Pameran “Nandur Serawung” Upaya Mengembalikan Kepribadian Indonesia

YOGYAKARTA | KSOL—Yogyakarta merupakan kotanya para seniman. Para seniman di Kota Yogyakarta dibebaskan untuk berkarya. Bahkan Pemerintah Yogyakarta memberi ruang kreatifitas tanpa batas.

Setelah sukses dengan berbagai pameran dan pertunjukan sejak Januari lalu, tahun ini Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kembali menyajikan Pameran Seni Rupa Nandur Srawung (PSRNS) ke-3 bersama ratusan seniman muda dan tua.

1.1Cokekan Puspo Warno dari Rotowijayan pimpinan Panji Gilig Atmadi dan tari Nawung Sekar, sebelum pameran dibuka dan diresmikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Yogyakarta Umar Priyono, Ahad (16/10) FOTO.DOK.KSOL/ADAM

1.1 Cokekan Puspo Warno dari Rotowijayan pimpinan Panji Gilig Atmadi dan tari Nawung Sekar, sebelum pameran dibuka dan diresmikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Yogyakarta Umar Priyono, Ahad (16/10) FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Yogyakarta, Umar Priyono, sangat mendukung dan mengapresiasi pameran bertajuk “Nandur Srawung” yang diikuti oleh 580 seniman rupa di Yogyakarta.

Lebih dari ratusan karya seni rupa dipamerkan dalam event tahunan ini, mulai karya individu maupun kelompok. Karya-karya yang dipamerkan mengusung tema berbeda-beda.

1.3Cokekan Puspo Warno dari Rotowijayan pimpinan Panji Gilig Atmadi menghibur pengunjung hingga menjelang senja, Ahad (16/10) FOTO.DOK.KSOL/ADAM

1.3 Cokekan Puspo Warno dari Rotowijayan pimpinan Panji Gilig Atmadi menghibur pengunjung hingga menjelang senja, Ahad (16/10) FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Dalam sambutannya, Umar Priyono sangat mengapresiasi PSRNS yang diikuti sejumlah seniman—melebihi dari batas quota yang ditentukan. “Ini luar biasa,” ujarnya.

“Kami berharap seniman dapat Golog Gilig menampilkan potensi  dan berbagai karya seni dengan yang muda-muda,” tambahnya.

1.4Sejumlah karya seni Totem di Pelataran Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Ahad (16/10) FOTO.DOK.KSOL/ADAM

1.4 Sejumlah karya seni Totem di Pelataran Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Ahad (16/10) FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Umar Priyono sempat menceritakan guyonannya dengan Mien Brojo. “Pak Umar, kalau mau sehat melukislah, karena berkesenian dapat membuat sehat,” kata Umar Priyono menirukan Mien Brojo.

Dalam helatan seni rupa kali ini, dirinya mengajak warga Jogja untuk memanfaatkan PSRNS sebagai event untuk saling belajar, memberikan ruang bagi siapapun untuk berkreatifitas dan berbudaya.

Meski pembukaan pameran meleset dari jadwal yang ditentukan, namun sejak sore pukul 15.00 WIB pelataran TBY di Jalan Sriwedani No. 2 Yogyakarta, tidak hanya dipenuhi seniman peserta pameran, melainkan juga warga Yogyakarta pecinta dan pegiat seni.

Pameran di TBY yang berlangsung  pada 16-23 Oktober 2016 menjadi titik pertemuan lintas seniman. Di sini pula siapapun dapat saling berbincang-bincang dengan para pegiat dan pelaku seni, bahkan dengan para seniman.

Salah satu aktor film dan sinetron sekaligus perupa, Liek Suyanto, senang dan bangga Yogyakarta punya acara “Nandur Srawung”. Ia berharap dari Nandur Srawung tidak ada sekat-sekat terhadap seni, namun justru sebaliknya membuat guyup bagi siapapun—khususnya bagi pelaku seni itu sendiri.

“Yogyakarta menjadi contoh bahwa keguyupan yang selalu terjaga dapat membangkitkan yang muda-muda untuk berkesenian,” katanya.

Meski Liek Suyanto mengaku belum seberapa dibanding seniman rupa lain, namun ia tetap menyerahkan karya lukisannya kepada pihak penyelenggara sebagai wujud apresiasi terhadap Pameran Seni Rupa Nandur Srawung di Yogyakarta. “Berulangkali saya mengatakan bahwa saya bukan pelukis.”

Dari event tahunan ini ia berharap Nandur Srawung yang melibatkan usia anak-anak hingga yang tua dapat membuat generasi muda tertarik terhadap dunia seni. “Kalau yang tua masih bisa berkarya, kenapa yang muda tidak bisa berkarya?” katanya.

inilah Nandur Srawung, sekaligus menyambung ke anak-anak akan untuk terus terbangun dalam setiap diri mereka. Begitu juga sebaliknya. Ia bahagia, karena pada pameran ini seniman-seniman di Jogja mendukung Nandur Srawung.

“Inilah yang kerap saya katakan, perupa di Yogyakarta semakin menggeliat dan menjadi magnet. Dan Jogja makin istimewa,” katanya saat diwawancarai Kabar Sumatera di tengah kerumunan pengunjung pameran, Ahad (16/10) sore.

Ia berpesan Nandur Srawung jangan hangat-hangat tai ayam. Karena kegiatan kesenian tidak hanya sekadar wacana—harus berlanjut-berlanjut—dan berlanjut.

Nandur Serawung memberi  kesempatan bagi siapapun, terutama insan seni (perupa) untuk turut ambil bagian di dalamnya, tanpa memandang usia maupun strata pendidikan.

Hal ini disampaikan Ketua Penyelenggara, Yamik, kepada Kabar Sumatera beberapa waktu lalu sebelum hari ‘H’ pameran.

“Pameran ini sekaligus merayakan kebebasan berekspresi , membangun komunikasi melalui seni, dan menjadikan semangat untuk membangun laboratorium penciptaan seni antara seniman dan publik seni,” katanya usai pembukaan.

1.5 “Kami Hidup” karya kelompok Sanggar Sayap Ibu dipamerkan dengan menampilkan super power yang Indonesiais, Ahad (16/10) FOTO.DOK.KSOL/ADAM

1.5 “Kami Hidup” karya kelompok Sanggar Sayap Ibu dipamerkan dengan menampilkan super power yang Indonesiais, Ahad (16/10) FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Yamik melanjutkan, karya anak bangsa juga diambil sebagai konsep utama dari Nandur Srawung ke-3, di mana ia mengambil spirit TBY yang hadir sebagai ruang presentasi seni, laboratorium penciptaan, dan ruang publik.

“Srawung bukan semata slogan melainkan menjadi jembatan apresiasi bersama publik.”

Aktris film sekaligus seniwati, Mien Brojo, turut dalam Pameran Seni Rupa Nandur Srawung. Namun ia mengkritik perupa Indonesia yang kebarat-baratan. Menurutnya perupa Indonesia seharusnya mampu mengenakan kekhasan daerahnya dalam berkarya.

“Tojolkanlah budaya kesenian kita penuh kepribadian dan terus berkarya,” kata salah satu pemeran “Malam Jahanam” karya Motinggo Busje.

Dengan pameran bersama seperti ini, tambahnya, dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan karya kita terhadap publik. Masalah laku dan tidak laku itu persoalan lain. Namun yang jelas pihak penyelenggara telah memberi kesempatan bagi perupa usia anak-anak hingga yang tua-tua. “Semoga pameran ini dapat semakin menambah kemajuan dalam berkesenian, khususnya seni rupa,” harapnya.

Sejumlah seniman muda yang tergabung dalam kelompok Komporseni turut dalam pameran totem. Mereka memamerkan totem yang berbeda dari lainnya. Unik dan nyelekit.

Rumah yang disusun ke atas bertumpuk, menggambarkan kenyataan di Yogyakarta. Jemuran, kuburan, warung, tempat pijit dan gambaran keseharian yang kerap dijumpai ditampilkan dalam bentuk yang apik.

Peserta Totem PSRNS, kelompok Komporseni, dengan gaya berbeda dari peserta lain. Mereka mengeritik Yogyakarta yang sebagian masyarakat sudah terjangkit gaya urban.

Mewakili kelompok Komporseni, Mahendra mengaku perihatin terhadap Yogyakarta yang semakin urban—mendekati berubah metropolis.  Menurutnya, reaitas ini membuat anak-anak jauh dari pendidikan.

“Mari bersama-sama masuk di dalamnya. Di sana masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan secara baik,” katanya.

Beberapa pengunjung hampir punya tafsiran yang sama. Karya totem kelompok Kompromi menyindir masyarakat Yogyakarta yang mulai terkontaminasi budaya urban. Disinggung soal kritik terhadap pemerintah Yogyakarta, Mahendra hanya tersenyum.

Selain PSRNS ke-3, pada di Bulan ini TBY  bakal ada Festival Sendratari, 21-22 Oktober 2016 dan Gelar Seni Tradisi, 30 Oktober 2016. Sebelum pameran dibuka, acara diramaikan oleh Cokekan Puspo Warno dari Rotowijayan pimpinan Panji Gilig Atmadi dan tari Nawung Sekar.

Selain PSRNS ke-3, TBY  juga bakal menggelar Festival Sendratari. Acara tersebut akan dihelat pada 21-22 Oktober 2016. Agenda lain Gelar Seni Tradisi, pada 30 Oktober 2016.

Sebelum pameran dibuka, acara diramaikan Cokekan Puspo Warno dari Rotowijayan pimpinan Panji Gilig Atmadi dan Tari Nawung Sekar.

TEKS: A.S. ADAM |  EDITOR : IMRON SUPRIYADI

Keterangan Foto Utama : Pemukulan kenthongan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Yogyakarta, Umar Priyono, sebagai pertanda telah resmi dibukanya Pameran Seni Rupa Nandur Srawung yang berlangsung tanggal 16-23 Oktober 2016, Ahad (16/10) FOTO.DOK.KSOL/ADAM

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *