Mima Saina, orang Indonesia jadi pahlawan di Israel

Mungkin tak banyak orang tahu dan sejarah Indonesia pun belum pernah mencatat. Namun bagi Israel, sekecil apapun sumbangsih bangsa lain kepada warganya menjadi sebuah penghargaan tertinggi. Di Yadvashem dua nama nama orang Indonesia tercatat sebagai pahlawan. Mereka adalah orang-orang telah mempertaruhkan nyawanya untuk warga yahudi dari kekejaman Nazi.

Adalah Mima Saina, perempuan berdarah Jawa dan Tole Madna, seorang pria asal Indonesia menjadi pahlawan di kawasan monumental di Israel. Di areal seluas 45 hektar tempat monumen peringatan para korban Holocaust, di situlah nama Mima Saina dan Tole tersemat. Kawasan ini dikenal sebagai kebun Righteous Among the Nations. tempat diperuntukkan bagi kalangan non Yahudi yang telah berjasa besar dalam menyelamatkan orang-orang Yahudi dari Holocaust.

Seperti dikutip dari situs yadvashem.org, Mima Saina dan Tole Madma dijadikan pahlawan pada tahun 2003 atas rekomendasi Congregation Adas Israel di Washington D.C. dan Senator California, Henry A. Waxman. Tak banyak informasi dari keduanya. Congressional Record hanya menyebut Tole Madna adalah seorang katolik juga warga Indonesia menetap di Belanda. Sedangkan Mima Saina adalah pembantu rumah Tole Madna, ia seorang muslim.

Berdasarkan situs United States Holocaust Memorial Museum, keduanya tercatat pernah menolong seorang bayi Yahudi bernama Alfred Munzer. Alfred kini menjadi seorang ahli penyakit dalam dan spesialis paru yang tinggal di Washington DC, Amerika Serikat. Dia juga pernah menjabat sebagai Presiden Asosiasi Ahli Paru Amerika Serikat.

Beberapa literasi menyebutkan kisah kemanusiaan keduanya menyelamatkan Alfred Munzer. Kisahnya bermula Kisahnya dari pasangan Yahudi bernama Simcha Mnzer dan Gisele. Keduanya merupakan sepupu dan bertemu saat berada di Polandia. Simcha berasal dari kota Kaczuga sedangkan Gisele berasal dari Rymanw, kedua kota berada di propinsi Podkarpackie, Polandia selatan.

Ketika berusia 18 tahun, Simcha hijrah ke Hague, Belanda. Di sana dia membuka sebuah butik pakaian. Sedangkan Gisele tinggal di rumah kakaknya di Berlin sebelum akhirnya menuju Hague di awal Desember 1932, dan menikah dengan Simcha pada 16 Desember 1932.

Singkat cerita, pernikahan keduanya dibuahi tiga orang anak. Adalah Eva, Leah dan juga Alfred Munzer. Ketika Alfred lahir pada tahun 1941, Belanda diinvasi oleh Jerman. Dari sinilah kisah penyelamatan Alfred dimulai. Perburuan orang-orang Yahudi menjadi target utama Jerman.

Untuk menyelamatkan anak-anaknya, Gisele memilih menjual semua harta dia miliki. Dua anak perempuannya juga kakak kandung Alfred dititipkan kepada tetangganya yang bersedia menyembunyikan mereka. Ayahnya, Simcha pura-pura mencoba bunuh diri dan dibawa ke rumah sakit jiwa. Gisele pun kemudian menyusul setelah menitipkan ketiga anaknya.

Alfred, kala itu dititipkan kepada seorang tetangga bernama Annie Madna. Dia kemudian dipindahkan untuk dirawat oleh adik perempuan Annie karena saat itu seorang Belanda simpatisan Nazi tinggal di sebelah rumah mereka. Demi keselamatan Alfred, Annie kemudian menghubungi mantan suaminya, Tole Madna, seorang lelaki juga imigran asal Indonesia. Di sanalah akhirnya Alfred dirawat oleh Tole Madna hingga Perang Dunia II berakhir.

Dari sini juga Alfred mengenal Mima Saina sebagai ibu angkatnya. Kebetulan Mima adalah seorang pembantu di rumah Tole Madna. Hingga akhirnya, Alfred kembali kepangkuan Gisele. Selama berpisah, Gisele beberapa kali pindah dari kamp ke kamp setelah rumah sakit tempat mereka bersembunyi diserbu tentara SS Nazi. Gisele dan suaminya, Simca menjadi tawanan ikut dibawa tentara SS. Sayang dua bulan sebelum perang berakhir, ayahanda Alfred meninggal dunia.

Dia meninggal ketika sedang menjalani perawatan. Jasanya dikuburkan di areal pemakaman Kamp Ebensee, sebuah kamp mempekerjakan tawanan yahudi membangun terowongan bawah tanah difungsikan untuk mengevakuasi senjata misil V-2.

Kini Alfred tumbuh menjadi dewasa. Setelah perang dunia dua, Gisele membawa Alfred hijrah ke Amerika Serikat. Kini Alfred menjadi seorang ahli penyakit dalam dan spesialis paru tinggal di Washington DC, Amerika Serikat. Atas permintaan dia juga situs United States Holocaust Memorial Museum juga menggunakan bahasa Indonesia.

TEKS : MERDEKA.COM




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *