Inilah Potret Buruk Mobil Angkutan Pelajar di Empat Lawang

EMPAT LAWANG | KSOL —  Sepertinya sudah menjadi kebiasaan buruk, puluhan siswa SMP, SMA bahkan tingkat SD di Empat Lawang kerap naik dan bergelantungan diatas angkutan pedesaan (Angdes). Tanpa memikirkan bahaya, pemandangan buruk ini terkesan diabaikan oleh sejumlah instansi terkait.

Ironisnya lagi, aksi membahayakan dan mengancam keselamatan penumpang ini diabaikan oleh para sopir. Alasan klasik muncul, kurangnya armada serta atas keinginan para siswa itu sendiri.

Pantauan kabarsumatera.com dilapangan, beberapa titik gerbang sekolah di Kecamatan Tebing Tinggi, kerap dijadikan lokasi sejumlah angdes menunggu para siswa pulang.

para-pelajar-naik-di-atap-dan-bergantungan-di-angdes-saat-pulang-sekolah

para-pelajar-naik-di-atap-dan-bergantungan-di-angdes-saat-pulang-sekolah

Saat pulang sekolah, para siswa pun berhamburan berebut naik ke angdes untuk pulang, jika didalam angdes penuh, para siswa maupun siswi terpaksa naik ke atap ataupun bergelantungan. Tak hanya angdes, para pelajar pun terlihat berebutan naik ojek gandeng hingga membeludak hingga tiga kali lipat dari kapasitas penumpang.

Masih banyaknya para sopir angkutan umum yang mengabaikan keselamatan penumpang ini mendapat kecaman dari kalangan masyarakat. Hendaknya, pihak terkait memberi teguran atas sanksi bagi para sopir dengan memberikan tindakan tegas, karena selain membahayakan juga melanggar peraturan lalu lintas jalan.

“Ini ada indikasi pembiaran para sopir yang tidak melarang siswa/siswi naik ke atas atap atau bergantungan, karena membahayakan dan memang tidak dibenarkan dalam aturannya. Makanya, pihak terkait harus mengambil tindakan tegas, setidaknya pembelajaran, agar kedepannya tidak terulang lagi,” ungkap Edi, warga Tebing Tinggi, Jumat (7/10/2016).

Di sisi lain, warga juga tidak bisa memungkiri, karena kurangnya armada membuat hal seperti ini terjadi. Salah satu solusi yang dapat diambil pemerintah, yakni menyiapkan bus sekolah.

“Pemerintah hendaknya menyiapkan bus siswa atau bisa dikelolah oleh pihak ketiga untuk menunjang kelancaran transportasi. Dengan ini, tidak akan ada lagi siswa yang naik ke atas atap ataupun bergelantungan, karena itu tadi kurangnya armada memaksa siswa, kan biasanya siswa ini ingin pulang cepat. Jadi mereka lebih memilih bergantung atau ke atap, daripada menunggu mobil selanjutnya yang memakan waktu lama,” imbuh Kusuma, warga lainnya.

TEKS/FOTO : SAUKANI | EDITOR : IMRON SUPRIYADI



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *