Balai Bahasa Sumsel Raih terbaik 3 di 3 Lomba Pekan Sastra 2017 Padang

PADANG  | KSOL – Usai sudah perjuangan para peserta pada kompetisi di Pekan Sastra 2017 Padang Sumbar. Balai Bahasa Sumsel meraih prestasi terbaik 3 di 3 cabang seni dari 6 tangkai seni yang dilombakan. Sementara 3 lomba lainnya (lomba baca cerita rakyat, berdendang dan berbalas pantun) masih dalam cita-cita.

Setelah sebelumnya Musikalisasi puisi di bawah asuhan Muhammad Guwanda, S.Pd. M.Sn, meraih terbaik 3, menyusul kemudian dua tangkai lomba lainnya, mendapat posisi terbaik tiga, yaitu; lomba mendongeng tingkat guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Sumatera atas nama Ninuk Sundari dan lomba baca puisi tingkat SLTP atas nama Raisya Adisty Firdaus.

Biasa mendongeng itu luar biasa

Adalah Ninuk Sundari, sejak awal menjelang pentas matanya serius menatap sejumlah lawan tanding yang sudah lebih dulu naik ke panggung. Ninuk baru bangkit dari duduknya menjelang ia tampil.

Selebihnya, Ninuk duduk serius diantara para pendukung dari Balai Bahasa Sumsel dengan terus menyakinakn diri untuk tampil terbaik dalam ajang lomba itu. Sungguh, persaingan yang cukup ketat di ajang lomba mendongeng di tingkat guru PAUD se-Sumatera.

MENDONGENG — Ninuk Sundari, peserta wakil balai Bahasa Sumsel saat tampil mendongeng pada Pekan Sastra 2017 Padang, Selasa 5 September 2017 (Foto.Dok.Balai Bahasa Sumsel)

Namun, dengan property yang minimalis, putri dari pasangan Rustam Sukardi dan Sulastri ini tampil pede (percaya diri).  Wanita yang memiliki hobi bercerita ini kemudian membawa sebuah boneka dan media gambar ke atas panggung.

Kedua property itu ia letakkan diatas salah satu dua kursi hitam sebagai level pentasnya. Guru PAUD Aisyah di Kabupaten Musi Banyuasin ini, secara perlahan membuka dongeng yang berkisah tentang : Persahabatan Ikan Bujuk dan Tupai.

Ninuk, dengan piawai menggerakkan boneka dan gambar sebagai media komunikasi dalam mendongeng hingga dewan juri memberi tanda akhir dari kisah yang ia ceritakan.

Rasa syukur ia ucapkan dalam hatinya, ketika dewan juri menempatkan wanita kelahiran Palembang 23 November 1984 sebagai terbaik tiga.

Takdir sudah menentukan posisi ketiga  bagi wakil Sumsel. Tak ada yang bisa ditolak kecuali hanya kompromi dengan takdir. Wanita berdarah Kota Malang ini harus mengakui keunggulan pedongeng dari Bengkulu (terbaik 1) dan Jambi (terbaik 2). Namun rasa syukur itu tetap saja tersemburat dalam diri wanita peraih juara 2 lomba dongeng yang pernah di gelar Balai Bahasa Sumsel.

“Alhamdulillah senang. Harapannya setelah menang, para pemenang bukan hanya menjadi juara di panggung cerita tapi bisa memenangkan hati anak-anak Indonesia. Bisa mendongeng itu biasa, tapi biasa mendongeng itu luar biasa,” ujar  putri ke 7 dari 8 bersaudara ini, saat dimintai komentarnya melalui WA, Selasa (5/9/2019).

Tak menyangka terbaik tiga

Hal sama juga dirasakan Raisya Adisty Firdaus. Tak terbayang bila putri dari pasangan Aneka Firdaus, ST, MT dan Rika Yolanda, S.T ini dapat meraih terbaik 3 dalam lomba baca puisi tingkat SLTP pada  event ini. Dua yang diunggulkan oleh dewan juri diatas Adis adalah peserta dari Sumatera Utara (terbaik 1) dan Babel (terbaik 2).

“Ndak nyangka kalau dapat, sebab lawan lainnya bacanya juga bagus-bagus,” ujar Adis – panggilan akrab Raisya Adisty Firdaus.

BACA PUISI — Raisya Adisty Firdaus, saat tampil baca puisi pada Pekan Sastra 2017 di Padang, Selasa, 5 September 2017 (Foto.Dok.Balai Bahasa Sumsel)

Bagi Adis, prestasi ini menjadi motivasi, agar siswi SMP Negeri 1 Palembang ini dapat tampil lebih baik dari sebelumnya. Ke depan, putri kelahiran Palembang 2 Desember 2004 ini berharap, setelah dari Padang ada lembaga yang bisa membina dirinya dalam bidang sastra.

Harapan ini disampaikan Rika Yolanda  yang  mendampingi Adis ketika dibincangi KabarSumatera.com pada Pekan Sastra 2017 di Ball Room Hotel Inna Padang, Selasa (5/9/2019).

“Kalau sastra ini tidak seperti menyanyi, Pak. Kalau nyanyi kan ada lembaga atau yang membuka les khusus menyanyi. Kalau sastra atau puisi kan tidak ada. Jadi nanti setelah pulang, kita berharap ada lembaga yang mau melatih Adis secara rutin,” harap Rika Yolanda atas prestasi putrinya.

Dua potensi yang mengalir dalam diri  Adis (bernyanyi dan membaca puisi) bukan datang begitu saja. Sebab sejak kelas IV Sekolah Dasar (SD), menurut Rika, putrinya sudah sering belajar ikut lomba, baik menyanyi dan puisi.

“Sejak kelas empat SD, Adis sudah ikut lomba seni, kadang lomba nyanyi kadang juga puisi. Nanti tanggal 24 September Adis ke Surabaya ikut lomba menyanyi tingkat nasional mewakili Sumatera Selatan di FLS2N,” jelas Rika yang mendampingi Adis dalam Pekan Sastra 2017 ini.

Mengenang perjalanannya lomba membaca puisi, Adis yang bercita-cita menjadi dokter gigi ini dimulai sejak November 2014. Kala itu Adis ikut dalam lomba baca puisi di SMP Xaverius Maria Palembang. “Sejak itu, Adis mulai sering ikut lomba. Ya, modalnya berani saja. Jadi sekarang kalau tampil sudah terbiasa,” ujar Rika saat dibincangi KabarSumatera.com.

Diantara 6 cabang lomba seni di Pekan Sastra 2017, Sumsel mendapat tiga prestasi dengan masing-masing posisi terbaik tiga. Sementara 3 cabang seni lainnya, (Lomba membaca cerita rakyat, berdendang dam berbalas pantun, Sumsel harus mengakui keunggulan lawan.

“Kami sudah tampil maksimal, kalau belum memenuhi target ya kami minta maaf. Semoga ini jadi motivasi bagi kami untuk tampil lebih baik lagi ke depannya,” ujar Agung Saputra, peserta lomba berbalas pantun yang sudah tersisih di babak penyisihan.

TEKS : IMRON SUPRIYADI |  FOTO : DOK. BALAI BAHASA SUMSEL



4 thoughts on “Balai Bahasa Sumsel Raih terbaik 3 di 3 Lomba Pekan Sastra 2017 Padang

  1. supris yudianto

    Tetap semangat adek2, kalian sudah menampilkan yang terbaik…..
    Kemenangan bukanlah tujuan utama, proses pembelajaran dan pengalaman itu lebih penting…..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *