Sabu Mengenang WS Rendra

YOGYAKARTA | KSOL—Malam mengenang WS Rendra menjadi penutup akhir pameran Sketsa Merah Putih yang diselenggarakan Sanggar Bambu (Sabu), di pendopo Sasanarupa (SMSR) Bugisan Yogyakarta, Ahad (28/8) malam.

Acara tersebut dihadiri tokoh-tokoh sastra, penulis dan film Indonesia. Selain untuk kembali mengingat masa-masa kebersamaan bersama “Si Burung Merak” sewaktu di Jogja, malam mengenang WS Rendra menjadi peristiwa besar kembali bertemunya Sabu dan Bengkel Teater.

Sitoresmi Prabuningrat, salah satu saksi hidup WS Rendra menjadi pembuka rentetan pembacaan syair karya-karya Rendra. Dengan penuh kesaksian, pada usianya yang sudah tidak muda lagi, Sitoresmi membaca terpatah-patah. Suaranya berat dan sedikit serak. Ia sempat dipapah Untung Basuki ketika naik panggung sebelum memulai membaca syair karya mendiang mantan suaminya.

1.Sitoresmi, 65, sebelum membacakan karya mantan mendiang Suaminya WS Rendra, Ahad (28/8) malam, di Sasanarupa (SMSR) Bugisan Yogyakarta

Sitoresmi, 65, sebelum membacakan karya mantan mendiang Suaminya WS Rendra, Ahad (28/8) malam, di Sasanarupa (SMSR) Bugisan Yogyakarta

“Di manapun mas Rendra berada di kelompok-kelompok teater ia selalu membawa nama Bengkel Teater,” beber Aswar AN pendiri Teater Alam.

Ia menceritakan masa kebersamaannya ketika berada di Sanggarbambu. Ketika teman-temannya saling bergantian menyiapkan kecap di meja makan agar tidak kesulitan mendapat lauk. Aswar terharu. Matanya berkaca-kaca mengingat masa sesulit dulu. Namun yang paling dihargainya dari seorang Rendra adalah nama Bengkel Teater yang selalu dibawa kemanapun ia pergi.

Naomi, salah satu putri Rendra justru tidak membacakan syair karya Ayahnya. Ia malah mengkritik seni. Untuk apa berkesenian jika tidak tahu tujuannya. Untuk apa berkesenian jika tidak memperjuangkan rakyat. Kata Naomi saat mewakili keluarganya memberikan sambutan pada acara tersebut. “Saya diminta oleh Ibu untuk datang mewakili keluarga,” katanya. “Namun saya tidak akan membacakan syair jika hanya diminta oleh teman-teman ayah saya.”

Naomi juga menampik jika dirinya enggan membacakan karya puisi ayahnya WS Rendra. Ia baru mau tampil membacakan karya ayahnya jika dalam keadaan terpaksa. Jika didorong-dorong untuk membacakan karya puisi ayahnya.

Dalam acara tersebut, Untung Basuki bersama Sabu juga membawakan beberapa karya lagu puisi yang mengkritik pemerintah meski syairnya diciptakan pada masa Orde Baru. Salah satunya “Guntur vs Bui”.

Ketua Sanggar Bambu, Totok Buchori, bersyukur pada akhir pameran Sketsa Merah Putih dihadiri oleh tokoh-tokoh sastra, penulis dan film Indonesia. Juga bersyukur dapat mempertemukan sekaligus mengingat masa-masa kebersamaan bersama “Si Burung Merak” sewaktu di Jogja.

“Selain mengenang WS Rendra, acara ini juga sebagai perekat tali silaturahim, karena Sanggarbambu dan Bengkel Teater memiliki sejarah yang bersamaan,” tutur Totok.

Mengutip beberapa narasumber, Motinggo Busje, Adjib Hamzah dan Rendra kerap bertemu pada momen sastra tak terduga. Mereka semakin akrab ketika sama-sama di Jogja.

Dulu, tahun 1980-an, Sanggarbambu pernah punya diskusi rutin membincangkan sastra dan kebudayaan. Penggeraknya antara lain Emha Ainun Najib dan Linus Suryadi AG. Tak ketinggalan pula pengurus Sanggarbambu Soepono Pr, adik Soenarto Pr.

Malam mengenang WS Rendra juga dihadiri perupa, musisi, pegiat seni dan budaya di Indonesia. Sejumlah seniman tampil turut membacakan syair karya WS Rendra: Achmad Masih, beserta kerabat Sanggarbambu dan Bengkel Teater.

TEKS : A.S. ADAM | EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *