Gara-Gara Miras, Narkoba dan Biduan Tempel Marak, OT Malam Dilarang

EMPAT LAWANG | KSOL – Larangan hiburan malam berupa musik orgen tunggal (OT), band dan jenis orkes, dianggap mengganggu ketertiban umum, mendapat apresiasi dan dukungan sebagian besar warga Empat Lawang.

Informasi dihimpun kabarsumatera.com menyebutkan, beberapa warga menilai, acara hiburan malam sekarang ini sangat jauh berbeda dengan dahulu, ada penilaian negatif lebih cenderung setiap acara hiburan malam, baik itu peredaran minuman keras (miras) hingga penyalahgunaan narkoba dan prostitusi.

KAPOLRES EMPAT LAWANG AKBP Bayu Dewantoro. S.IK

KAPOLRES EMPAT LAWANG AKBP Bayu Dewantoro. S.IK

“Kita apresiasi dan dukung upaya Kapolres Empat Lawang, semoga saja ini langkah awal menuju kebaikan,” ungkap Tarmizi (50) warga Tebing Tinggi, kemarin (9/10/2016).

Warga tadi tak menampik, setiap ada pesta malam entah itu hajatan atau acara lainnya, banyak sekali penjualan miras. Apalagi kalau sudah pukul 23.00 WIB, penari perempuan (biduan tempel, red) pun ramai dan membuat suasana semakin menggila. “Wajarlah dilarang, bila perlu ada sanksi tegas kalau masih saja terjadi,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kapolres Empat Lawang, AKBP Bayu Dewantoro melarang keras kegiatan hiburan malam berupa orgen tunggal (OT), band dan orkes yang mengganggu ketertiban umum.

Larangan tersebut tertuang dalam Maklumat Kapolres Empat Lawang dengan Nomor : Mak/01/X/2016 tertanggal 6 Oktober 2016. “Untuk mewujudkan kamtibmas di wilayah hukum Polres Empat Lawang, kita larang hiburan malam,” tegas Bayu.

Pihaknya sudah lama ingin mengeluarkan maklumat tersebut, tapi kata Bayu, belum ada dukungan. Nah, setelah 31 Agustus lalu Plt Bupati, H Syahril Hanafiah mengeluarkan Instruksi Bupati (Inbup) Empat Lawang Nomor 200/222/Ban.KBP/2016 tentang larangan hiburan malam. “Jadi larangan hiburan malam bukan hanya dari polres saja tapi dari pemkab juga,” katanya.

Hiburan malam, dijelaskan Bayu banyak menimbulkan efek negatif. Diantaranya, mendatangkan penjual minuman keras (miras) atau narkoba, perjudian, aksi biduan tempel, perkelahian hingga jatuh korban jiwa dan lainnya.

“Izin keramaian dalam rangka hajatan yang kami keluarkan hanya berlaku mulai pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Lewat itu tidak diperbolehkan, kecuali diganti dengan kegiatan lebih positif berupa pengajian, doa bersama dan ceramah agama,”  ujarnya.

Maklumat tersebut, lanjut Bayu, dikecualikan pada malam hari-hari besar kenegaraan di rumah dinas, kantor instansi pemerintah, hari pramuka, penyambutan tahun baru masehi serta hari-hari besar lainnya.

TEKS : SAUKANI  |  EDITOR : IMRON SUPRIYADI  |  ILUSTRASI : YOUTUBE.COM



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *