Kampung Kapiten Palembang : Kesaksian Kejayaan Kerajaan Maritim Kawasan Asia Tenggara.

KSOL — Bila kita melancong ke Palembang, sempatkan untuk berkunjung ke Kampung Kapiten. Lokasi ini menjadi salah satu obyek wisata sejarah di Palembang, yang banyak dikunjungi  para  wisatawan domestik dan asing.

Tapi sebelum kita berkeliling Palembang, perlu dipersiapkan beberapa hal. Diantaranya, tenaga kita harus yang prima. Sebab, selain Kampung Kapiten, di Palembang sangat banyak obyek wisata lain yang harus kita kunjungi.

Ada Pulo Kemaro, Masjid Agung Palembang, Makam Kiai Marogan, Museum Balapura Dewa, Bukit Siguntang, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Taman Hutan Punti Kayu dan masih banyak lagi tempat wisata yang bisa membuat kita fresh setelah bekerja satu pekan.

Kampung Kapitan sebelum renovasi (Foto.Google Image)

Makanya, sebelum kita berjalan-jalan ke berbagai obyek wisata di Palembang persiapkan diri tenaga yang oke. Atau kalau perlu minum sumplemen penambah daya tahan tubuh, supaya saat kita bersantai ria di Palembang badan tidak lesu, lunglai dan letoi.

Bagi keluarga yang mempunyai anak kecil, bayi mislanya, sudah pasti harus mempersiapkan perlengkapan si baby.

Misalnya, untuk pelindung dingin perlu kaos kaki ADIDAS Booties Baby.

Satu hal lain yang tak kalah pentingnya adalah membawa kamera.  Merknya apa saja. Atau boleh kita pilihkan yang harganya terjangkau. Misalnya NIKON-Coolpix-A100-Black, atau kamera yang cassingnya bermotif  warna-warni, seperti, NIKON Coolpix W100 – Tribal, atau bisa juga membawa handycam PANASONIC-HD-Camcorder. Minimal, untuk bukti perjalanan, kita bisa juga menggunakan handphone Smartphone atau gadget.

Tapi  dari sekian banyak pengunjung ada juga yang dengan sengaja membawa kamera  handycamp profesional atau PANASONIC Camcorder.

Setelah semuanya sipa, baru kita akan berjalan-jalan ke Kampung Patitan Palembang. Nah, kalau berbincang tentang Kapmung Kapitan, tak lepas dari Kemaharajaan Sriwijaya, yang pernah berjaya di abad ke VII sampai VIII Masehi.

Kerajaan maritim, yang diklaim berpusat di Palembang ini menjadi salah satu pusat perdagangan di kawasan Asia Tenggara.

Jejak sejarah kejayaan lalu lintas perdagangan di Palembang inilah yang kemudin rekam jejaknya bisa terlihat dari suasana di perkampungan tua : diantaranya Kampung Kapitan.

Informasi yang dihimpun Kabar Sumatera dari berbagai sumber, Kampung Kapitan adalah bagian dari peradaban Tionghoa di Palembang. Namun sayang, jejak peradaban ini, nyaris punah tergusur zaman.

Tidak diketahui persis, kapan perkampungan tersebut mulai dibangun. Namun Indonesia Travel menyebut, sejarah Kampung Kapitan ini berawal dari kedatangan Perwira Dinasti Ming,  Tjoa singgah dan menetap di Palembang pada abad ke XIV.

Pemerintahan Kolonial Belanda, memberdayakan tenaga masyarakat Tionghoa yang menetap di Palembang untuk pengatur kawasan pinggiran Sungai Musi yang berada di Seberang Ulu.

Kampung Kapitan setelah renovasi (Foto. Google Image)

Oey Eng Sui,  salah satu warga Kampung Kapitan mengaku Kampung Kapitan adalah perkampungan awal masyarakat Tionghoa di Palembang.  Perkampungan ini pun, menjadi pusat masyarakat Tionghoa di kota empek-empek saat itu.

“Dari silsilah Kapten Tjoa Ham Him, kampung ini sudah ada sejak tahun 1850. Temenggung TJua Ham Hin, adalah generasi awal dari leluluhur kami di kampung ini,”sebut Oey beberapa waktu lalu.

Oey sendiri, adalah generasi kesepuluh dari silsilah Kapten Tjoa Ham Him. Awalnya Kampung Kapitan, mempunyai luas 20 hektar dengan tiga rumah besar yang berada di dalam perkampungan tersebut. Namun sekarang, satu  rumah sudah dijual hingga tinggal menyisahkan dua rumah saja.  Ia menakutkan kampung yang dibangun leluhurnya tersebut, kian lama kian memudar tergilas zaman.

Ketakutan Oey ini, masuk akal. Pantauan Kabar Sumatera, perkampungan yang berada dipinggiran Sungai Musi, Kelurahan 7 Ulu kini kondisinya, nyaris tak terawat. Rumah besar yang dulunya, ditempati  Kapten Tjoa Ham Him, kondisinya jauh dari kesan pantas untuk dijadikan objek wisata.

Sementara taman yang dibangun Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, kondisinya pun tak jauh berbeda. Lampu taman sudah banyak hilang dan pecah, rerumputan meninggi dibiarkan dibeberapa bagian.

“Saya hanya berpikir, bagaimana merawat rumah yang diwariskan leluhur ini. Usia saya sudah tua, namun tidak pernah saya ingin menjual rumah ini. Kewajiban saya untuk merawatnya,” kata Tjoa Kok Liem atau Kohar, ahli waris Kapten Tjoa Ham Him.

Kohar mengkhwatirkan, jejak sejarah yang pernah digoreskan leluhurnya untuk peradaban Palembang tersebut bakal hilang. Apalagi saat ini, dari sebelas anaknya hanya anak ketiga saja yang tinggal bersamanya. Selebihnya merantau ke Lampung dan Jakarta.

Ya, ketakutan Kohar tersebut harusnya didengarkan Pemerintah Kota Palembang. Apalagi Kampung Kapitan, adalah saksi bisu jejak peradaban yang pernah ada di kota empek-empek ini.

TEKS :  T PAMUNGKAS | EDITOR : IMRON SUPRIYADI

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *