Awas! Indonesia Goro-goro, Seniman Ikut Prihatin

YOGYAKARTA | KSOL—Gonjang-ganjing politik yang kini terjadi di Indonesia mengusik para seniman di berbagai daerah. Sejumlah perupa yang tergabung dalam Kelompok Wedangan, sepakat menggelar pameran lukisan wayang bertajuk “Goro-goro” sebagai autokritik terhadap situasi memprihatinkan di bidang politik, ekonomi, hukum, keamanan, yang bahkan mengakibatkan bencana alam di berbagai daerah.

Pameran lukisan wayang yang bakal diselenggarakan pada tanggal 3-10 Oktober 2016 di Pendhapa Artspace Yogyakarta ini, melibatkan 70 perupa dari berbagai daerah, beberapa di antaranya Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Solo, Klaten, Semarang dan sejumlah kota lainnya di Indonesia.

1.2.Street Art menjelang Pameran Lukisan Wayang, Gatotkaca, Gareng dan Anoman diperankan oleh Tejo Badut dan kawan-kawan sebagai wujud kepeduliannya terhadap warisan dunia yang terpinggirkan. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

1.2. Street Art menjelang Pameran Lukisan Wayang, Gatotkaca, Gareng dan Anoman diperankan oleh Tejo Badut dan kawan-kawan sebagai wujud kepeduliannya terhadap warisan dunia yang terpinggirkan. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Ketua Pelaksana Pameran Goro-Goro, Selamet Riyanto mengatakan, belakangan seni dan budaya asli kita mulai dilupakan akibat berlebihan mengadopsi budaya asing yang anti kearifan lokal.

“Wayang ini kami angkat agar jangan dilupakan oleh budayawan atau masyarakat luas pada umumnya,” katanya kepada sejumlah media massa di Pendhapa Artspace saat jumpa pers, Kamis (29/9/2016) siang.

Selamet berharap wayang yang menjadi warisan dunia tidak dilupakan begitu saja agar keilmuannya dapat dimanfaatkan oleh siapapun, terutama bagi penerus bangsa. Maka dalam pameran lukisan wayang ini, tambah Selamet, pihak penyelenggara juga menampilkan pertunjukan wayang dengan dalang Totok Sugianto jebolan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI).

Menanggapi pameran ini, kepada Kabar Sumatera Selamet mengaku lebih akan berkonsentrasi dengan hal-hal yang baik dengan harapan wayang yang selama ini dianggap kuno justru menjadi inspirasi, tidak lagi mengolah sebagai wayang klasik melainkan sebagai media ekspresi. “Pameran kali ini punya nuansa yang berbeda dengan pameran sebelumnya.”

3.4.Sejumlah seniman saat jumpa pers di Pendhapa Artspace, Kamis (29/9) siang. Searah jarum jam, dari kanan pelukis wayang Bandi, Ketua Sanggarbambu Totok Buchori, Ketua Pelaksana Pameran Selamet Riyanto, dan Ketua Kelompok Wedangan Tri Hadianto. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

3.4. Sejumlah seniman saat jumpa pers di Pendhapa Artspace, Kamis (29/9) siang. Searah jarum jam, dari kanan pelukis wayang Bandi, Ketua Sanggarbambu Totok Buchori, Ketua Pelaksana Pameran Selamet Riyanto, dan Ketua Kelompok Wedangan Tri Hadianto. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Goro-goro bisa diartikan sebagai pertanda, waktu, pergantian, atau tanda-tanda perubahan jaman, meskipun kadang goro-goro memiliki makna berbeda yaitu kekacauan, huru-hara, dan meresahkan. Ini bisa dilihat dari gejolak atau peristiwa yang tiba-tiba muncul luar biasa. Goro-goro juga merupakan tanda perubahan waktu dari pathet enem ke pathet sanga.

Pada kesempatan yang sama Seniman Rupa Indonesia, Totok Buchori, selaku penyelenggara mengritisi masyarakat terkini yang bangga terhadap budaya asing—bahkan yang lebih miris menirunya.

Komik-komik Jepang misalnya. Atau gaya-gaya asing yang meninggalkan kekhasan warisan Indonesia. Invasi budaya asing yang merenggut kearifan lokal telah membahayakan tata krama dan tepa selira yang selama ini terjaga dengan baik.

“Dengan adanya pameran ini, minimal kita turut andil terhadap kekuatan kearifan lokal agar tidak tercerabut dari akarnya,” tutur Ketua Sanggarbambu kepada Kabar Sumatera melalui WhatsApp.

Setahun lalu Kelompok Wedangan pernah mengadakan pameran lukisan wayang untuk mempertahankan eksistensi wayang di tengah masyarakat luas. Karena wayang juga dapat ditafsirkan sebagai simbol perlawanan terhadap budaya asing.

“Saya berharap pameran wayang ini diapresiasi oleh siapapun terutama oleh pelajar,” ujar generasi kelima Sanggarbambu Totok Buchori.

Menjelang pameran lukisan wayang besok, kemarin Sabtu (1/10) siang, Tejo Badut melakukan aksi Street Art dari Tugu Jogja, Malioboro, dan berakhir di Parwirotaman (kampong londo). Dalam seni jalanan itu Tejo Badut berperan sebagai Anoman, Gatotkaca, dan Gareng.

Pelukis wayang, Bandi, mengaku prihatin terhadap karya-karya wayang dan senimannya yang seringkali terpinggirkan karena dianggap tidak menarik. Padahal lukisan wayang merupakan salah satu bentuk pelestarian terhadap kearifan lokal yang sehausnya dilestarikan.

“Tema goro-goro beradaptasi dengan kondisi saat ini yang berhubungan dengan gonjang-ganjing politik di Indonesia. Maka lukisan ini sangat bermacam-macam dan diadaptasi oleh para seniman dengan cara yang berbeda-beda,” katanya di Pendhapa Artspace.

Menurut Bandi, selama ini tidak ada yang memberikan apresiasi terhadap wayang. Dirinya prihatin bangsa yang memiliki warisan kearifan lokal terlengkap di dunia justru hanya segelintir saja yang mengapresiasi seni budaya asli Sabang hingga Merauke—khususnya wayang.

Pameran ini tidak sama dengan pertunjukan wayang pada umumnya,maka diharapkan penonton dapat menafsirkan sendiri sesuai dengan padangannya. Berbeda ketika melihat wayang secara langsung.

“Mengkritik wayang yang selalu menitikberatkan adegan goro-goro atau limbukan yang justru meninggalkan pesan-pesan dan tuntunan yang disampaikan. Misalnya saja tuntunan anti korupsi pada adegan selain goro-goro,” tutup Bandi.

Untuk melengkapi pameran lukisan wayang, pihak penyelenggara juga memamerkan keris dan workshop bertemakan wayang: natah, patung, batik, dan sarasehan wayang. Hal ini disampaikan Pelaksana Pameran Seni Wayang, Chamit Arang usai jumpa pers di Pendhapa Artspace.

Ia menjelaskan, selain terdapat seni sungging/ukir, dalam seni wayang pun terdapat seni peran, musik, suara, dan sastra. Chamit berpendapat bahwa seni wayang mengandung filosofi juga berfugsi sebagai penerangan, pendidikan, dakwah dan hiburan.

Juga dipamerkan patung karya Dunadi. Sementara ini lukisan kaca belum dikeluarkan oleh pelukis/seniman karena ini momennya adalah lukis kanvas.

 TEKS : A.S. ADAM (YOGYAKARTA)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *