UNESCO : Yogyakarta sebagai Ibu Kota Batik Dunia

YOGYAKARTA | KSOL— Selama ini kita hanya melihat batik namun tidak mengetahui—batik—yang sesungguhnya. Belakangan batik kembali diminati tidak hanya oleh masyarakat Indonesia, melainkan juga oleh masyarakat di Negara-negara lain.

Ketua Penyelenggara Jogja International Batik Biennale (JIBB) Didik Purwadi mengatakan, bahwa batik merupakan warisan budaya asli Indonesia yang sudah diakui oleh Unesco. Yogyakarta yang masih memiliki keraton, regenerasi, pendidikan, nilai ekonomi dan batik yang pro terhadap lingkungan maka dipilihlah oleh Unesco Jogja menjadi pusat batik dunia.

foto-jogja-bienalle-batik-2

Slah satu performance art yang mengenakan batik asli Yogyakarta (FOTO.DOK.KSOL/A.S.ADAM)

“Bukan berarti Jogja yang berhak memiliki batik, melainkan Jogja hanya mewakili batik-batik yang tersebar di seluruh dunia khususnya di Indonesia,” katanya. “Ini bukti nyata bahwa dari Jogja untuk Indonesia.”

Tujuh narasumber dari luar negeri, lanjutnya, bakal menjadi pembicara dalam diskusi dan dialog batik yang disebar ke institusi-institusi di Yogyakarta seperti UGM, UII, dan ISI. Sejumlah di antaranya adalah Prof. DR. Yoshifumi Muneta, Mr. Endric Ong, DR. Ghada Hijjawi-Qaddumi, DR. Min-Chin Kay Chiang, Mdm. Annegret Haake, Mdm. Surape Rojanavongse, dan Yann Follain.

Selain itu, Didik juga membeberkan beberapa Negara yang bakal turut dalam JIBB 2016, diantaranya Singapura, Malaysia, Thailand, Burma, Vietnam, China, India, Amerika, Jepang, Uni Emirat Arab, Jerman, Swiss, Afrika Selatan, Nepal, dan Australia.

foto-jogja-bienalle-batik

Pengarjin Batik di Yogyakarta (FOTO.DOK/KSOL/.A.S.ADAM)

Sebanyak tujuh puluh desainer dari berbagai Negara bakal terlibat dalam pertemuan batik internasional ini pembukaannya bakal diresmikan hari ini pukul 10.00 WIB oleh Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Mufidah Jusuf Kalla di Jogja Expo Centre (JEC).

Batik merupakan simbol ekonomi kreatif. Makna Jogja sebagai Ibu Kota Batik Dunia tidak hanya berhenti pada tingkat kegiatan pertunjukkan,  melainkan juga mendorong perekonomian di Jogja. Hal ini disampaikan pengarah JIBB, Robbi, di Dekranasda Kepatihan Yogyakarta.

“Dua tahun lalu Jogja ditunjuk sebagai Kota Batik Dunia oleh Unesco akibat dari berbagai kegiatan batik yang dilakukan di Jogja,” terangnya.

Perwakilan WCC, Priyo, menginformasikan kembali bahwa status Yogyakarta sebagai Ibu Kota Batik Dunia telah disahkan oleh Unesco pada tahun 2012. Namun demikian pada tahun 2014 Word Craft Council (WCC) kembali menegaskan Indonesia sebagai salah satu negeri humanity yang bertempat di Yogyakarta sebagai ibu kota rujukan. Maka mau tidak mau Jogja menjadi pusat batik dunia.

“Kali ini kita tidak melulu menampilkan fisik batik, melainkan juga knowledge of batik,” katanya pada Pers Converence siang tadi, Selasa (11/10/2016).

Ia menyayangkan masih banyak orang yang belum memahami makna batik itu sendiri. Dengan adanya JIBB ini Jogja sebagai Ibu Kota Batik Dunia mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pengetahuan dan wawasan batik tidak hanya kepada Indonesia tetapi juga kepada dunia.

Selain pameran, diskusi dan dialog; workshop, kompetisi serta fashion show batik, JIBB yang berlansung hingga tanggal 15 Oktober 2016 di Yogyakarta yang merupakan World Batik City menjadi tempat bertemunya para kreatif, pelaku, dan penggiat batik dunia.

TEKS : A.S. ADAM | EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *