Hari ke-2 Pekan Sastra 2017, Musikalisasi Puisi Sumsel targetkan masuk 3 Besar

PADANG | KSOL –  Pekan Sastra 2017 di Padang mamasuki hari ke-2. Agenda acaranya, selain temu sastrawan se-Sumatera, juga menampilkan 11 Tim Muskalisasi Puisi (MP) perwakilan dari 10 Balai/Kantor  Bahasa se-Sumatera.

Tim MP utusan Sumsel saat tampil dengan nomor urut 8, berhasil memukau penonton di Hotel Grand Inna Padang Sumbar, Senin (4/9/2017) malam, pukul 22.30 WIB.

Di bawah pelatih dan instruktur musik, Muhammad Guwanda, S.Pd, M.Sn,  Tim MP Sumsel menggarap dua puisi (wajib dan pilihan) dengan nuansa etnik melayu, yang sejak awal sangat terasa.

Muhammad Guwanda, S.Pd, M.Sn, Pelatih dan instruktur musik Tim Musikalisasi Puisi Sumsel (Foto.Dok.Pribadi/Wanda)

Enam personil yang masih duduk di bangku SMA Negeri 17 Palembang ini, dengan apik dan dinamis mengolah teks puisi wajib karya penyair Sumbar, Iyut Fitra bartajuk “Merah Putih” dan puisi pilihan “Aku masih bertanya” karya penyair Sumsel,  Syamsul Noor Al Sadjidi.

Kecuali vokalis (Kessya Setin Manalu), sejumlah alat musik nyaris dikuasai oleh para personil, yaitu; Yohana Theresia Gea (Barchime, maracas variasi dan terbangan), Charista Eforina W (terbangan, bellira, bedug dan simbal), Ruben Elvandro Gea (Gitar dan backing vocal), Riansyah Yoga Purnama (cajon dan djimbe) dan Rizma Chaerani H.P (accordion dan terbangan).

Meski masih ada kekurangan, namun Wanda—panggilan akrab Muhammad Guwanda, sang palatih terlihat puas melihat tim-nya tampil maksimal. Sesekali, Wanda terlihat menganggukkan-anggukkan kepalanya pertanda mendapat feel terhadap anak asuhnya yang sedang tampil di panggung.

Hasil maksimal  Tim MP yang menjadi utusan Balai Bahasa Sumsel, juga mengalami hambatan saat latihan. Menurut Wanda, selain waktu latihan dari skeolah yang terbatas, Wanda juga berhadapan dengan personil yang belum memiliki rasa musikal.

“Kita yang agak sedikit menghambat itu ketika saya menemukan personil yang belum memiliki rasa musical. Ini yang membutuhkan perhatian serius. Kalau tidak punya rasa musical ini tidak ada soul of time, di dalam rasa personil tadi tidak memahami ketukan musik dalam rasa, sehingga kita harus mengajari dengan menghitung ketukan,” ujarnya, saat dibincangi usai penampilan Tim MP Sumsel, tadi malam, Senin (4/9/2017).

TIM MP SUMSEL — Tim Musikalisasi Puisi (MP) perwakilan Balai Bahasa Sumsel sedang tampil pada Pekan Sastra 2017 di Ball Room Hotel Grand Inna Padang, Sumbar, 4 September 2017 (Foto.Dok.KSOL/Agung)

Jalan keluar untuk mengatasi hal itu, menurut Wanda dengan menyodorkan alat musik yang tidak bertempo. “Kita beri dia alat musik yang tidak bertempo, misalnya; barchime, rainstick atau maracas. Ini sebagai latihan agar yang bersangkutan memiliki rasa musikal,” ujar Pria kelahiran Pagaraalam, 21 Maret 1989.

Ditanya tentang target, Wanda optimis timnya akan masuk 3 besar. “Insya Allah kita masuk tiga besar. Insya Allah, saya optimis,” katanya.

Namun demikian, Wanda mengakui beberapa tim MP dari provinsi lain juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun ada beberapa sisi yang dimiliki tim MP Sumsel, tetapi tidak muncul di tim lain. “Secara umum bagus, terutama yang tampil di malam ini. Semua ada kelebihan dan kekurangan. Tapi melihat tim Sumsel, Insya Allah kita masuk 3 besar,” ujarnya optimis.

Interpretasi yang lemah

Sementara itu, Nina Rianti, salah satu dewan juri MP menilai, penampilan masing-masing tim sangat variatif. Dibanding tahun sebelumnya, menurut pegiat seni di Kelompok Musik Pentas Sakral Padang ini ada penurunan garapan, terutama daya interpretasi masing-masing tim MP.

Nina Rianti, salah satu dewan juri MP pada Pekan Sastra 2017 (Foto.Dok.KSOL/Agung)

Menurutnya, hal ini terjadi karena setiap tahun masing-masing tim tingkat SMA selalu berganti-ganti, sehingga kesannya dipaksakan. Seharusnya, menurut Nina, sejak anak masuk di SMA duduk kelas X, sekolah sudah menelusuri minat dan bakat, untuk persiapan event seperti Pekan Sastra.

“Sejak awal masuk, setiap murid sudah dipilih dan ada proses latihan, sehingga saat lomba sudah siap. Tapi kalau mendadak, kesannya dipaksakan,” ujarnya.

Senada dengan Nina, secara terpisah dewan juri lainnya, Iyut Fitra, Penyair Sumbar menilai secara khusus sisi kelemahan di hampir semua tim pada tingkat interpretasi (penasiran) terhadap teks puisi. Sementara dalam musikalisasi puisi, menurut Iyut interpretasi menjadi hal yang sangat penting. Sebab daya interpretasi sangat erat hubungannya dengan garapan dan kompisisi musiknya.

“Kalau interpretasinya tidak selesai, atau tidak dipahami oleh tim, dengan sendirinya nilai-nilai yang terkandung dalam puisi juga tidak maksimal. Otomatis pesan dari puisi itu juga tidak tercapai,” ujarnya saat ditemui usai acara, di ruang samping Ball Room Hotel Grand Inna Padang, Senin (4/9/2019) malam.

Iyut mengakui untuk membangkitkan daya interpretasi bagi anak SMA terhadap muatan puisi membutuhkan binaan serius, apalagi mereka harus mencari makna kedalaman puisi. “Untuk daya interpretasi ini terutama di kalangan anak SMA memang butuh energi ekstra. Supaya mereka mengetahui puisi ini apa dan mau diapakan, sehingga anak-anak bisa menemukan ruhnya puisi. Kalau tidak ketemu, nanti pada garapan musiknya juga mencari-cari, sebab isi puisinya juga masih dicari-cari. Oleh sebab itu memahami puisi sangat penting sebelum menggapa musiknya,” ujarnya.

Iyut Fitra, Penyair Sumbar (Foto.Antara)

Terhadap variasi musikalisasi puisi yang dibaca dan dinyanyikan, Iyut menilai  di Indonesia masih sangat banyak tafsir, apakah musikalisasi puisi itu dibacakan atau dinyanyikan. Namun benang merahnya, menurut Iyut puisi baik dinyanyikan atau dibacakan tetap saja mengandung unsur musikaltas sendiri yang tidak bisa dihilangkan. “Tanpa musik sekalipun, puisi yang dibacakan tetap saja ada unsur musikalitas,” tegasnya.

Namun menurut Iyut, bila kemudian sebuah puisi terlalu banyak dibacakan, ada dugaan personil yang menggarap sedang gagap mencari makna puisi dalam musik. Ketika satu bait puisi dibacakan, menurut Iyut bisa memperkuat pesan puisi, atau sebaliknya akan sebaliknya bisa memperlemah. “Saat puisi yang dipadu dengan musik, lalu ada bait tertentu yang dibacakan seharusnya memperkuat pesan dari puisi, bukan memperlemah,” tambahnya.

Melalui event Pekan Sastra 2017, Iyut berharap ke depan potensi anak sekolah, terutama dalam bidang sastra bukan hanya Balai Bahasa saja yang  mengawal tetapi juga lembaga lain. Sebab menurut Iyut, anak sekolah memiliki masa perodisasi di sekolah sehingga diperlukan keberlanjutan pembinaan.

Menurutnya, usai sekolah sebaiknya potensi ini disalurkan melalui wadah komunitas. “Kalau mereka masuk komunitas, akan menjaga intensitas kreatifitas meteka, sehingga potensi juga akan tergali,” harapnya.**

TEKS : IMRON SUPRIYADI | FOTO :  DOK.KSOL/AGUNG




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *