KIRAB WANA KERTI DAN PENANAMAN 2000 POHON

YOGYAKARTA | KSOL – Untuk menjaga keseimbangan alam yang belakangan ini mengalami bencana banjir dan longsor, seperti diberitakan sejumlah media massa, membuat umat Hindu se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar kirab sesaji Wana Kerti sekaligus penanaman 2000 bibit pohon di lereng Merapi Dusun Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Ahad (12/2) pagi.

Kirab yang dimulai lebih-kurang jam 09.00 dari pintu masuk desa Kinahrejo yang berjarak sekitar satu kilo meter dari pendopo Kinahrejo menarik perhatian wisatawan Gunung Merapi. Empat buah gunungan yang dihiasi buah-buahan, sayuran dan jajanan pasar, turut serta dikirab dikawal bregodo prajurit dari Desa Selo Martani.

Bibit-bibit pohon dibawa oleh setiap peserta kirab dan selanjutnya ditanam di sekitar Gunung Merapi.

Bibit-bibit pohon dibawa oleh setiap peserta kirab dan selanjutnya ditanam di sekitar Gunung Merapi. (FOTO.DOK.KSOL/A.S.ADAM)

Bupati Sleman Sri Purnomo dalam sambutannya yang dibacakan oleh Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mengatakan bahwa toleransi menjadi sangat penting menjadi kunci kedamaian. Sejahtera, makmur dan bahagia tidak akan terwujud jika kita selalu dalam kekacauan.

Selain itu pula, ia juga prihatin terhadap maraknya muatan-muatan provokatif di media massa yang menyulut bibit konflik antaragama. Bahkan kondisi tersebut diperparah dengan berbagai unggahan di media sosial yang semakin liar tidak terkendali dan tidak bertanggung jawab. Ia mengajak para pemuka agama untuk senantiasa menjaga toleransi dan kerukunan antarumat beragama guna menciptakan keharmonisan antarumat beragama.

Melalui Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun yang dibacakan dalam sambutan tersebut, Bupati Sleman Sri purnomo mengucapkan terima kasih kepada pemimpin dan pemuka agama Hindu atas peran aktifnya membimbing dan membina umat Hindu. Sri Purnomo juga mengapresiasi kegiatan menanam 2000 bibit pohon atas inisiatif masyarakat.

Sebelumnya Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun sempat kagum dengan mbah Poniem Maridjan yang luar biasa masih kinyis-kinyis dan bugar meski sudah berumur 83-an tahun. “Kata pak AKBP Dr. Nyoman semua yang dikonsumsi beliau murni organik asli dari gunung.”

Arak-arakan kirab melintas di bekas pemukiman yang sempat hancurakibat awan panas Oktober 2010 lalu.

Arak-arakan kirab melintas di bekas pemukiman yang sempat hancurakibat awan panas Oktober 2010 lalu. (DOK.KSOL/A.S.ADAM)

Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Ida Bagus Wika Krishna dalam sambutannya mengatakan, bahwa Tuhan tidak menghukum manusia jika manusia menjaga keharmonisan alam semesta yang ada dalam konsep sakerti: jagat kerti, atma kerti, jana kerti, danu kerti, segara kerti, dan wana kerti.

“Niskala memberikan sesajen dan sekala adalah menjaga hutan dengan menanam pohon dan menjaga kelestariannya. Inilah proses timbal balik. Kalau manusia menjaga alam semeta maka alam semesta akan menaga manusia,”jelasnya.

Guna membangun keseimbangan hidup, katanya, maka Wana Kerti ini diselenggarakan karena masih merupakan serangkaian Hari Raya Nyepi.

“Umat hindu memberikan sesaji merupakan kewajibannya untuk memberikan yang terbaik sebagai timbal balik dari memberi sebelum memberi,” katanya.

Hutan dibagi menjadi tiga, lanjutnya, maha wana (hutan belantara), sri wana (hutan yang dimanfaatkan untuk kehidupan manusia), dan tapa wana (tempat bertapa). Dari tiga pembagian tersebut ia meyakini Kinahrejo pantas menjadi tempat pertapa. “Apalagi di sini juga ada makam dan petilasan mbah Maridjan.”

Pada kesempatan yang sama, dalam Bahasa Jawa kromo inggil, Juru Kunci (Abdi Dalem) Budaya Gunung Merapi, Kliwon Surakso Hargo (pak Asih) meluruskan arti ‘abdi dalem’ yang seringkali disalahartikan menjadi batur (babu), atau pembantu dari pihak kraton.

Arak-arakan kirab melintas di bekas pemukiman yang sempat hancurakibat awan panas Oktober 2010 lalu.

Arak-arakan kirab melintas di bekas pemukiman yang sempat hancurakibat awan panas Oktober 2010 lalu. (FOTO : DOK.KSOL/A.S.ADAM)

Kulo meniko pengalit sanes pangageng, artosipun kulo meniko dipun tunjuk saking Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat supados njagi kelestarianipun budaya, amargi ingkang sampun wastani juru kunci Merapi. Kulo meniko ngabdi budaya wonten Ngayogyokarto Hadinignrat,” kata Asih penerus Juru Kunci Mbah Maridjan (alm.).

Erupsi Gunung Merapi 26 Oktober 2010, lanjut Asih dalam Bahasa Jawa halus, bukanlah musibah melainkan merupakan peringatan bagi manusia untuk menjaga dan melestarikan serta tidak semena-mena terhadap alam.

Alam harus dijaga bersama, lanjut Asih, justru bukan hanya menjadi tugas Juru Kunci melainkan tugas kita bersama untuk menjaga kelestarian alam sekitar kita.

Ia berharap peristiwa yang menewaskan 37 jiwa relawan dan warga itu dapat menjadi pelajaran berharga bagi siapapun untuk terus mendekatkan diri kepada Sang Khaliq. “Monggo sesarengan kito lestarikan alam, amargi kito namung mahluk lemah.”

Ketua Penyelenggara penanaman 2000 pohon dan upacara Wana Kerti, Nyoman Edi, mengaku tidak senang dengan konflik antaragama. Ia justru menyarankan adanya keharmonisan dari para pemeluk agama di Indonesia khususnya di Yogyakarta. Tujuan penanaman 2000 bibit pohon di Gunung Merapi guna mengembalikan alam akibat erupsi 2010 lalu.

Di belakang gunungan, Umat Hindu memasuki lokasi upacara Wana Kerti di Pendopo Kinahrejo.

Di belakang gunungan, Umat Hindu memasuki lokasi upacara Wana Kerti di Pendopo Kinahrejo. (FOTO : DOK.KSOL/A,S.ADAM)

“Bagaimana menempatkan perbedaan itu menjadi penuh warna secara harmonis dan damai. Kita tidak menginginkan konflik atarumat agama,” kata Nyoman Edi kepada Kabar Sumatera di halaman pendopo Kinahrejo.

Kami berharap, lanjut Nyoman Edi, umat Hindu di Sumatra dapat berbaur dengan umat lain sehingga terjalin keharmonisan toleransi dan dapat melaksanakan kegiatannya. Teruslah menjalin komunikasi yang baik antarumat dan antarmasyarakat untuk mewujudkan Kebinekaan Tunggal Ika, seperti halnya kami di Yogyakarta.

“Semoga dengan saling menghargai ini bangsa Indonesia semakin damai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkasnya.

Dari pantauan dan informasi yang dihimpun Kabar Sumatera, meski tidak mendapat ijin dari pihak Kraton untuk menyelenggarakan labuhan hingga Sri Manganti di Pos 1 (satu) Gunung Merapi, dan dialihkan ke mata air tuk pitu di sebelah barat halaman Kinahrejo, rentetan Hari Raya Nyepi Umat Hindu berjalan lancar.

Sejumlah truk dan bus dari Angkatan Udara dikerahkan untuk mengangkut penumpang umat Hindu yang mengikuti upacara Wana Kerti di Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.

TEKS : A.S. ADAM




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *