Fir Azwar : Ini Sumbangan Sukarela Bukan Pungli, SMAN 10 Akan Lakukan Upaya Hukum

Fir-Azwar. S.Pd, Kepsek SMAN 10 Palembang

Fir-Azwar. S.Pd, Kepsek SMAN 10 Palembang

PALEMBANG | KSOL – Kesepakatan bersama dalam rapat dengan Komite Sekolah SMA Negeri (SMAN) 10 Palembang tentang sumbangan sukarela berbuntut panjang. Pasalnya kesepakatan itu dituduh oleh oknum wali murid SMAN 10 sebagai bentuk pungutan liar (pungli).  Ironisnya, persoalan ini sudah menjadi pemberitaan di media cetak Palembang, edisi Jumat (25/11/2016).

Menanggapi hal itu, Fir Azwar, Kepala SMAN 10 membantah atas tuduhan itu. Menurut Fir, sesuai kesepakatan dalam rapat dengan Komite Sekolah SMAN 10 Palembang telah memutuskan menerima sumbangan sukarela dari seluruh siswa.

“Itu sumbangan sukarela, bukan pungli. Sebab setiap siswa tidak wajib memberi sumbangan. Selain itu, jumlah sumbangan juga berbeda sesuai kemampuan wali murid dan sumbangan yang diterima langsung masuk ke rekening Komite Sekolah,” tegasnya.

Lebih lanjut Fir mengemukakan, jumlah murid di SMAN 10 saat ini 1460 siswa. NamunFir mengaku, hingga saat ini pihaknya baru menerima sumbangan dari 170 siswa.

“Itu artinya, kami tidak memaksakan, kalau kami memaksakan minimal separuh dari jumlah murid ataupun semua murid harus membayar sumbangan,” ungkapnya.

Terkiat dengan hal ini, pihaknya akan melakukan upaya hukum kepada oknum wali murid maupun pihak media cetak yang dianggap sudah membeberkan berita yang menyesatkan publik. “Kami merasa sangat disudutkan dan dilecehkan dengan pemberitaan itu,” ujarnya.

Fir juga mempertanyakan dan memprotes maksud desain seragam PGRI di media cetak tersebut dengan desain yang melecehkan.

“Dengan membuat desain itu, sudah sangat melecehkan simbol-simbol dunia pendidikan terutama di Kota Palembang,” tegasnya.

Sementara Heru salah satu orang tua murid SMAN 10 yang berhasil dimintai keterangannya terkait isu pungli sangat terkejut, Sebab menurutnya tidak ada laporan dari putrinya terkait pungli di sekolahnya. Namun ia terima adalah sumbangan sukarela.

“Setahu saya tidak ada permintaan dana yang macam-macam. Selama ini anak saya melaporkan adanya sumbangan sukarela dari pihak sekolah. Memang ada, tapi itu hasil dari rapat komite yang saat itu juga saya menghadirinya. Besarannya 0 sampai empat ratus ribu sekian. Pastinya saya tidak ingat. Itupun sifatnya sukarela karena rencananya akan digunakan untuk membeli laptop, untuk melancarkan proses Ujian Nasional Berbasil komputer (UNBK),” tukas Heru.

TEKS/FOTO : SN. KUSHARDIAN  | EDITOR : IMRON SUPRIYADI



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *