Sanggarbambu Tidak Berpolitik, Soekarno : Apa yang dilakukan Sanggarbambu sudah benar.

Cuaca cerah kemarin pagi. Awan terlihat putih, langit membiru. Angin berdesir sejuk. Suara-suara burung bersahutan, mereka di pepohonan dan atap-atap rumah. Jalur jalan menuju Sanggarbambu kering namun tak berdebu. Di kanan-kirinya terdapat persawahan dengan orang-orangan sawah untuk menakuti gangguan pemakan padi.

Suasana syahdu itu tak bertahan lama. Mendekati siang cuaca mendadak berubah ekstrim. Sedikit gelap dan gerimis. Meski begitu, sejumlah seniman yang hadir di Sanggarbambu terus membacakan puisi-puisi secara bergantian.

Pihak Penyelenggara “Sanggarbambu Berpuisi” menginformasikan, bertepatan dengan Hari Puisi Nasional ini Sanggarbambu sengaja turut meramaikan dengan caranya sendiri, yaitu memanfaatkan bantaran sungai bedhog sebagai arena berpuisi dan pelataran sanggar untuk kegiatan melukis bersama menghadirkan penyair-penyair serta seniman-seniman dari berbagai daerah di Indonesia.

1.Kamal Firdaus dan Wati Respati tampil membacakan “Merdeka Antara Jogja-Jakarta” yang diambil dari kumpulan puisi Rindu Sendiri-Sendiri, karya Kamal Firdaus, mantan wartawan surat kabar di Yogyakarta, Rabu (12/10/2016) FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Kamal Firdaus dan Wati Respati tampil membacakan “Merdeka Antara Jogja-Jakarta” yang diambil dari kumpulan puisi Rindu Sendiri-Sendiri, karya Kamal Firdaus, mantan wartawan surat kabar di Yogyakarta, Rabu (12/10/2016) FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Sebagai generasi kelima Ketua Sanggarbambu, Totok Buchori berpesan di tahun-tahun mendatang puisi tidak hanya menjadi sobekan kertas yang lantas dibuang ke tempat sampah. Tetapi bisa dipahami lebih dalam.

“Puisi tidak merubah keadaan besar tetapi bisa merubah dunia, puisi tidak bisa membuat kenyang tetapi bisa merubah dunia,” katanya mengutip kalimat WS Rendra.

2.Gabriel Gradi Mahendra dan Benny Pradipta, tampil sangat apik membawakan “Sehabis Tangis Kecil” karya Benny Pradipta Mahasiswa Sanata Darma, Rabu (12/10/2016) FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Gabriel Gradi Mahendra dan Benny Pradipta, tampil sangat apik membawakan “Sehabis Tangis Kecil” karya Benny Pradipta Mahasiswa Sanata Darma, Rabu (12/10/2016) FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Ia berharap “Sanggarbambu Berpuisi” dapat menjadi refleksi bagi masyarakat luas di Indonesia. Sanggarbambu telah merasakan getir dan pahitnya perjalanan yang tidak hanya melahirkan tokoh-tokoh seni dan budaya, melainkan juga tokoh-tokoh bangsa yang memiliki kesukaan dalam berkesenian. “Semua bersatu, semua guyup untuk memaknai Hari Puisi Nasional ini. Semoga ke depan masyarakat lebih paham lebih suka dengan puisi.”

Lahirnya Sanggarbambu menginspirasi pegiat seni, pelaku dan partisan seni di Indonesia untuk mendirikan sanggar-sanggar seni. Jika pada era Orde Lama, bahkan Orde Baru, banyak kantong seni dianggap berbahaya karena berpolitik, Sanggarbambu memilih untuk tidak berpolitik dalam berkesenian. Soekarno sebagai Presiden pertama Indonesia pernah mengatakan: Apa yang dilakukan oleh Sanggarbambu sudah benar.

5.Orang-orang terdekat Kantata Takwa dan Swami, Untung Basuki dan Dodi Krocil, sederhana namun terasa membawakan “Lagu untuk Helga” lagu puisi karya Linus Suryadi AG (Alm.), Rabu (12/10/2016) FOTO.DOK.KSOL.

Orang-orang terdekat Kantata Takwa dan Swami, Untung Basuki dan Dodi Krocil, sederhana namun terasa membawakan “Lagu untuk Helga” lagu puisi karya Linus Suryadi AG (Alm.), Rabu (12/10/2016) FOTO.DOK.KSOL.

Mantan wartawan dan redaktur Kedaulatan Rakyat, Kamal Firdaus, yang juga pernah menjadi Wakil Pimpinan Redaksi Mingguan Eksponen turut serta dalam “Sanggarbambu Berpuisi”. Ia bersama seniwati Yogyakarta, Wati Respati, membacakan “Merdeka Antara Jogja-Jakarta”, diambil dari buku kumpulan puisi, Rindu Sendiri-sendiri (1963-2013), karya Kamal Firdaus pada sore yang gerimis di pelataran Sanggarbambu.

Sebuah puisi yang berbicara tentang getirnya orang-orang kita yang berpijak di atas tanah sendiri. Puisi tentang kemerdekaan pada Jogja-Jakarta yang terhampar ratusan kilometer rel kereta. Menurut Kamal, sangat sinis yang mengatakan apakah kita ini terlalu cepat merdeka. Sebab rel kereta api di Indonesia dibangun oleh pemerintah penjajahan Belanda.

3.Pungki (gitar) dan Kelompok Laguna: Wiwik Winseputo (vocal), Helmi (ukulele), menampilkan karya Pungki berjudul “Langit”, Rabu (12/10/2016) FOTO.DOK.KSOL.

Pungki (gitar) dan Kelompok Laguna: Wiwik Winseputo (vocal), Helmi (ukulele), menampilkan karya Pungki berjudul “Langit”, Rabu (12/10/2016) FOTO.DOK.KSOL.

“Coba kalo mas naik kereta api, banyak anak-anak kecil bertelanjang dada melihat kereta, dan mungkin mereka tidak pernah naik kereta,” kata mantan dosen UII dan UMY yang pernah menjadi staf Ahli Jaksa Agung Republik Indonesia.

Sebagai Lawyer, ia kerap dikritik karena berkesenian. Padahal jauh sebelum menjadi lawyer dirinya pernah di Bengkel Teater WS Rendra di tahun 70-an. “Sekarang kebanyakan advokat justru mengedepankan penampilan dan mobil bagus. Tapi di luar negeri advokat justru selalu menulis puisi. Barangkali panggilan puisi dengan panggilan hukum itu sama.”

“Jika kita menilik sejarah, dulu rata-rata advokat suka menulis puisi.”

4.Griwo Degriva Adam (A.S. Adam) melalui syairnya berjudul “Jogja Istimewa” mengkritik terhadap gelontoran dana yang mengatasnamakan seni dan kebudayaan yang nyatanya tidak memberikan tunjangan bagi seniman dan pegiat seni. Ia berharap seniman diberikan tunjangan hidup agar seni dan kebudayaan terus berlanjut, Rabu (12/10/2016) FOTO.DOK.KSOL.

Griwo Degriva Adam (A.S. Adam) melalui syairnya berjudul “Jogja Istimewa” mengkritik terhadap gelontoran dana yang mengatasnamakan seni dan kebudayaan yang nyatanya tidak memberikan tunjangan bagi seniman dan pegiat seni. Ia berharap seniman diberikan tunjangan hidup agar seni dan kebudayaan terus berlanjut, Rabu (12/10/2016) FOTO.DOK.KSOL.

Ia berharap kegiatan seperti yang diselenggarakan Sanggarbambu lebih digalakkan lagi, sehingga generasi muda dapat terus berkesenian, karena tanpa kesenian manusia menjadi kasar dan materialistis.

Salah satu aktor film dan tokoh sastra Indonesia, Landung Simatupang, bangga mendapat kehormatan sebagai tamu tampil di “Sanggabambu Berpuisi” bersama sang adik Ami Simatupang yang juga aktor dan seniwati penyuka dolanan tradisional.

Ditemui Kabar Sumatera usai acara, Ia mewanti-wanti kepada penulis buku sejarah Sanggarbambu, bahwa Sanggarbambu sejak tahun 60-an sekalipun tidak pernah berpolitik, dan fokus pada seni rupa, sastra, pertunjukan sera kebudayaan lintas batas golongan. “ini yang harus dijaga.”

“Ini malam yang hangat, sederhana dan kekerabatannya sangat terasa. Saya kira semangat Sanggarbambu laik dicontoh oleh siapapun sampai kapanpun,” katanya berpesan dan berlalu karena dikeroyok salaman oleh sejumlah teman dekat yang pengagum.

Salah satu kerabat Sanggarbambu, Como Langit, merasa bangga dapat berpartisipasi dalam peringatan Hari Puisi Nasional 2016 di Sanggarbambu. Ia tak mengira undangan yang dihadirinya itu tidak seperti pada umumnya.

“Ini di luar dugaan kami, Sanggarbambu menyelenggarakan kegiatan seperti ini,” kata pemilik Langit Artspace, Como, usai menghadiri Hari Puisi Nasional di Sanggarbambu.

Ini merupakan sebuah peristiwa luar biasa, lanjutnya. Dalam rangka Hari Puisi Nasional yang diselenggarakan oleh Sanggarbambu, semoga ke depan acara-acara seperti ini tidak hanya menjadi catatan melainkan juga menjadi bagian penting dari berbangsa dan bernegara. Ia berpesan kepada siapapun untuk guyup rukun, tidak saling bermusuhan. Bersatulah untuk bangsa yang besar.

Acara yang dipandu Rindunya Rindi, berlangsung sejak pagi hingga menjelang dini hari diisi sejumlah sastrawan, penyair, wartawan, seniman, dan pegiat seni di Indonesia, serta pelajar dan mahasiswa di Yogyakarta, antara lainnya: Untung Basuki, Dodi Krocil, Acmad Masih, Liek Suyanto, Isuur ¾ gila, Pungki dan Kelompok Laguna, Wajudi Djaja, Sutiyono Kotagedhe, Dadang Ristianto, MzTok, Eka RS.

Selain itu juga ada pelajar dan mahasiswa, diantaranya Siswa-siswi SMM, SMKI dan SMSR, Mahasiswa Sanata Darma Gabriel dan Benny Pradipta, dan diisi pula oleh sejumlah mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

TEKS : T PAMUNGKAS  | EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *