Anggota Dewan OKI Kecam Aksi Pemalakan di Kecamatan Pangkalan Lampam dan Tulung Selapan

KAYUAGUNG | KSOLAbdiyanto Fikri, SH Anggota DPRD OKI dari Dapil III Tulung Selapan, Cengal dan Pangkalan Lampam mengecam keras aksi premanisme yang meresahkan masyarakat yang melintasi jalan diperbatasan Desa Air Rumbai dan perbatasan Desa Rambai Kecamatan Pangkalan lampam  serta  diperbatasan Desa Riding dan Desa Jerambah Rengas Kecamatan Tulung Selapan.

 

Hal ini menyusul banyaknya keluhan masyarakat yang kerap melintasi jalan di empat desa tersebut karena sering dilakukan pememalakan dan dipintai sejumlah uang dengan cara paksa oleh oknum yang diduga preman.

 

Abdiyanto Fikri, SH Anggota DPRD OKI

Abdiyanto Fikri, SH Anggota DPRD OKI

Menurut Abdiyanto, hal ini sudah berlangsung lama bahkan mereka ini mendirikan posko keamanan seakan-akan mereka legal. “Kita berharap pemerintah desa setempat bisa melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian kalau memang tujuannya baik harus dibina akan tetapi kalau memang sudah meresahkan masyarakat apalagi ada unsure pemaksaan ya harus dibinasakan,” ujarnya.

 

Kata Abdiyanto, disatu sisi alasan mereka baik. Sebab di daerah itu sering terjadi pembegalan. Tapi disisi lain, mereka sudah meresahkan, apalagi meminta sejumlah uang bahkan sampai Rp 50 ribu setiap pengendara yang lewat. “Seharusnya jangan ada unsur pemaksaan. Berapapun orang mau ngasih ya diterima, jangan mematok harga Rp50 ribu. Kan kasihan masyarakat setiap lewat harus bayar,”cetusnya.

 

Terkait permasalahan ini kata Abdianto, dirinya akan berkoordinasi dengan pemerintah desa dan pihak kepolisian setempat guna menindak lanjuti aksi pemalakan itu jangan sampai masyarakat merasa resah. “Yang kita khawatirkan ini terjadi pembegalan gaya baru,” jelasnya.

 

Menurut masyarakat setempat aksi pemalakan ini berdalih untuk melindungi dan memberikan keamanan kepada masyarakat dari perampok. Bahkan para preman ini mendirikan Pos Keamanan di setiap perbatasan desa yang dihuni oleh tiga orang sampai enam orang setiap pos

 

“Mereka mewajibkan para pengguna jalan memberi uang yang diminta mulai dari Rp.10ribu hingga Rp.50ribu. Apabila masyarakat yang lewat tidak memberikan uang, para preman ini akan memberhentikan kendaraan secara paksa dan tidak segan-segan menggunakan kekerasan kepada mereka yang tidak memberi uang,” ungkap salah satu sumber.

Sumber yang mengalami sendiri kejadian tersebut mengaku diberhentikan secara paksa oleh dua orang preman yang berada dalam pos dan meminta uang sebesar Rp.20.000,- sebagai jasa keamanan karena telah melintas. “Dengan terpaksa saya memberikanya takut di apa-apakan oleh preman tersebut dan melanjutkan perjalanan pulang ke tulung selapan,” ungkapnya.

 

TEKS : REL | EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *