Berdayakan Warga, PT Sampoerna Agro Siap Bangun Pusat Pembelajaran Jamur

KAYUAGUNG | KSOL — Kepedulian PT Sampoerna Agro Tbk terhadap warga, kini  merambah ke program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Diantaranya, melalui budidaya jamur merang dengan media limbah sawit tandan kosong kelapa sawit.

Keseriusan program ini, dibuktikan dengan rencana perusahaan yang akan membangun Mushroom Learning Center (Pusat Pembelajaran Jamur). Menurut Managing Director PT Sampoerna Agro, Parluhutan Sitohang melalui GM Plantation Eldi Nuzan, lembaga ini akan dipusatkan di Desa Sumber Deras, Kecamatan Mesuji Ogan Komering Ilir (OKI).

Menurutnya, program ini bukan hanya di Desa Sumber Deras. Sebab, tahun ini juga rencananya akan dibuat 24 lumbung jamur untuk 10 kelompok di 6 desa dan 2  kecamatan.

“Program ini nantinya akan kita coba kembangkan di kecamatan lainnya di wilayah PT Sampoerna Agro, Tbk,” kata Parluhutan di sela kegiatan Soft Launching program pemberdayaan masyarakat di Desa Sumber Deras, Jum’at (16/9/2016).

JAMUR MERANG -- Penjelasan PT Sampoerna Agro Tbk terhadap warga, program budidaya jamur merang dengan media limbah sawit tandan kosong kelapa sawit. FOTO.DOK.KSOL/ROMI

JAMUR MERANG — Penjelasan PT Sampoerna Agro Tbk terhadap warga, program budidaya jamur merang dengan media limbah sawit tandan kosong kelapa sawit di Desa Sumber Deras, Jum’at (16/9/2016). FOTO.DOK.KSOL/ROMI

Pentingnya program ini, menurut Parluhutan karena selama ini kelompok budidaya jamur merang sangat bergantung pada pasokan benih dari Pulau Jawa, ditambah harganya cukup mahal dan kualitasnya kerap rusak di perjalanan. Diharapkan melalui program ini, warga tidak tergantung dengan Pulau Jawa.

Menyikapi program ini, Kasmudi, Kepala Desa Sumber Deras, program seperti ini sangat dinantikan warganya. Terlebih, saat ini menurut Kasmudi, warga di desanya memang harus mulai belajar keahlian atau keterampilan lain di luar karet dan sawit, karena kecenderungan harga komoditas karet terus menurun.

Sementara itu, Malik, salah satu warga Desa Suryakarta, anggota kelompok Sulfat Mushroom menyatakan, jika prospek usaha budidaya jamur merang ini bagus, pasarnya terbuka luas tapi justru produktivitasnya masih lemah. Apalagi masyarakat juga belum banyak percaya dengan prospek usaha ini.

Padahal, dirinya sudah sejak 6 bulan lalu membiayai kuliah anaknya di Jakarta dengan usaha Jamur ini. “Mudah-mudahan dengan adanya program ini, kita bisa meningkatkan produktivitas, menguatkan kelembagaan, mempererat hubungan dengan perusahaan, dan menjadi contoh, agar warga lainnya dapat tertarik berpartisipasi dalam usaha ini,” ucapnya.

Pemberdayaan ekonomi warga melalui budidaya jamur merang ini, merupakan keberlanjutan keberhasilan program sebelumnya, berupa pemanfaatan  limbah cair sawit (POME) sebagai Pembangkit listrik tenaga Biogas (PLTBg) pada Desember 2015.

Selain itu, perusahaan yang bergerak di perkebunan kelapa sawit ini, juga melakukan pembentukkan kelompok budidaya, ditambah dengan dukungan permodalan usaha bergulir, pendampingan teknis dan managerial. Bahkan perushaan juga melatih pemasaran terpadu dan terobosan lainnya, berupa pengembangan pusat (sentra) pembenihan jamur.

Sementara itu, Wakil Bupati OKI, H.M. Rifai, SE saat menghadiri soft launching tersebut mengatakan,  yang terpenting dalam pembinaan kelompok budidaya ini adalah masalah manajemen.

“Jangan sampai program yang dilaksanakan ini berakhir percuma tanpa pembelajaran dan perkembangan apa-apa. Oleh karena itu setiap anggota harus mempunyai konsistensi dan ketegasan dalam mengikuti aturan yang telah disepakati bersam,” ujarnya.

Rifa’i menambahkan, kelompok-kelompok yang telah diberi pengetahuan, keterampilan secara teknis dan manajerial kelembagaan, harus dapat memaksimalkan produktivitas, mengatur finansial kelompok dan mengelola resiko bisnis. “Jangan hanya bisa harus bertahan, tetapi juga harus bisa mengembangkannya,” ujar Rifa’i.

Pada kesempatan ini, Rifa’i  berharap program di desa ini bisa menjadi kiblat dan rujukan orang untuk belajar budidaya jamur. Apalagi lokasi kegiatan dekat Pesantren. Saatnya mencetak santri yang memiliki kecakapan wirausaha, sehingga setelah lulus mampu mandiri,” pungkasnya.

TEKS : ROMI MARADONA | EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *