Pemuda Indonesia Pahlawan Dunia (Memeringati Hari Pahlawan 10 November)

 

Oleh : Mokhammad Siswandi (Ketua Bidang Kepemudaan DPW PKS Sumsel)

Oleh : Mokhammad Siswandi
(Ketua Bidang Kepemudaan DPW PKS Sumsel)

Tepat hari ini (10 November 2016), bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan Nasional. Pada lembaran sejarah perjuangan bangsa-bangsa di dunia, rentetan peristiwa heroik 71 tahun lalu itu mendapat tajuk ‘Battle of Surabaya’.

Terkait peristiwa itu, fragmen sejarah yang melekat di memori kita adalah peristiwa perobekan bagian biru bendera Belanda di Hotel Yamato, Surabaya hingga menyisakan bagian merah putih yang merupakan bendera kebangsaan Indonesia.

Bentrokan terjadi antara para pejuang rakyat dengan tentara Inggris. Mereka datang ke Indonesia atas nama tentara Sekutu dan bertugas melucuti tentara Jepang di tanah air.

Diketahui kemudian, tentara Sekutu membawa misi mengembalikan Indonesia kepada pemerintah Belanda sebagai daerah jajahan NICA (Netherlands Indies Civil Administration).

Bentrokan ini kemudian mengakibatkan terbunuhnya komandan tentara Sekutu Brigadir Jenderal Mallaby pada 30 Oktober 1945. Penggantinya, Mayor Jenderal Mansergh mengeluarkan ultimatum agar semua pejuang Indonesia yang memiliki senjata harus menyerahkan diri dengan tangan di atas. Ultimatum yang disiarkan melalui radio dan selebaran dari pesawat terbang tersebut harus dilaksanakan oleh rakyat Indonesia paling lambat pukul 6:00 pagi pada tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut ditanggapi dengan penolakan oleh bangsa Indonesia yang telah memiliki tentara sendiri, yakni Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang merupakan cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Selain itu, terdapat pula badan-badan perjuangan lain yang dibentuk rakyat sebagai upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru saja diraih.

Bung Tomo (FOTO. Wikipedia.com)

Bung Tomo (FOTO. Wikipedia.com)

Bung Tomo tampil dengan pidatonya yang berapi-api. Ia mengajak para pemuda dari seluruh wilayah Indonesia untuk berjuang hingga titik darah penghabisan dengan semboyan: merdeka atau mati. Di pengujung pidatonya, Bung Tomo memekikkan kalimat takbir, Allahu Akbar sebanyak tiga kali dan ditutup dengan teriakkan: Merdeka!

Karena ultimatum tak diindahkan, sesuai janjinya, tentara Inggris menggempur penjuru kota Surabaya. Sebanyak 30.000 prajurit, 50 pesawat terbang, tank, dan kapal perang dikerahkan.

Kota Surabaya dibombardir dari darat, laut, dan udara. Pertempuran ini menjadi perang pertama melawan tentara asing bagi Indonesia setelah kemerdekaan dan menjadi salah satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah bangsa.

Sejarah mencatat, sekitar 6 hingga 16 ribu pejuang dan rakyat Indonesia yang tewas. Sementara 200 ribu rakyat terpaksa mengungsi meninggalkan kota Surabaya. Sementara korban di pihak pasukan Inggris dan Belanda berkisar 600 hingga 2 ribu prajurit.

Inggris menargetkan Surabaya ditaklukkan dalam waktu 3 hari. Namun demikian, semangat perjuangan bangsa Indonesia tetap berkobar tak kenal padam. Hal ini dipicu kecintaan terhadap tanah air, penolakan terhadap upaya penjajahan atas sebuah bangsa, serta semangat memperjuangkan nilai agama, yakni perjuangan di jalan Allah, hidup mulia atau syahid mendapat surga.

Indonesia Adalah Bangsa Besar

Founding Father Republik Indonesia, Ir Soekarno dalam pidatonya yang sangat terkenal pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 1961 mengatakan: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.”

Bung Karno mengingatkan kita bahwa bangsa Indonesia pada hari ini adalah buah jasa dari pahlawan yang perjuangannya tersebar dari Aceh hingga Papua. Kita mengenal Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien di Aceh, Sisingamangaraja di Sumatera Utara, Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat, Sultan Mahmud Badaruddin II di Sumatera Selatan, Dewi Sartika dari Jawa Barat, Pangeran Diponegoro dan RA Kartini di Jawa Tengah, Bung Tomo di Jawa Timur, I Gusti Ngurah Raid an Untung Surapati dari Bali.

Kemudian, Pangeran Antasari dari Kalimantan Selatan, Tjilik Riwut di Kalimantan Tengah, Sultan Hasanuddin dari Sulawesi Selatan, RW. Monginsidi dari Sulawesi Utara, Pattimura dan Christina Marta Tiahahu dari Maluku, hingga Silas Papare dan Frans Kaisepo dari Papua.

Di luar nama-nama tersebut tentu saja masih banyak sekali nama-nama pejuang baik pada masa pra kemerdekaan hingga masa kemerdekaan yang memiliki jasa bagi bangsa Indonesia.

Selanjutnya, untuk kembali mengingat cita-cita dan tujuan didirikannya bangsa Indonesia, kita perlu kembali membaca pembukaan UUD 1945. Ditegaskan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampai kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Suasana pertempuran Surabaya 10 November 1945 (FOTO.Google Image)

Suasana pertempuran Surabaya 10 November 1945 (FOTO.Google Image)

Disana ditegaskan pula, kemerdekaan Indonesia diperoleh atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas. Untuk itu dibentuklah suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social.

Ditegaskan pula bahwa kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu disusun dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Pancasila.

Melalui teks pembukaan UUD 1945 ini terlihat kebesaran bangsa Indonesia yang juga diakui dunia. Bangsa Indonesia tidak ingin kemerdekaan hanya dinikmati oleh bangsa ini sendiri, namun juga mengkampanyekan untuk penghapusan segala bentuk penjajahan di atas dunia.

Indonesia pun menjadi pelopor Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KTT-AA) yang melahirkan Dasasila Bandung dan berdirinya Gerakan Non-Blok (GNB) atau dalam bahasa Inggrisnya Non-Aligned Movement (NAM).

Untuk diketahui, GNB diikuti lebih dari 100 negara di dunia dan menjadi representasi lebih dari 55 persen populasi dunia. Kebijakan politik luar negeri bangsa Indonesia ini menjadi tinta emas bagi peradaban dunia.

Saat ini, bangsa Indonesia kembali menunggu lahirnya politisi-politis berjiwa negarawan yang mampu mengubah wajah dunia dan menjadi kebanggaan negeri. 

Pemuda Indonesia Mengguncang Dunia

Orasi lain dari Bung Karno yang diingat hingga hari ini adalah, “Berikan aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, nisaca akan kuguncangkan dunia.”

Saat ini dunia global dihadapkan pada masalah bersama, yakni perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, keterbatasan pangan dan cadangan air bersih, menipisnya persediaan minyak dan gas bumi, over populasi, narkoba, stagnansi perekonomian, hingga terorisme dan senjata pembunuh massal.

Persoalan tersebut berpotensi menimbulkan konflik sumber daya, kemerosotan ekonomi yang berdampak pada meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan. Lalu berdampak pada kebodohan dan tingkat kesehatan yang rendah. Kemiskinan juga membawa orang jauh dari nilai-nilai agama dan mengakibatkan degradasi moral.

Lantas, apa peran yang perlu dimainkan oleh pemuda menghadapi tantangan global ini. Pemuda, memiliki semangat dan kekuatan untuk merubah ancaman menjadi potensi dan peluang. Melalui tangan-tangan pemuda yang kreatif akan lahir inovasi-inovasi baru yang membawa perubahan bangsa ke-arah yang lebih baik.

Pemuda yang mampu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pemuda seperti itulah yang diharapkan untuk menjadi pahlawan bagi dunia. (*)

Catatan : Tulisan ini telah bebas dari Plagiarism Checker 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *