Anak-anak Tiga Kampung Bersejarah

YOGYAKARTA | KSOL – Ketika anak-anak kota kehilangan tempat bermain, seorang mantan ilustrator Majalah Suara Muhammadiyah yang pula pernah berhenti dalam dunia rupa memberikan wahana sederhana dan mendidik kepada anak-anak. Di halaman rumah yang sempit di kawasan kampong Muhammadiyah di Notoprajan, kegiatan menggambar dan mewarnai rutin setiap pekan dilakukan.

Suasana aktifitas kelompok menggambar dan mewarnai di kampong Muhammadiyah di Notoprajan, diikuti oleh anak-anak dari tiga kampong bersejarah: Notoprajan, Suronatan dan Kauman, Jum’at (19/5) sore (FOTO.DOK.KSOL/A.S.ADAM)

Arief mengarahkan anak-anak cara menggunakan kuas yang benar saat mewarnai memakai cat akrilik, Jum’at (19/5) sore. (FOTO.DOK.KSOL/A.S.ADAM)

Kegiatan menggambar bersama yang diadakan oleh kelompok menggambar asuhan Arief yang biasa disapa Na’i atau Noi diminati anak-anak warga sekitar.

“Awalnya hanya kegiatan biasa yang tidak rutin di sekitaran Langgar Poesaka,” katanya.

Arief mengaku senang bisa mengajar sekaligus berbagi ilmu seni rupa kepada anak-anak. Mereka adalah anak-anak dari tiga kampong: Notoprajan, Suronatan dan Kauman. Dari latar belakang sekolah yang berbeda-beda namun anak-anak dari ketiga kampong ini terlihat akrab dan menikmati kegiatan menggambar.

Ditanya Kabar Sumatrera, Na’i prihatin dengan kondisi anak-anak jaman sekarang. Mereka menjadi korban akibat mudahnya mendapatkan gajed murah. Para orang tua cenderung membiarkan anak-anaknya tidak bersosialisasi dengan lingkungan. Padahal, menurut Na’i, anak-anak seharusnya dididik bersosialisasi secara tradisional.

“Kalau pun menggunakan teknologi seharusnya para orang tua mendampingi anak-anaknya memanfaatkan teknologi.”

Gagasannya mengumpulkan anak-anak untuk belajar mengambar dan mewarnai ini tidak sengaja. Awalnya di lingkungan Sekitar Langgar Poesaka banyak anak-anak memanfaatkan limbah untuk dibuat mainan. Tak lama kemudian arena bermain anak-anak justru malah berpindah di halaman sempit yang biasa dimanfaatkan Na’i untuk merampungkan pekerjaannya. Setiap kali merampungkan pekerjaan, ia dikerumuni anak-anak karena ketertarikan mereka terhadap apa yang dilakukan Arief. Hampir setiap hari Arief merampungkan pesanan lukis wajahnya.

Arief mengarahkan anak-anak cara menggunakan kuas yang benar saat mewarnai memakai cat akrilik, Jum’at (19/5) sore. (FOTO.DOK.KSOL/A.S.ADAM)

“Justru saya bahagia karena mereka menginginkan kelompok menggambar dan mewarnai terus dilanjutkan,” kata Arief mantan siswa Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta angkatan 90-an.

Tio dan Andit siswa sekolah dasar negeri (SDN) Ngabean Yogyakarta sempat kecewa kegiatan menggambar dan mewarnai sempat terhenti karena kertas dan cat habis tidak terbeli. Selain menggambar dan mewarnai, Na’i juga mengasuh anak-anak membuat prakarya dari sampah limbah non organik.

“Kalo bisa menggambarnya jangan berhenti,” kata Tio. Selain Tio, Andit dan Rois juga semangat dengan kegiatan seni asuhan Arief. Sepenuhnya biaya kebutuhan dalam kegiatan ini dikeluarkan secara pribadi oleh Arief.

Para orang tua senang anak-anaknya mendapatkan kegiatan gratis di luar sekolah. Namun sayangnya mereka tidak bisa membantu lebih memberikan fasilitas pendukung dalam kegiatan ini. Warga setempat berharap kegiatan ini mendapat perhatian dari pecinta seni rupa dan semua pihak agar kelompok menggambar dan mewarnai di kampong bersejarah bisa dapat terus berlanjut.

TEKS: A.S. ADAM




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *