Muslih, 10 Tahun Lumpuh, Belum Sekalipun Tersentuh Bantunan Pemkab Muaraenim‎

“Tak terbayangkan apa yang dialami  Mushlih (29) pemuda warga Dusun III Desa Pajar Bulan Kecamatan Semende Darat Ulu (SDU), Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan. Ia hanya bisa tergolek lemah akibat lumpuh yang nyaris total dialami bagian tubuhnya.”

Anak ketiga pasangan Hasbi dan Aswa tersebut  sudah menderita lumpuh kurang lebih 10 tahun. Menurut Hasbi, penyakit Mushlih bukan bawaan lahir. Kelumpuhan yang dialaminya diakibatkan kecelakaan lalulintas (lakalantas) yang dialaminya 10 tahun silam. Saat itu dirinya yang mengendarai sepeda motor bertabrakan dengan truk pengangkut material di kawasan TPU Talang Tabur Desa Pajar Bulan.

Awalnya, cidera yang dialami tidak separah itu. Namun kelamaan kondisinya kian parah. Hingga nyaris mengalami kelumpuhan total seperti sekarang.

Bagian tubuhnya yang pertama mengalami kelumpuhan adalah kaki, kemudian merambat ke pinggang. Saat ini, bagian tubuhnya yang bisa digerakan hanya kepala, tangan kanan, serta jari telunjuk dan jempol kanannya.

Bahkan, untuk buang air kecil saat ini dipasang selang yang terhubung langsung ke kantong penampung urine. Sedangkan untuk Buang Air Besar (BAB) terpaksa harus dibantu untuk membersihkannya.

Lebih mirisnya lagi, sejak mengalami kelumpuhan, Mushlih sama sekali belum mendapatkan bantuan, baik untuk berobat maupun mendapatkan bantuan alat.

Bahkan dirinya sama sekali belum pernah didata baik oleh pemerintah desa, kecamatan maupun dari Pemkab Muara Enim.

Sedangkan untuk berobat atau membeli alat bantu terkendala biaya. Orang tuanya yang berprofesi sebagai tukang, tidak mampu mengobati sakit yang dialami anaknya secara maksimal. Pengobatan yang dijalani Mushlih hanya sebatas pengobatan kampung.

“Saya hanya bisa tidur telentang dan tidak bisa bergerak. Untungnya masih bisa toleh kiri kanan dan tangan masih bisa digerakkan meski cuma dua jari yang aktif,” tuturnya.

Dia menjelaskan, untuk organ pendengaran, penglihatan dan berkomunikasi tidak mengalami gangguan. Dirinya merasa terhibur jika ada yang menemaninya ngobrol. “Kalau tidak paling cuma telentang saja,” ujarnya.

Dirinya sangat berharap mendapat kesembuhan. Namun semua itu hanya sebatas angan. Sebab keluarga itu dalam keterbatasan. Kini mereka sangat berharap datangnya donatur yang mau mengulurkan tangan. “Selama ini paling dapat bantuan dari sanak famili saja,” terangnya.

Sementara Hasbi didampingi Aswa. Isterinya sangat berharap anaknya kembali sembuh dan normal. Karena menurutnya, sebelum kejadian lakantas, Mushlih tergolong anak yang lincah dan periang.

“Dulunya dia sangat lincah dan periang, bahkan jarang sekali sakit. Tapi akibat kecelakaan itu, anak saya jadi seperti sekarang ini,” jelasnya.

Dirinya tidak menampik, akibat keterbatasan dana dan untuk biaya hidup, keluarga itu  tidak bisa maksimal dalam mengobati anaknya secara medis di rumah sakit. Apalagi dirinya dan anak-anaknya tinggal di rumah sewaan.

“Kalau sekarang kami tinggal pasrah dan berdoa sambil menunggu keajaiban tuhan untuk anak kami,” ujarnya lirih.

Menyayangkan Sikap Pemerintah

Sementara itu,‎ kondisi Mushlih yang belum pernah mendapatkan bantuan sangat disayangkan anggota DPRD Dapil V, Daraini. Menurut sekretaris komisi 1 DPRD Kabupaten Muara Enim, dirinya menyesalkan Mushlih belum pernah didata untuk mendapatkan bantuan, seperti kursi roda atau bantuan lain.

“Semestinya pihak-pihak seperti perangkat desa dan pihak kecamatan menjemput bola dan melakukan pendataan secara menyeluruh,” ujarnya.

TEKS/FOTO : HENDRO ALDO IRAWAN,REPORTER RGBA FM TANJUNG ENIM | EDITOR : T PAMUNGKAS



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *