Seniman Besar Berkumpul di Segotempe Pak Griwo (SPG)

YOGYAKARTA | KSOL —Pertunjukan lagu puisi dan pembacaan syair dalam tajuk “Kelangan Asor” menampilkan Untung Basuki, Lim Hans, Wahdjudi Djaja, dan Ana Ratri, yang diadakan di Segotempe Pak Griwo (SPG) memukau penonton. Dipandu Dobleh MIZ, aktor dalam film Sang Pencerah, suasana jadi semakin hidup.

Menurut penyelenggara sekaligus pengelola Segotempe Pak Griwo (SPG) mengatakan, bahwa tempat ini sebenarnya sebagai sarana atau tempat bekumpulnya para sastrawan, jurnalis, perupa, musisi, penulis, juga penikmat/pelaku seni dan budaya.

IMG-20160818-00279

Duet Untung Basuki dan Lim Hans pada pertunjukan lagu puisi dan pembacaan syair di Segotempe Pak Griwo, Kamis (18/8/2016) malam. FOTO.DOK.KABAR SUMATERA.COM/ADAM

Pada sambutannya yang singkat, Griwo selaku pengelola sekaligus penggagas SPG berusaha berkontribusi lebih terhadap seni dan budaya di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Sebagai pewarta dan penulis, dirinya mengaku prihatin terhadap Yogyakarta yang sebenarnya sudah kehilangan kerendahan hati.

“Belakangan ini makin banyak kaum muda yang tidak bisa menghargai orangtua,” ujar Griwo. “Bahkan tidak sedikit anak-anak dan kaum muda yang berperilaku buruk tidak dididik dengan baik oleh orangtuanya, sehingga kehilangan asor.”

Keprihatinanya terhadap tepo seliro dan andap asor merupakan refleksi nyata yang dirasakannya selama hampir tiga belas tahun hidup di perantauan di Sumatera. Ia mengamati bahwa semakin hari Jogja yang merupakan Ibu Kota Jawa, menurut dia, semakin melupakan asal-usule urip (asal-usul dari mana hidup).

Selain dihadiri seniman, pecinta/seni dan budaya di Yogyakarta, pertunjukan semalam di Segotempe Pak Griwo (SPG) juga dihadiri istri seorang sastrawan yang wartawan, A. Adjib Hamzah, salah seorang pegiat seni dan budaya di Yogyakarta di era W.S. Rendra, Motinggo Busye, Arief Budiman dan H.B. Yassin.

“Saya merasa bangga dan bahagia bisa hadir di sini meski bapak tidak bisa menyaksikan peristiwa ini,” ujar Suyatinah, 71, yang kerap disapa Ibu Adjib, ibu kandung Griwo (A.S. Adam).

Pada kesempatan yang sama, Untung Basuki yang pernah wara-wiri bersama Bengkel Teater, Kantata Taqwa dan Swami, di Yogyakarta justru lebih inten di Sanggar Bambu yang melahirkan seniman-seniman besar di Indonesia.

“Satu lagi tempat di Jogja, Segotempe Pak Griwo, semoga melahirkan seniman-seniman dengan karya-karya yang hebat,” ujar Untung Basuki, teman dekat Iwan Fals dan Sawong Jabo.

Bersama Sabu, semalam Untung Basuki, Lim Hans, Nina Purnomo, Ami Simatupang, tampil memukau membawakan “Maju Perang”, “Jingkring Mien Brojo”, “Lepas-lepas”, “Guntur vs Bui”, dan “Sajak Sebatang Lisong”, yang beberapa diantaranya merupakan karya puisi W.S. Rendra.

Mendekati akhir acara, justru suasana semakin menarik. Penulis Lisya Van Sorren bersama Untung Basuki mendadak muncul spontan. Lisya yang merupakan putri Djoni Trisno, seniman kelompok pelukis rakyat yang didirikan oleh Affandi, sempat membuat sebagian penonton melongo.

Tak ketinggalan, Slamet Nugroho yang biasa disapa Inug Dongeng, jauh-jauh dari Palembang, setelah di Jakarta ia menyempatkan hadir untuk mendongeng di Segotempe Pak Griwo (SPG). Inug senang bisa hadir melebur dengan pelaku seni dan budaya di Yogyakarta. Bahkan dirinya berjanji bakal kembali lagi ke Jogja karena rindu suasana Jogja yang dulu.

“Di Palembang mungkin tidak bisa seperti di jogja. Bagi saya Jogja tetap ngangeni dan menginspirasi, meskipun sebenarnya saya merupakan asli Jogja,” beber Inug usai mendongeng kisah macan dan tikus yang kelangan asor (kehilangan rasa rendah hati). Sebelumnya, Wahdjudi Djaja dan Ana Ratri, sempat membacakan syair yang khusus dibacakan untuk Griwo.

TEKS/FOTO : A.S. ADAM | EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *