuan Negara atas hak privelege atau status keistimewaan bagi Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Kita punya kewajian untuk melestarikan dan menjaga keistimewaan Yogyakarta,” kata GKR Mangkubumi kepada Kabar Sumatera.

Ia justru kaget karena acara yang katanya dadakan itu dihadiri tokoh-tokoh kebangsaan dan sangat berkesan karena secara bersama-sama dapat mengenang masa-masa peristiwa 5 September sekaligus meneruskan perjuangan yang sudah diamanatkan oleh para tokoh pejuangan.

GKR Mangkubumi Pembayun berharap keistimewaan tidak hanya meliputi segala bidang, melainkan juga masyarakat Yogyakarta adalah sebenar-sebenarnya istimewa.

“Cara merevitalisasi itu dengan memberikan kekuatan,” kata Mahfud MD. “Bagaimana kita tertib hidup bernegara, tertib hidup dengan benar.”

Para tamu yang hadir dalam acara peringatan Amanat 5 September 1945 berdiri menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya, Selasa (5/9) malam. (FOTO.DOK.KSOL/A.S.ADAM)

Di depan tamu undangan dan masyarakat Yogyakarta, Mahfud mengaku datang karena sebagai penikmat acara dan bukan diundang untuk berorasi dalam kolaborasi Gelar Seni Revitalisasi Visi Kebangsaan Amanat.

Indonesia merupakan satu-satunya negara yang membangun kemerdekaannya dengan cara mengusir penjajah. Berbeda dengan Amerika dan Australia. Menurut Mahfud kedua negara tersebut tidak mempunyai kemerdekaan karena adalah negara kependudukan.

Tekait peristiwa Amanat 5 September 1945, meski Yogyakarta bisa membuat negara sendiri namun Sri Sultan Hamengku Buwono ke-9 memilih menyatakan diri bergabung dengan Indonesia.

“Mari kita jaga kehebatan-kehebatan luar biasa itu!” tegas Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD.

Untuk memaknai peristiwa bersejarah Amanat 5 September 1945, sejumlah tokoh seni dan budaya seperti budayawan Mustofa W. Hasyim, dalang Ki Catur Benyek Kuncoro, pesinden Sunyahni, pelukis Nasirun, Komandan Korem 072/PMK Brigjend TNI Fajar Setiawan, dan sejumlah tokoh lainnya, berkolaborasi dalam gelaran seni musik keroncong, pembacaan puisi, geguritan, melukis serta orasi kebangsaan.

Di halaman pendapa hampir semua hidangan kuliner khas nuansa ke-Jogja-an seperti angkringan, bakmi jawa, sate kambing dan wedang ronde dihadirkan untuk masyarakat agar serasa berada pada peristiwa masa lalu perjuangan melawan penjajah.

TEKS/FOTO : A.S ADAM | YOGYAKARTA




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *