Kepala Daerah Bangun Patung, sama saja mengembalikan ke Zaman Fir’aun

PALEMBANG | KSOL  — Sejumlah tokoh agama asal Jawa Barat di Palembang, turut menyesalkan sikap Bupati Purwakarta, yang telah membangun patung di daerahnya. Menurut Eddy Sutendi, salah satu anggota Paguyuban Warga Jabar di Palembang sikap membangun patung di tengah mayoritas muslim bukan sikap yang cerdas.

“Kecerdasan Tauhid memang di dalam hati, tetapi out tauhid itu akan tampak dari perilaku seseorang. Artinya kalau seorang kepala daerah yang muslim, tetapi out put perilakukanya tidak muslim, perlu dipertanyakan kemuslimannya,” ujar Sutendi merespon sikap Puluhan Ulama Jawa Barat yang tergabung dalam ormas Gerakan Ulama (Gema) Jabar yang menolak Dedi Mulyadi menjadi Cagub Jabar 2018.

Sutendi mengaku, dirinya dan lembaganya mendukung sikap ulama Jabar  yang menolak Dedi Mulyadi sebagai salah satu Cagub Jabar 2018.

BACO JUGO BERITA TERKAIT : Ulama Tergabung dalam Gema Tolak Dedi Mulyadi, Ada Apa?

“Kalau sekarang Pak Dedi bangun patung di Purwakarta, saya khawatir kalau nanti berkuasa di Jawa Barat, bukan tidak mungkin akan bangun juga patung se-Jabar ini. Mestinya yang dia buat bukan patung wayang, tetapi membuat hiasan kaligrafi asmaul husna atau apa saja yang secara simbolik menunjukkan kemusliman, bukan malah patung wayang,” tegas mantan aktifis Rohis di Palembang ini.

Menurut pria kelahiran Kuningan Jabar 30 Mei 1976 ini, sikap Ulama Jabar yang menolak Dedi Mulyadi menjadi Cagub Jabar 2018 sangat wajar. Sebab program pembuatan patung itu sama sekali tidak memberi manfaat bagi ketahanan dan peningkatan tauhid di Purwakarta, apalagi Purwakarta sebagai Kota Tasbih.

Disinggung tentang filosofi patung pewayangan sebagai pembelajaran warga dalam perilaku dalam kehidupan, Sutendi menilai hal itu tetap saja tidak tepat. Apalagi patung itu dibangun di tengah warga yang mayoritas muslim.

Lagi pula menurut Sutensi, secara jelas hadist Rasul menyebutkan setiap mahluk tidak diperkenankan membuat patung-patung dan lukisan, apakah itu hewan apalagi manusia yang diada-adakan.

“Sikap membuat patung sama saja menandingi Sang Pencipta mahluk. Dzat yang berhak membuat mahluk hidup hanya Allah Swt, sementara manusia adalah mahkuk ciptaan. Jadi mana boleh mahluk seperti manusia berhak menciptakan mahluk, itu namanya mau bersaing dengan Tuhannya sendiri,” ujarnya.

Dalam hadits juga sudah jelas. Kata Rasul, kalau di dalam rumah ada patung, maka malaikat tidak berkenan memasukinya.

“Nah, kalau di dalam rumah saja malaikat tidak mau masuk, apalagi di sebuah kabupaten?! Jadi filsafat apa yang dipakai? Kalau kita kita mau belajar dengan sejarah Nabi Ibrahim sudah jelas. Nabi Ibrahim dia menghancurkan Patung!. Lha sekarang kok malah mendirikan Patung?! apa kita mau balik zaman Fir’aun?” katanya.

Senada dengan itu Ustadz Mahbub Al-Bantani,  tokoh agama di Palembang asal Jabar ini menjelaskan, jumhur ulama dari madzhab Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hambali berpendapat tentang haramnya membuat shuroh (gambar), baik itu gambar tiga dimensi (yaitu patung), begitu pula gambar selain (lukisan hewan atau gambar mahuk hidup).

Penjelasan ini didasarkan pada hadits rasul : Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari suatu safar dan aku ketika itu menutupi diri dengan kain tipis milikku di atas lubang angin pada tembok lalu di kain tersebut terdapat gambar-gambar. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat hal itu, beliau merobeknya dan bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah mereka yang membuat sesuatu yang menandingi ciptaan Allah.” ‘Aisyah mengatakan, “Akhirnya kami menjadikan kain tersebut menjadi satu atau dua bantal.”  (HR. Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 2107).

TEKS : T PAMUNGKAS | EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *