Diduga Akibat Penambangan PTBA, ‎Rumah Warga Ambles ke Lobang Galian

MUARA ENIM | KSOL – Rumah Heriyanto (34), warga RT 04 lingkungan Bukit Munggu-Bedeng Kresek, Kelurahan Pasar Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul Kabupaten Muara Enim, ambles masuk ke dalam areal galian tambang, Selasa (14/2/16) sekitar pukul 07.00 pagi WIB. Selasa (14/2/16) sekitar pukul 07.00 pagi WIB.

Rumah Herianto hanya berjarak 2 meter dari pusat galian tambang milik PT Bukit Asam (Persero) Tbk yang hanya berjarak dua meter. Tak ayal,

Diduga, longsornya tanah itu, karena lahan tanah di sekitar permukiman wraga ‎sudah gundul ditambah aktivitas pertambangan batubara. Belum lagi‎  kontur tanah yang lembab akibat hujan yang terus menerus turun sejak ‎sejak pukul 04.00 shubuh WIB.

2

BERDIRI KOKOH — Tampak rumah warga milik Herianto RT 4 Bukit Munggu sebelum ambruk (ambles) dan masih kokoh berdiri (Foto.Dok.KSOL/ALDO)

2121

AMBLES – Rumah Herianto setelah amblas ke lobang galian tambang PTBA (Foto.Dok.KSOL/Aldo)

Untung, sebelum terperosok ke dalam lubang, penghuni rumah sudah diungsikan lebih dulu. Hal ini dilakukan karena keadaan rumah saat itu sudah mulai retak dan miring akibat tanah dibagian belakang rumah sebagian mulai longsor.

“Iya untung saja saat rumah ambruk penghuninya sudah tidak ada lagi. Karena ketika sebagian dapur sudah ambruk dua hari sebelumnya, bapak dan ibu pemilik rumah sudah diungsikan. Kalau tidak, wah tidak bisa saya bayangkan‎. Ini saja masih shock ibunya,” terang Lusi Keroen warga setempat yang rumahnya juga belum diganti untung.

Sejak awal, sebelum ada kesepakatan direlokasi, warga setempat telah meminta agar PTBA menghentikan penambangan, namun belum ada respon.

Menanggapi hal hal diatas, Koordinator Komitmen (K27) Westi Mayundra menyayangkan atas kejadian itu. Sebab sudah berulang kali timnya mengingatkan agar perusahaan menghentikan penambangan. Namun tak juga diindahkan. Hal yang dikhawatirkan selama ini terjadi.

“Tentu saya sangat sesalkan sekali. Sekarang terbuktikan, terjadinya di salah satu rumah warga yang masuk ke dalam tambang. Jadi, sekarang bagaimana tindakan PTBA atas hal ini? Meskipun yang mengerjakan adalah sub-kon PT Pama,” cetus Westi, Rabu (15/2/16).

Kejadian ini, menurut Westi seolah-olah menjadi pembenaran atau bahkan bentuk intimidasi PTBA terhadap warga yang belum bersedia merelokasi rumahnya akibat belum sepakat dengan uang tali kasih. Saat ini, masih ada 26 KK yang belum ada kesepakatan,” tuturnya.

“Kejadian jangan dijadikan intimidasi PTBA terhadap warga agar cepat meninggalkan rumahnya masing-masing dan menerima tali asih,” ujarnya.

Berdasar itu, hingga saat ini warga tetap bertahan. Sementara PTBA menyepakati sesuai tuntutan warga : yaitu ganti untung bayar lepas sesuai dengan sosialisasi yang sebelumnya disampaikan di PTBA.

Setelah menginventarisasi warga, terjadilah negosiasi tehang pembayaran tali asih. Dilaur dugaan, PTBA kemudian PTBA mengganti tali asih. “Meskipun  pada prinsipnya uang tersebut tidak sesuai dengan harapan warga,” tambahnya.

Lebih lanjut kata Westi, ia juga pernah menyampaikan hal ini ke tim Penegakan Hukum Kementrian Lingkungan Hidup. Pada waktu itu sudah memperlihatkan secara langsung, adanya bukti rumah banyak yang retak, akibat aktivitas penambangan PTBA.

Ditambahkannya, masyarakat juga mempertanyakan, amdal dari penambangan tersebut. Karena dampak dari penambangan seperti debu tidak menikmati kompensasi debu dan bising dari adanya kegiatan tambang tersebut.

TEKS/FOTO : HENDRO ALDO IRAWAN | EDITOR : T PAMUNGKAS




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *