Kota 1001 Julukan

Oleh A.S. Adam (Wartawan kabarsumatera.com di Yogyakarta)

Oleh A.S. Adam (Wartawan kabarsumatera.com di Yogyakarta)

Gejolak politik menjelang pemilihan gubernur di Jakarta merembet ke kota-kota lain di Indonesia. Yogyakarta terimbas rebutan Jakarta 1.

UNJUK rasa besar-besaran terhadap Ahok serempak di sejumlah kota di Indonesia.  Ahok dikasuskan soal Al Maidah. Ia menampik melecehkan Al Qur’an. Kesimpangsiuran membuat sejumlah umat Islam bingung: benarkah Ahok melakukan penistaan itu? Sedangkan yang lain setuju Ahok mengatakan Al Maidah bohong.

Yogyakarta bukan Jakarta, begitu pula sebaliknya. Penyebutan Jogja melulu dimunculkan pada rebutan kursi Jakarta 1. Sejak dunia mengakui Yogyakarta—jauh sebelum Republik Indonesia lahir—jauh sebelum dirajai mantan Wakil Presiden Republik Indonesia Sri Sultan Hamengku Buwono ke-9, mutlak Yogyakarta merupakan Negara tersendiri yang lebih maju dibanding Indonesia. Setelahnya, Yogyakarta adalah Indonesia kecil kedua sesudah Jakarta. Maka tak afdol jika kota yang pernah menjadi Ibu Kota Negara itu tidak disebut-sebut.

BACA OPINI TERKAIT LAINNYO :  Al Maidah 51 Membelit Ahok

Selain mianiatur Indonesia, Yogyakarta adalah rujukan budaya humanity setelah tahun 2012 lalu UNESCO mengesahkan menjadi Ibu Kota Batik Dunia. Bahkan tak bisa mengelak tahun 2014 WCC tegaskan kembali Yogyakarta merupakan Ibu Kota Batik Dunia. Dan baru-baru ini, kali pertama di Yogyakarta, di Indonesia dan di Dunia, Jogja menjadi tuan rumah pertemuan batik internasional. Dunia memilih Jogja. Karena pengaruh besar Yogyakarta, akibatnya—kota seribu satu julukan itu—menarik perhatian perang politik.

Tersiarnya kabar pelecehan Ahok terhadap Al Maidah di video, sayangnya tidak ada yang benar-benar menonton video berdurasi lebih sejam itu. Jadi bertanya-tanya: apakah ada yang tahu waktu menit ke berapa Ahok mengucapkan pelecehan Al Maidah? Saya sendiri tidak suka Ahok. Tapi bukan lantas harus menyebar fitnah. Secara tugas pegawai negeri, ia justru lebih baik daripada lainnya. Setuju atau tidak, Ahok cocok jadi teman daripada jadi pejabat tinggi.

Teriak penolakan terhada Ahok semakin keras. Tolak Ahok di sosmed dan media massa semakin santer. Bahkan di masjid-masjid. Ia tak pantas jadi gubernur atau presiden. Tapi Ahok anti korupsi, kolusi dan nepotisme. Ia menolak keras KKN. Seorang anak bertanya kepada bapaknya, “Ahok itu kafir?”, dijawab bapaknya, “Ahok hanya belum Islam.” (*)

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *