BERPIKIR dengan JANTUNG

Bagi kebanyakan orang, selama ini ada dua istilah, hati dan jantung. Jika orang tersinggung selalu mengatakan sakit hati. Tetapi benarkah selama ini yang merasa sakit adalah hati. Tetapi ketika sakit hati yang dipegang adalah dada, tempat jantung berada?

——————————————-

Fenomena jantung dan hati hingga saat ini masih menjadi perdebatan. Tentu hal ini terjadi karena berbeda sudut pandang. Seorang dokter melihat jantung sebagai organ yang memompa darah ke seluruh tubuh. Demikian pula hati, berfungsi sebagai penawar racun yang masuk dalam tubuh manusia.

foto-pak-jalal-telaah

Prof H Jalauddin

Tetapi, sejumlah pendapat bermuncullan. Seperti dikemukakan Prof DR Jalaluddin, Guru Besar IAIN Raden Fatah Palembang. Menurunya, jantung menyimpan tiga potensi, yaitu potensi emosional, intelektual dan spiritual. Dengan itu, manusia dapat memahami pesan-pesan ketuhanan. Menurut Jalal, selama ini yang banyak dipahami oleh dunia kedokteran, hanya membahas fungsi fisiknya. Tetapi nilai-nilai non fisik dari jantung itu sendiri jarang menjadi pokok bahasan.

Lebih lanjut, jalal mengatakan jantung secara non fisik berfungsi untuk memahami pesan yang yang tidak bisa dilihat panca indera. Tetapi yang selama ini dipahami masyarakat, jantung hanya berfungsi secara fisik saja. Padahal dari hasil penelitian ilmuan, jantung lebih dari sekadar memompa darah, tetapi lebih dari itu, jantung merupakan organ tubuh yang memiliki fungsi untuk memahami pesan yang diterima oleh panca indera.

Hati atau Jantung : Kesalahn Sebutan

Menurut Jalal, jantung yang selama ini sering disebut oleh banyak orang dengan istilah hati, hanya kesalahan sebutan saja. Padahal yang seharusnya bukan hati, tetapi jantung. Istilah hati yang sebenarnya jantung itu, menurut Jalal hanya kekeliruan pepatah masyarakat melayu, seperti jantung hati, lentera hati dan lainnya. Padahal menurut Jalal, hati yang disebut oleh banyak orang itu tidak ada hubungannya dengan emosi dan nilai spiritual. “Nilai emosional, intelektual dan spiritual itu adanya di dalam jantung,” tegasnya, (03/01/2014).


BACO JUGO ARTIKEL LAINNYO :


Ditanya hubungannya dengan otak, Jalal menyebutkan, otak hanya sebagai pengolah data yang masuk melalui panca indera. Jalal mengibaratkan, dalam memasak. Otak berfungsi mengolah, atau diistilahkan Jalal memasak data yang diterima indera. Sementara untuk memahaminya, bukan dalam otak, tetapi dalam jantung.  Jalal mengutip Al Quran dalam Suroh Al A’rof ayat 179, yang menyebutkan ; mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). “Dari pemahaman yang salah itu, kemudian mempengaruhi persepsi. Karena persepsinya salah, kemudian mempengaruhi sikap dan perilaku. Karena paradigmanya yang keliru,” tegasnya.

Jalal mencontohkan terhadap kesalahan makna “ummi” yang diartikan pada diri Nabi Muhammad SAW, sebagai orang yang dianggap buta huruf.  Maka masyarakat menilai kalau Nabi orang yang bodoh. Akibat persepsi yang salah, maka Nabi Muhammad seolah-olah bodoh dan tidak pantas diikuti perintahnya. Sebab Nabi dianggap buta hurtuf.

Padahal menurut Jalal, Nabi Muhammad itu sangat jenius. Sebab Nabi Muhammad mendapat pendidikan sebaik-baik pendidikan, yaitu lansung dari Tuhan. “Kalau dididik S.1 saja pintar, apalagi dididik oleh Tuhan. Jadi sebenarnya Nabi Muhammad itu sangat jenius, gelarnya Nabi itu ada 24 huruf (shollahu ‘alaihi wassalaam), jadi memang jenius,” tegasnya.

E-SYAIFULLAH.

E-SYAIFULLAH.

Sementara itu, DR E. Syaifullah, MA mengatakan, ada istilah yang sering muncul di masyarakat, yaitu, hati dan jantung. Menurutnya hati, disebut dalam bahasa arab kabidun. Sementara qalb berarti jantung. Menurutnya, jantung berfungsi akal untuk memahami yang berada di luar panca indra.  Sementara pikir organnya otak yang berfungsi untuk menganalisa hal-hal fisik yang ditangkap oleh panca indra.

Lebih lanjut E Syaifullah menegaskan, qalb merupakan pusat segala rasa, bakat, potensi dan ingatan (remembering heart). Oleh sebab itu, menurutnya, jika dihubungkan dengan ayat Al-Quran (Surah Al-A’raf :179), orang kafir itu punya qalb yang tidak digunakan untuk memahami. “Kalau kemudian orang kafir itu tidak sampai pada iman, karena yang mereka gunakan pikirannya, yang hanya menangkap yang fisik saja. Manusia diberi akal untuk menerima keimanan. Oleh sebab itu Allah Swt menurunkan Al-Huda (petunjuk). Sebab hanya dengan akal itulah manusia dapat menerima petunjuk tersebut,” tegasnya.

Terpisah, DR Idrus Alkaf, MA, akademisi Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang ini menilai persoalan ini dari perpektif tasauf. Menurutnya, jika bicara soal hati, tidak lepas dari pendekatan tasauf. Sebab menurut Idrus, tujuan tasauf itu untuk mencapai hakikat, dan hakikat itu adalah Allah Swt.

idrus-al-kaf

idrus-al-kaf

“Alam hakikat itu alam spiritual, maka untuk memahaminya juga harus dengan cara spiritual. Alatnya apa? ya alatnya hati. Jadi fungsi indra itu untuk membantu hati. Panca indra hanya melihat yang fenomena  yang fisik saja. Lalu dengan memfungsikan dzikir, akhirnya sampai pada mussyahadah, atau penyaksian hati dan sampailah pada makrifat kepada Allah,” tegasnya.

Idrus juga menyebutkan, kerja hati itu merasa dan hasilnya makrifat kepada Allah.  “Jadi kerja hati merasakan, artinya merasakan segala sesuatu, supaya kita dekat dengan Allah. Jadi jalanya harus merasakan. Kata Rumi, kalau kita ingin merasakan api, maka harus  bakar diri kita, tidak bisa bisa hanya dengan cerita saja,” tambahnya.

Idrus mengumpamakan bagaiamna seseorang yang ingin merasakan rasanya gula. Rasa gula, tidak bisa dengan membaca buku, tetapi harus dirasakan. “Nah, yang merasakan langsung ini ilmu tasauf. Dan yang merasakan lansung inilah yang disebut ilmu khuduri, ilmu kehadiran langsung dari Allah, jalannya melalui hati.

Ilmu Khuduri menurutnya, ilmu lansung tanpa perantara yang datang dari Allah, (ilmu khuduri. Ilmu laduni, ilmu mukashafah, ilmu makrifat). “Ilmu itu letaknya dimana? Letaknya di hati yang sudah disiapkan, jalannya melalui syariat, hakikat dan makrifat. Melalui hati yang sudah disiapkan melalui takholli, tahalli, tajalli,” tegasnya.**

—————————————-   Komentar Mahasiswa 

Fauzan

Fauzan

Fauzan (Mahasiswa IAIN Raden Fatah Jurusan Biologi).

Menurut saya jantung dan hati adalah sesuatu yang berbeda. Secara anatomi jantung terletak di dada sebelah kiri, sementara hati berada disebelah kanan bawah diafragma. Namun di masyarakat kita sering “latah” ketika menggunakan bahasa asing untuk menyatakan sakit hati, tetapi yang ditujukannya adalah jantung di sebelah kiri dadanya. Padahal hati sebenarnya tidak dapat merasakan kesedihan, gembira atau lainnya yang bersifat psikologis.

Dalam bahasa inggris “heart” berarti jantung sementara hati dikenal dengan istilah “liver”. Jantung menurut pemahaman saya berpungsi untuk memompah darah keseluruh tubuh dan liver berpungsi sebagai penawar racun yang masuk kedalam tubuh. Akan tetapi dalam islam ‘segumpal daging yang kemudian diartikan sebagai jantung tersebut juga dapat merasakan gejala psikologis seperti marah, sedih, takut dan gugup.

Doni-Maryanto

Doni-Maryanto

Doni Maryanto (Mahasiswa di Palembang)

Menurut saya jantung berpungsi untuk mengatur pernapasan yang terletak di dada sebelah kiri. Jika orang mengatakan sakit hati itu adanya di dada, maka persepsi saya sakit hati itu hanya bisa diungkap namun tak bisa dilihat bagaimana bentuknya rasa sakit hati itu. Antara jantung dan hati saling membutuhkan yang tak dapat dipisahkan.  Jantung juga dapat menentukan lemah atau kuatnya fisik seseorang, akan tetapi seseorang yang merasakan sesuatu apakah dihati atau dijantung belum dapat diketahui secara pasti.

SUMBER : Harian Umum Kabar Sumatera (versi cetak) : 02/01/2014



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *