Merawat Sejarah Tanpa Kebencian : Refleksi Pemberontakan G30S/PKI

 Oleh Ahmad Supardi, Mahasiswa Jurusan Jurnalistik dan Mantan Ketua LPM Ukhuwah UIN Raden Fatah Palembang


Oleh Ahmad Supardi, (Mahasiswa Jurusan Jurnalistik dan Ketua LPM Ukhuwah UIN Raden Fatah Palembang periode 2015-2016) (FOTO.DOK.PRIBADI)

SETIAP TAHUN, terutama tanggal 30 september, luka ingatan dan kenangan bernama Partai Komunis Indonesia menganga kembali. Menuju bulan itu, pertengahan tahun ini, di bulan mei dan juni isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia kembali menyeruak kepermukaan publik.

Isu ini dilemparkan mantan Kepala Staff Konstrad Mayjen (Purn) TNI, Kivlan Zen. Menurut Kivlan, PKI gaya baru ini dipimpin oleh Wahyu Setiadi, anak dari Wakil Central Commite (CC) PKI zaman DN Aidit, Lukman Njoto.

Kata Kivlan, cikal bakal PKI baru ini berawal saat kongres di Magelang tahun 2010. Pada kongres inilah dibentuk kepengurusaan dari daerah sampai kepusat.

Tak ayal, isu ini langsung menjadi bola panas. Banyak pihak kebakaran jenggot. Ada yang sangat marah seperti Kivlan, ada yang ingin Republik Indonesia meminta maaf kepada PKI karena telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) anggota PKI sampai harus adanya rekonsiliasi, rehabilitasi maupun kompensasi.

Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Rymizard Ryacudu bahkan menanggapi bahwa Indonesia sangat tidak pantas meminta maaf kepada PKI, karena PKI adalah dalang terjadinya tragedi berdarah bagi bangsa Indonesia, terutama tahun 1948 dan 1965 lalu.

Ia juga mewanti-wanti harus waspada dengan pergerakan PKI, Kemunculan PKI bisa berawal dari adanya simbol palu dan arit.

Di Indonesia sendiri, pengguna simbol PKI bisa diancam sampai dengan hukuman penjara. Peraturan ini mengarah pada Ketetapan MPRS dengan Nomor Tap/XXV/MPRS/1996, yang mengatur tentang larangan ideologi marxisme/lennisme/komunisme sebagai ideologi terlarang.

Sebenarnya, probmatika PKI ini sama dengan Nazi di Jerman. Kedua organisasi ini sama-sama dilarang karena menimbulkan masalah kemanusiaan. Masalah ini sangat besar kemungkinan membuka luka lama kedua pihak yang akan menimbulkan pemberontakan karena sakit hati juga bisa membangkitkan kebencian masa lalu.

Tanpa Bumbu Kebencian

Menanggapi ketakutan terhadap kebangkitan PKI ini, mengutip kata Pramoedya Ananta Toer, baiknya kita adil sejak dalam pikiran. Zaman telah berubah, sejarah semakin panjang, supaya tidak terjebak dengan kebencian, baiknya kita mempelajari sejarah PKI dengan lurus tanpa bumbu-bumbu kebencian. Bila jahat ceritakan jahat tanpa ditambahi cerita laknat. Bila ada baiknya, juga tetap diceritakan supaya bisa diambil hikmahnya.

pki

Ilustrasi/Foto : BERITATERBARU.ID

Memang benar, sejarah selalu berpihak kepada orang yang menang, tapi sejarah kebohongan lambat laun akan terbongkar juga. Sekali lagi, memang benar PKI semasa pemberontakan 1965 sangat kejam dengan membunuh para jenderal.

Mereka menembak membabi buta hingga nyawa melayang seperti film G 30 S-PKI, tapi dari fakta visum oleh lima dokter forensik yang terkuak sekarang, tak ada fakta laknat penyongkelan mata atau pemotongan alat kelamin dari salah satu jenderal tersebut.

Untuk menerima fakta sejarah diatas, tak ada cara lain selain terbuka dengan fakta terbaru. Tak perlu menyimpan kebencian yang akhirnya menutup kebenaran. Toh memang benar, masa itu PKI yang sebenarnya memberontak.

Parahnya lagi, akibat menyeruaknya isu PKI ini, beberapa buku kiri dirazia. Langsung tersebar isu Perputakaan Nasional Republik Indonesia (Perpunas) mendukung pemberhangusan buku karena dianggap meresahkan. Tapi untung, menanggapi hal itu Perpunas menyatakan tidak membakar koleksi buku kiri atau yang berbau komunis itu.

Buku Tak Salah

Kembali kepada Pramoedya, cara adil dari dalam pikiran ialah dengan membaca tanpa di monopoli oleh satu aliran saja. Tak ada pengecualian ‘kiri’ atau ‘kanan’. Buku-buku yang menyenggol ideologi ‘kiri’ dan 1965 tidak perlu dibumihanguskan, karena dengan menutup diri dengan ilmu tersebut, sama saja kita tidak menyiapkan payung ketika hujan.

Takutnya dengan pembakaran buku itu, kita akan dungu dengan sejarah. Toh benar pribahasa lama, belajar maling tak harus menjadi maling tapi bisa untuk menangkap maling.

Ilustrasi : NEXTBAMZ.COM

Ilustrasi : NEXTBAMZ.COM

Pihak akademisi di kampus harus turun tangan, mereka harus menyadarkan bahwa buku adalah gudang ilmu, bukan sekedar slogan, tapi benar-benar gudang ilmu.

Kaum akademisi seperti dosenbolehlah membahas PKI kepada mahasiswanya baik pra merdeka, pemberontakan 1948 dan pemberontakan 1965 dari perspektif keilmuan yang didalaminya masing-masing.

Baik dari segi histori yang langsung diisi oleh sejarawan, pengaruhnya kepada ekonomi, juga politik dibalik pemberontakan dan akibatya bagi kesatuan NKRI bahkan militer juga boleh berbicara di kampus tentang bagaimana perjuangan mempertahankanNKRI ini dari pemberontak dan pembusukan seperti halnya PKI.

Toh, masyarakat sudah sepakat kinerja militer ini demi membela NKRI. Tujuannya sederhana, biar generasi penurus dalam konteks ini mahasiswa tak hanya tahu dari desas-desus isu yang bahaya itu, takutnya timbul kebencian tanpa tahu dasar kebencian.

Benci tanpa alasan sangat berbahaya. Mahasiswa harus dipahamkan pentingnya membela negara ini dari penghianat atau pembusuk.

Rasa rela bekorban jiwa dan raga milik militer harus diajarkan kembali ke generasi penerus yang saat ini dimanjakan oleh candu informasi dari internet yang simpang siur itu. Tak perlu takut karena demi menebarkan sejarah yang lurus. Sejarah perlu dirawat tanpa harus dibumbuhi ketakutan dan kebencian.**

Catatan :

  1. Tulisan ini juga pernah dimuat di Harian Tribun Sumsel edisi 3 Oktober 2016
  2. Ilustrasi/Foto  : BERITATERBARU.ID



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *