OPINI – Siaran Televisi dan Distorsi Nilai Kebangsaan

Lazada Indonesia

Oleh Abdiyanto Fikri, SH,MH.
(Penulis adalah Anggota DPRD Kabupaten OKI)

Subbanul Yaumi, Rijalul Ghoddi (Pemuda Hari ini adalah pemimpin Masa depan). Syair itu demikian akrab di setiap santri pondok pesantren. Demikian pula bagi masyarakat yang juga sesekali mendengarkan pesan itu melalui ceramah para kiai, ustadz di masjid atau di sejumlah majelis ta’lim.

Pesan tersebut dapat dimaknakan sebagai bentuk motivasi bagi setiap orang tua yang berkewajiban, yang bukan sekadar melahirkan tetapi juga bertanggngjawab terhadap perkembangan mentalitas generasi bangsa ; 20, 30 atau bahkan 100 tahun mendatang. Dengan kata lain, untuk melihat wajah bangsa ini 50 tahun ke depan ukurannya cukup melihat bagaimana sikap dan pola pikir anak-anak di era kini dalam menjalani proses hidup.

Hal ini tentu menjadi satu tanggungjawab yang tidak ringan bagi setiap orang dewasa, bukan hanya dalam rumah tangga : ibu dan ayah, melainkan juga orang dewasa di tengah masyarakat yang juga memilliki kewajiban sama terhadap proses pembentukan mentalitas generasi bangsa ke depan.

Proses pembentukan karakter, sikap dan cara pandang generasi hari ini tidak lepas dari pengaruh internal dan eksternal. Secara internal sosok generasi bangsa akan dibentuk dan diwarnai oleh sistem keluarga, yang diciptakan kedua orang tua : ayah dan ibu. Secara eksternal, dapat terbentuk dari sekolah dan lingkungan tempat anak itu bergaul dan bersosialisasi.

Pembentukan karakter dan perkebangan mentalitas anak bangsa di era digital juga sangat dipengarahui oleh perkembangan dunia teknologi, satu diantaranya dampak media televisi. Disebut oleh pakar komunikasi Indonesia, Jalaludin Rahmat dalam bukunya ”Islam Aktual” : media massa (cetak, elektronik) merupakan salah satu alat strategis untuk membentuk dan menciptakan opini kebaikan, namun sebaliknya media massa juga alat paling strategis dalam membentuk opini keburukan. Demikian halnya dalam teori komunikasi disebut; media massa sangat kuat dalam membentuk atau penciptaan opini publik.

Sadar dengan hal itu, tidak salah jika mulai hari ini dan di masa mendatang, dalam mengahadapi bombardir program siaran televisi dengan ragam variannya, orang tua wajib memposisikan diri sebagai ”pengawal” putra-putrinya di rumah. Proses pendampingan orang tua bagi anak saat menonton televisi menjadi keniscayaan. Mengingat, tidak semua siaran televisi berdampak positif terhadap proses pembentukan karakter anak bangsa.

Nyaris, separo dari putaran waktu siaran televisi kita disuguhi dengan sejumlah siaran, baik reality show, sinetron dan lainnya yang mengabaikan nilai-nilai pendidikan bagi karakter anak bangsa. Pengelola televisi cenderung mengedepankan untung rugi dari sisi bisnis ketimbang mempertimbangan efek moral terhadap penonton. Ada distorsi nilai-nilai kebangsaan yang seharusnya tidak boleh terjadi.

Tradisi lokal dan kearifan bangsa timur yang merupakan ciri khas nilai kebangsaan kita, sudah demikian rapuh. Budaya gotong royong, kepedulian, dan kesantunan, keadaban sudah tergerus oleh sikap individualisme, hedonisme dan konsumtifisme. Ini terjadi sebagai akibat dari rapuhnya mentalitas generasi bangsa ini dalam menangkal efek negatif tayangan televisi, iklan, teknologi dan informasi yang tidak tersekat lagi.

Sehingga, semua informasi yang diakses kemudian menjadi ”guru digital” dalam proses pembentukan sikap, pola hidup dan karakter pada diri setiap anak bangsa. Disinilah diperlukan proses pengawalan ketat dari orang dewasa, sehingga dampak negatifnya tidak mendominasi dalam pembentukan karakter generasi di negeri ini.

Apalagi lagi, televisi dan teknologi lainnya, sudah menjelma menjadi ”mini market” visual yang menawarkan 1000 keistimewaan dan menyimpan jutaan kelemahan. Pun demikian halnya paket program entertaintmen menyuguhkan kehidupan hedonisme artis, mengemas sinetron roman-roman picisan, pergaulan bebas antar remaja, budaya konsumtif dan sejenisnya. Semua tayang tanpa sensor moral dari pihak terkait.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang diberi peran sebagai pengawas semua program siaran, terkesan hanya sebatas formalitas. Misalnya pada pasal 8 (Tugas dan Kewenangan KPI). Pada point c disebutkan, fungsi KPI mengawasi pelaksanaan peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran. Point d ; memberi sanksi terhadap pelanggaran peraturan dan pedoman perilaku penyatan serta standar programn siaran.

KPI hanya diberi kewenangan memberi sanksi, yang pada praktiknya semua bersifat sementara, bukan mencabut izin paket program siaran. Ketika paket siaran yang dihentikan kemudian berganti judul lain, sementara secara konten tak berubah, dalam hitungan pekan, program serupa akan kembali tayang.

Lihat kasus penghentikan sementara program ”Empat Mata” yang sempat tayang 11 tahun di Trans TV. Tapi kemudian diganti dengan ”Bukan Empat Mata” dengan mata siar sama dan konten yang tak berbeda. Ibaratnya bungkus baru kaset lama.  KPI sedikitnya sejak tayang lebih 6 kali teguran dan peringatan, tanpa ada kuasa mengentikan program. Sanksi yang dilakukan hanya pengurangan jam tayang menjadi 1 jam dalam tiga hari.  Masih banyak program siaran lain yang juga mendapat teguran, peringatan sampai penghentian sementara oleh KPI.

Namun  pada intinya, daya kontrol yang sangat strategis pada semua tayangan televisi bukan dibenakan pada KPI an-sich, namun lingkungan keluarga menjadi dasar utama membentuk benteng mental bagi setiap anak bangsa yang lahir.

Tidak bisa orang tua hanya pasrah ”bulat-bulat” pada sekolah atau lembaga apapun untuk membentuk karakter, atau membiarkan putra-putri kita tumbuh di lingkungan tanpa pengawasan  orang dewasa yang kita percaya.

Sebab disebut oleh Slameto, pengamat pendidikan di Indonesia, pendidikan keluarga adalah pendidikan pertama dan utama. Dengan kata lain, Slameto menegaskan; orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak. Disinilah peran orang tua (ayah dan ibu) atau orang dewasa yang berkewajiban mendampingi putra-putri kita ketika menonton televisi sehingga dampak negatifnya tidak menjadi racun pada diri anak kita.

Hal ini menjadi penting, sebab anak-anak kita adalah emas permata yang kelak harus menjadi pengemban amanah bangsa yang harus memiliki integritas moral guna mewujudkan masa depan bangsa yang berdaulat secara politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian secara kebudayaan, sebagaimana digagas Bung Karno.**




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *