Warga Yogyakarta Lestarikan Batik Pakualaman

YOGYAKARTA | KSOL – Sejak mendapat predikat Ibu Kota Batik Dunia, salah satu Paguyuban Batik di Yogyakarta menggiatkan kebiasaan membatik melalui Pelatihan Batik Pewarna Alam, Sabtu (5/11/2016) pagi, diikuti oleh kaum perempuan dan pria.

Menurut Ketua Dua Paguyuban Batik Taruntum, Rini Setiyaningsih, kegiatan ini dapat berjalan secara rutin sejak 2013 karena dukungan dari beberapa pihak yang peduli terhadap batik.

“Biasanya kami mengajukan bantuan ke berbagai pihak setiap kali kegiatan akan diadakan,” kata Rini, salah seorang pembatik bergaya Pakualaman.

3.Lurah Purokinanti, Pakulaman turut dalam kegiatan membatik bersama, Sabtu (5/11/2016) pagi, FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Lurah Purokinanti, Pakulaman turut dalam kegiatan membatik bersama, Sabtu (5/11/2016) pagi, FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Kepada Kabar Sumatera ia juga mengatakan bahwa batik-batik hasil karya Paguyuban ini juga diikutsertakan dalam berbagai pameran, meski sebagian kadang diborong oleh peminat batik. “Sekarang harga kain batik tulis mulai 400 ribu hingga 30 juta rupiah.”

“Dulu pernah ada tawaran pesanan dari Jakarta, tapi karena pembatiknya sedikit, kami belum sanggup karena jumlahnya ditarget,” kata Rini. “Warga juga memanfaatkan kegiatan rutin membatik untuk arisan dan simpan pinjam sebagai wujud talisilaturahim warga.”

3.Bambang salah seorang peserta kegiatan membatik bersama sedang memproses batik karyanya sendiri, Sabtu (5/11/2016) pagi, FOTO.DOK.KSOL/ADAM.

Bambang salah seorang peserta kegiatan membatik bersama sedang memproses batik karyanya sendiri, Sabtu (5/11/2016) pagi, FOTO.DOK.KSOL/ADAM.

Praktisi dan pembatik Yogyakarta, Flora, justru menyayangkan hanya sedikit yang menggunakan tumbuhan sebagai bahan pewarnaan dalam membatik. Padahal masih banyak tumbuhan yang bisa diolah tidak hanya sebagai pewarna batik tetapi juga kegunaan bermanfaat lainnya.

Meski mengaku selalu memanfaatkan tumbuhan, ia tidak hanya sebatas menggunakan saja melainkan juga turut membudidayakan berbagai tanaman salah satunya pohon Jolawe—pohon yang berbuah tiap sepuluh tahun dan sudah mulai punah.

4.Praktisi dan pembatik, Flora, sedang mengarahkan peserta saat mengikuti kegiatan membatik bersama di Pakualaman, Sabtu (5/11) pagi, FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Praktisi dan pembatik, Flora, sedang mengarahkan peserta saat mengikuti kegiatan membatik bersama di Pakualaman, Sabtu (5/11) pagi, FOTO.DOK.KSOL/ADAM

“Saya sengaja memanfaatkan pohon, buah dan tumbuhan sebagai pewarna alami, seperti buah pohon Jolawe karena ingin menghindari bahan-bahan kimia dan lebih ramah lingkungan,” kata pemilik Lien Collection.

Flora juga mengaku tidak menggunakan rempah-rempah konsumsi seperti bumbu-bumbu dapur karena dapat memudarkan pewarnaan.

“Bahan pewarna batik dari rempah-rempah konsumsi itu tidak kuat untuk kain. Kalau buah atau daunnya bisa dikonsumsi maka tidak akan jadi,” terangnya kepada Kabar Sumatera. “Dan saya hanya menggunakan pohon-pohon yang kuat di pewarnaannya.”

“Ini kegiatan keren yang dilakukan masyarakat Yogyakarta, terutama warga Pakualaman,” katanya.

Salah seorang peserta, RAY Esmirani, rela menyediakan tempat untuk kegiatan membatik. Ia  menawarkan rumah kosongnya untuk Paguyuban Batik Taruntum, Kelurahan Purwokinanti, Kecamatan Pakualaman agar kegiatan bisa berjalan. “Daripada rumah ini kosong, saya persilakan dimanfaatkan untuk kegiatan membatik warga Pakualaman, meski kondisinya seperti ini.”

Esmirani tidak menyangka kegiatan batik tiap bulan sekali ini berdampak positip bagi warga sekitar. Menurut dia, paling tidak warga setempat termotivasi untuk turut membatik.

Bambang salah satu anggota payuban cukup senang dapat mengikuti kegiatan membatik. Selain dapat ilmu, hasil batiknay terkadang juga diminati oleh pecinta batik. “Kegiatan ini tidak hanya untuk kaum ibu melainkan juga bapak-bapak warga di sini.”

Suasana kegiatan membatik bersama di kediaman RAY Esmrani, Sabtu (5/11) pagi, FOTO.DOK.KSOL/ADAM.

Suasana kegiatan membatik bersama di kediaman RAY Esmrani, Sabtu (5/11) pagi, FOTO.DOK.KSOL/ADAM.

Dalam membatik, Bambang memilih jenis kain prima. Selain halus, lilin yang menempel pada kain prima dapat mudah meresap ke pori-pori kain sehingga tidak menyulitkan pada saat proses pewarnaan.

Kompor seharga 350 ribu dapat dipakai oleh empat pembatik. Meski kosnya terasa agak tinggi namun lebih praktis dibanding menggunakan arang dan minyak. Selain mudah dikontrol pada apinya, kompor listrik khusus batik juga lebih bersih. “Ini mirip seni sablonase, hanya bahan dan teknik yang membedakan dari keduanya,” katanya.

Selain di Pakualaman, kegiatan membatik juga terdapat di wilayah/kampung lain di Yogyakarta. Sedangkan di dalam Kraton Pakualaman sendiri setiap hari kegiatan batik selalu ada.

 TEKS / FOTO : A.S. ADAM (YOGYAKARTA)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *