Malam Sastra FKY ke-29 : Kegelisahan Krisis Penulis

YOGYAKARTA | KSOL – Gelaran sastra di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) tidak selalu ramai seperti FKY tahun-tahun sebelumnya. Tema “Umbar Mak Byarr” pada FKY tahun ini berpusat acara di Bantul Kilometer 5,5, lainnya dapat ditemui di pusat-pusat keramaian di kota dan kabupaten.

Berjarak kurang dari setengah kilometer sebelah barat kampus Institut Seni Indonesia (ISI) di Sewon, Bantul, terdapat warung buku tempat para pecinta sastra berkumpul. Bahkan dapat mendengarkan sajian menarik dari Radio Buku secara online.

“Radio Buku sebagai warung buku dan arsip buku menjadi ruang publik yang menarik perlu untuk dikenalkan ke masyarakat luas,” kata koordinator Sastra FKY ke-29 Gunawan Maryanto.

Sastra FKY tahun ini menarik karena pisah dari venue utama, sambung Gunawan Maryanto. “Tidak harus di satu tempat.”

Event kali ini memunculkan jenis-jenis genre dari generasi yang berbeda. Di halaman Radio Buku tiga penyair perempuan Abinaya Ghina Jameela, Mutia Sukma, dan Shinta Febriany, tampil membius audience.

Namun pemeran utama film Widji Thukul, “Istirahatlah Kata-kata”, yang meraih sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik dalam Usmar Ismail Award, Gunawan Maryanto, prihatin mengetahui belakangan tidak banyak penulis yang muncul dari Yogyakarta sejak tahun 98.

Setelah peristiwa 98 keadaan menjadi sangat berbeda. Banyak buku sastra diterbitkan beredar tapi setiap ada forum seperti ini yang datang hanya yang intens terhadap sastra, katanya kepada A.S. Adam, Kabar Sumatera.

Yogyakarta yang merupakan tempat berproses bagi kebanyakan seniman maupun penulis dan penyair justru mengalami “saling-silang”.

Di era ini tidak seketat dulu—disiplin dalam berbagai bidang seni, katanya. Dulu semuanya bisa dalam satu ruang yang intens. Dulu surat kabar menjadi ukuran keseriusan berkarya. Semua serba dirayakan tetapi di tengah perayaan itu harus ada satu proses yang lebih intens. “Namun sekarang justru dalam keriuhan.”

Disinggung maraknya sastra Cyber, menurut Gunawan, Cyber juga menjadi salah satu media yang bisa digunakan dan dimainkan sehingga dapat menemukan bentuknya sendiri. Padahal banyak penulis dan tulisan yang sangat berkualitas mewakili zamannya. Seharusnya keramaian sastra di cyeber juga terjadi pada acara-acara sastra yang diselenggarakan.

Penyair asal Makasar yang pernah lama tinggal di Yogyakarta, Shinta Febriany, melewati proses panjang dalam menulis puisi.

Meski sejumlah penerbit menawari menulis buku, Shinta justru mengaku tidak produktif dalam menulis. Tulisannya menarik bagi para pecinta puisi. Keterbatasannya dalam menulis karena kegiatannya kadang memaksanya menulis di blog.

Shinta adalah pengagum Choiril Anwar. Ia menulis sejumlah buku yang memiliki penggemar tersendiri. Kebanyakan di antaranya adalah laki-laki dewasa. Salah seorang pecinta puisi yang hadir di malam sastra FKY ke-29 di Radio Buku mengaku menyukai karya-karya puisi Shinta Febriany.

Sesuatu yang berkesan kadang ditulis memakan waktu yang lama, atau tergantung kondisi dan suasana. “Sehingga menjadi kisah atau cerita yang meng-inspirasi.”

Semua orang—bahkan penulis—pernah mengalami sedih dan menarik diri dari keramaian untuk menulis sesuatu yang dirasakannya. Mitos yang beranggapan tulisan menjadi lebih puitis ketika dalam kondisi sedih dapat menulis lebih puitis dibanding dalam keadaan senang tidak semuanya benar, dan Shinta menghargai itu. “Dalam kondisi sedih banyak orang menulis,” kata Shinta.

Di halaman Radio buku ia tampil lebih lembut dengan sejumlah karya puisinya yang dibacanya. Namun kesan yang muncul justru protes terhadap sesuatu yang dianggapnya berlawanan.

Sejumlah karya puisinya “Moyangku Bugis” (1994), “Living Together” (2005), “Selendang Pelangi” (2006), dan “Wasiat Cinta” (2013), berserakan di sejumlah buku antologi puisi.

Berbeda dengan Mutia Sukma yang sekilas terlihat keras berlawan namun justru romantisme dan nostalgia dalam karya-karya puisinya yang dibaca.

Di atas panggung ia sempat mengaku didesak Iman Budi Santoso menulis kisah legenda monyet dalam puisinya. Di malam yang hening di antara desiran angin ia membaca tujuh karya puisinya. Semua yang hadir diam mengikuti jalan cerita dalam syairnya.

Mutia mengalami masa transisi setelah menikah. Ia harus menyesuaikan diri setelah bersuami dan memiliki anak. “Ada peristiwa besar terjadi dalam hidup saya.”

Kehidupannya tidak sama dengan ketika masih kuliah. Meski sebagai istri sekaligus ibu rumah tangga Mutia tetap menulis puisi.

“Menulis puisi adalah passion, katanya, “menulis adalah aktivitas yang keren dan menantang untuk terus belajar. Menulis juga dapat menemukan lingkungan yang berwacana.”

Pertanyaan-pertanyaan tentang dunia secara verbal dipertanyakan Mutia dalam puisinya. Ini juga terdapat di bukunya “Pertanyaan-pertanyaan Tentang Dunia”. Menurut Mutia kecenderungan menulis puisi sekarang adalah puisi kamar.

Ia sempat lama tak menulis. Selama tidak menulis suaminya menjadi teman diskusi. Pada masa-masa kehilangan keperayaan diri Mutia mengaku sempat malu karena tak pernah lagi intens di puisi. Namun ia menolak tawaran menjadi dokter.

Sebentar lagi usianya delapan tahun. Di Radio Buku Abinaya Ghina Jamela menghipnotis penikmat sastra melalui karya-karya diksi dan metafora yang diterbitkan dalam buku “Resep Membuat Jagat Raya”. Ia membaca sangat natural.

Kelahiran Padang, Sumatera Barat, 11 Oktober 2009, ini akrab dipanggil Naya. Buku “Resep Membuat Jagat Raya” ia tulis sejak usia lima tahun, sejak mulai bisa membaca dan menulis.

Abinaya senang menulis tentang makanan meski ada sebagian puisinya yang bercerita tentang kebun binatang. Kebiasaanya menghabiskan waktu untuk membaca, menulis, melukis dan memasak, membuatnya selalu mengamati hal-hal yang tidak terpikirkan oleh orang dewasa. Tulisannya yang berkisah binatang menjadi perbincangan menarik pada sesi diskusi sastra di Radio Buku.

Satu tulisan atau puisi bisa diselesaikannya dalam waktu sejam hingga dua jam. Dan biasanya ditulis dalam keadaan sedih. Dia juga senang bermetafor setelah Ibunya mengajarkan menulis puisi dan cerpen. Metafora dan diksinya tidak biasa bagi anak seusianya.

Sastra FKY ke-29 sengaja menghadirkan Abinaya Ghina Jamela karena ia memiliki kekhasan yang berbeda. Ini seperti tamparan bagi pelaku sastra di Indonesia khususnya di Yogyakarta. Seorang anak kecil yang usianya belum genap delapan tahun justru mampu ber-metafora dan ber-diksi mengetahui banyak penulis yang mengaku “berkualitas” namun tidak muncul.

Selain mereka bertiga, sastra FKY ke-29 dari tanggal 30 Juli – 3 Agustus 2017 pukul 15.30 – 21.30 WIB juga menampilkan Lurah Wahyudi Anggoro Hadi, Arif Rahmanto, Jecii (Listeno), Rona Mentari dan Rumah Dongeng Mentari, Atya Sarah Faudina, Sanggar Anak Alam, bukusahabatbermain, Kedung Darma Romansha, Tiaswening Maharsi, Afrizal Malna, Sri Suryani, Noviano Lestari, Eko Nuryono, Teater Kamasutra, Teater Terjal, Ibed Surgana Yuga dan para pegiat dunia literasi Yogyakarta.

TEKS: A.S. ADAM




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *