Adia, Bocah Belasan Tahun, Ikut Pameran Bersama 150 Perupa

YOGYAKARTA | KSOL — Ahad, pagi (21/8/2016) Galeri Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Jalan Bugisan Yogyakarta ramai oleh tamu. Sebagian besar para perupa. Pengunjung lainnya para penikmat seni, baik dari dalam maupun luar Yogyakarta. Kali itu Sanggar Bambu (Sabu) Yogyakarta tengah menggelar pameran Sketsa Merah Putih.

Totok Buchori, salah satu pelukis yang tak asing di dunia Seni Rupa Indonesia menyebutkan, Sanggar Bambu, merupakan salah satu tempat pertemuan bagi Seniman Seni Rupa di Yogyakarta pada 1959 yang didirikan oleh Sunarto. “Tujuannya untuk berkumpul, berkarya bersama,” jelas Totok Buchori, di sela-sela pameran.

 Pameran Sketsa Merah Putih Bersama 150 Perupa Galeri Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Jalan Bugisan Yogyakarta, Ahad (21/8/2016) pagi.


Pameran Sketsa Merah Putih Bersama 150 Perupa Galeri Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Jalan Bugisan Yogyakarta, Ahad (21/8/2016) pagi.

Totok yang kini dipercaya memimpin Sabu Yogyakarta menyebutkan, sketsa adalah jejak rekam visual dalam bentuk garis, goresan dan blok. Bahkan mencatat peristiwa secara simbolis meskipun tidak sesempurna bidikan kamera. “Pameran ini merupakan serangkaian dari kegiatan sketsa bersama 150 perupa di Obyek Wisata Pantai Gesing,” tambahnya.

Pada pameran ini, ada hal unik yang jarang terjadi. Pada event yang cukup bergengsi ini, ternyata bukan hanya para perupa senior yang meramaikan pamaren.

Ternyata umur bukan halangan untuk ikut dalam pameran para seniman terkenal. Terbukti, karya Adia Rafa Fathina yang berjudul “Candi Prambanan” ikut dipamerkan dan bersejajar dengan 150 perupa Indonesia dalam pameran itu.

Beberapa perupa yang ikut meramaikan pameran itu, diantaranya Arum Nazurahaini, Dunadi, DN Koesolo, Hartono, Lisya Van Sorren, MN Wibawa, Surachman Mandho, Taufik Kamajaya, dan Teguh Eswe.

Totok menambahkan, Yogyakarta memiliki jam terbang sangat tinggi. Di mata Totok, Yogyakarta menjadi kota teraktif untuk seni dan budaya. Bahkan masyarakat Yogyakarta tak hanya dekat dengan dunia seni rupa, melainkan semua bidang seni. Oleh sebab itu, Seni Rupa di Yogyakarta menjadi sangat penting.

Namun, Totok sempat ragu menjawab ketika Kabar Sumatera bertanya tentang pengunjung yang didominasi perupa dan pelaku seni. Sementara masih banyak warga yang berada “di luar pagar” yang belum hadri ikut menyaksikan pameran. Disinilah, menurut Totok masyarakat juga butuh pendidikan seni.

Tito, salah satu pengunjung pameran yang hadir bersama isterinya mengaku senang dapat menghadiri pembukaan Pameran Sketsa Merah Putih bersama 150 perupa. Katanya, mereka beruntung tinggal di Yogyakarta. Sebab hampir setiap pekan, di Yogyakarta dapat ditemui pameran seni rupa. “Hampir tiap pekan kami mendapat hiburan pameran seni rupa,” ujar Tito, fotografer yang kerap mengabadikan kegiatan seni dan budaya di Yogyakarta.

Seperti dilansir wartadesa.co, Pungki Wibowo, Koordinator Pameran Sketsa bersama 150 perupa di Pantai Gesing, Gunung Kidul menuturkan, karya-karya yang terpilih bakal dipamerkan. “Bahkan beberapa sketsa dibuat menggunakan spidol,” tegasnya.

Pameran yang dibuka setiap hari pukul 08.00-13.00 WIB ini akan berakhir pada 28 Agustus 2016. Pada malam harinya, akan ditutup dengan acara Mengenang Rendra, pada pukul 19.00 WIB, bersama keluarga Rendra, Anggota Bengkel Teater dan Kerabat Sabu.

TEKS : A.S. ADAM | YOGYAKARTA  | EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *