Wayang Kulit Gendeng Tak Hanya Diburu Pelancong Luar Negeri

YOGYAKARTA | KSOL – Sejak tahun 2013 Unesco menetapkan wayang sebagai masterpiece of oral and intangible of humanity, kerajinan wayang kulit di Yogyakarta semakin mendunia.

Gendeng Bangunjiwo Kasihan Bantul merupakan salah satu tempat kerajinan wayang kulit di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan teknik “tatah sungging” yaitu menatah (memahat) dan mewarnai pada kulit kerbau atau sapi.

“Ini wayang-wayang pesanan dari Jakarta,” ujar Sukino. “Sekarang justru banyak warga Indonesia yang gandrung wayang kulit.”

Tempat pembuatan wayang milik Sukino di pinggir jalan menuju perbukitan di Bangunjiwo, Rabu (12/4). (FOTO.DOK.KSOL/A.S.ADAM)

Sukino (52) perajin wayang kulit di Dusun Gendeng Bangunjiwo Kasihan Bantul tidak hanya sekali-dua kali kedatangan tamu. Pesanan wayang buatannya tidak hanya diminati sejumlah negara, melainkan juga oleh masyarakat lokal di Indonesia.

Hampir rata-rata perajin di Gendeng menggunakan kulit kerbau seharga Rp. 1,7 juta per lembar karena dianggap lebih berkualitas dibandingkan kulit sapi. Kulit-kulit itu dipasok tidak hanya dari Yogyakarta melainkan juga dari luar Yogyakarta.

Melihat tingkat kesulitan dan besar kecilnya wayang harga tidak bisa dirata-rata. Kecuali jika beli wayang langsung satu kotak berisi lengkap harga berkisar Rp.125-500 juta. Namun begitu, perwayang seukuran Krisna ia bandrol Rp.1,5 juta memakan waktu pengerjaan selama dua pekan mulai dari menatah, pewarnaan hingga gapit.

Sukino sedang merampungkan wayang pesanan dari luar Yogyakarta. Ia membuat pola wayang di atas lembaran kulit kerbau sebelum akhirnya ditatah dan diwarnai, Rabu (12/4). (FOTO.DOK.KSOL/A.S.ADAM)

“Tidak semua perajin wayang bisa melakukan semua proses itu. Ada yang hanya bisa natah, hanya sunggih, atau hanya mewarnai saja,” ujarnya.

Meski belum diresmikan menjadi sentra kerajinan wayang kulit, namun akrtifitas membuat wayang kulit di Desa Gendeng Bangunjiwo Kasihan Bantul sudah ada sebelum tahun 1921.

“Awalnya ada seorang lelaki dari Kelurahan Krantil Bantul menikahi perempuan Desa Gendeng. Lelaki itu pintar menatah. Pujo salah seorang warga Gendeng yang menyukai wayang, yang juga kenal baik dengan lelaki itu lantas belajar menatah,” ceritanya singkat.

Ia tak tahu pasti asal mula Desa Gendeng menjadi desa perajin wayang. Ia hanya tahu pasti yang semula di desanya berjumlah ratusan perajin kini mulai berkurang.

Sebagai bentuk keprihatinannya terhadap generasi muda yang tidak berminat terhadap kerajinan wayang kulit, bersama Paguyuban Mudimulyo beranggotakan 41 orang, rencananya bakal meregenerasi anak-anak sekolah dasar (SD) di desanya guna mempertahankan kearifan lokal yang mulai tergeser.


Tempat pembuatan wayang milik Sukino di pinggir jalan menuju perbukitan di Bangunjiwo, Rabu (12/4). (FOTO.DOK.KSOL/A.S.ADAM)

“Kalau saja ada yang berminat belajar membuat wayang tentu banyak yang mengajari,” kata Ketua Paguyuban Mudimulyo generasi ke-4 perajin wayang di Gendeng.

Lans Elang Brahmantyo (10) siswa sekolah dasar negeri (SDN) Ngabean Yogyakarta senang memiliki wayang seharga Rp.200 ribu. Wayang itu ia dapat dari pamannya kampong Notoprajan. “Senang bisa buat mainan pake gamelan,” ujarnya.

Menurut kabar di desa tersebut, banyak warga Palembang yang memesan wayang dalam jumlah banyak di Gendeng. Meski mulai terpengaruh membuat wayang untuk suvenir, perajin di Gendeng terhitung masih mempertahankan tradisi membuat wayang kulit untuk para dalang.

TEKS: A.S. ADAM




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *