Asah Kemampuan Akting, Ketua AJI Palembang Main Film

OGAN ILIR, KSOL – Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palembang, Darwin Syarkowi, seolah tak mau disebut hanya sebagai jurnalis. Tapi alumnus Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah Palembang ini ingin mengasah ilmu teaternya untuk beradu akting dengan sejumlah aktor lain pada umumnya.

Lajang kelahiran Palembang, 27 Juni 1973 ini, dalam satu pekan ini sedang konsen dalam penggarapan  film “Meniti 20 Hari” (M20H), produksi Lembaga Seni Budaya dan Olah Raga (LSBO) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

13321630_1137662212951659_4360338682657770802_n

Darwin Syarkowi (kaos hitam menghadap kamera) sedang bersiap diri dalam adegan film “Meniti 20 Hari”

13331029_1137662252951655_8806104594903835573_n

Darwin Syarkowi (kaos hitam menghadap kamera) sedang latihan dalam adegan film “Meniti 20 Hari”

Tentang keahlian akting bagi mantan General Manager Radio Smart FM Palembang ini, tak perlu diragukan. Sebab, di era 90-an Darwin pernah aktif di Sanggar Sastra RRI Palembang. Bukan itu saja, di tahun yang sama Direktur Operasional Kopi Hitam Management (KHM) Palembang ini, saat di kampus pernah aktif di Teater Kreta Palembang.

Ada beberapa naskah yang pernah ia sutradarai dan mendapat nominasi terbaik di Sumatera Selatan. Diantaranya naskah “Lapar” yang kemudian mengantarkan Darwin, terpilih sebagai sutradara terbaik se-Sumsel dalam festival Teater di Palembang tahun 1996.

Selain menggarap dan menyutradarai pementasan teater, Darwin juga menggarap musikalisasi puisi dan bersama penyair Palembang, menerbitkan antologi puisi, yang bertajuk “Kumpulan Puisi Musi” tahun 1990.

Keterlbatannya dalam film M20H ini, bagi Darwin hal pertama, khususnya untuk layar lebar. Sebab selama ini, Darwin bersama aktifis teater di Palembang, baru berkutat di layar TVRI Palembang. “Kalau layar lebar ini kali pertama. Sebab selama ini, terutama di tahun 90-an,. saya dan kawan-kawan lebih banyak ke panggung teater dan sekali-kali di TVRI Palembang,” ujarnya.

Bagi Darwin, ada kesamaan tugas antara jurnalis dan aktor. Keduanya memiliki kewajiban untuk mencerdaskan. “Bagi saya, antara jurnalis dan dunia teater atau film, sama-sama memiliki tugas mulia, yaitu menyampaikan nilai-nilai kebaikan. Hanya media dan metodenya saja berbeda. Tujuannya sama, untuk mendorong dan memotivasi anak bangsa menjadi lebih baik,” ujarnya saat di temua di sela-sela shoting di Desa Talang Balai Baru II Kecamatan Tanjung Raja Kabupaten Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Selasa (29/5/2016).

Film yang bergenre agama ini merupakan napak tilas perjalanan sosok KH. A.R Fachruddin, Ketua Umum Muhammadiyah periode 1979-1988 yang pedrnah tinggal di Desa Ulak Paceh Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) Sumatera Selatan di era 1939. Selain di Ulak Paceh, KH A.R Fachruddin, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Pak A-R (baca : A-Er), pernah bermukim dan mengajar di Lembaga Pendidikan Mua’limin di Desa Talang Balai Baru II Kecamatan Tanjung Raja Kabupaten OI.

“Dulu beliau mengajar di sini. Di sini dulu kan ada sekolah Mu’alimin seperti di Yogya. Jadi Pak AR yang mengajar di sini,” ujar Hj. Amanah Mahmud, pemiliki rumah yang pernah menjadi persinggahan Pak AR di OI.

Rencananya, hari ini, Rabu (1/6/2016) shoting film yang disutaradri Ari Mubarianto ini dilanjutkan di Desa Sungai Rambutan Kecamatan Pemulutan Kabupaten OI. “Dalam adegan hari ini. Saya masih harus ikut satu scene lagi,” ujarnya ketika dijumpai menjelang shoting di Desa Sungai Rambutan, Rabu (1/6/2016).

TEKS / EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *