Ade Sukma, Pemuda Tani Desa Lebak Budi, Terpilih Magang di Jepang

 Pemuda Indonesia semakin enggan untuk bekerja sebagai petani, karena dipandang sebagai pekerjaan kurang terhormat ketimbang menjadi pegawai atau pedagang. Namun hal itu harus segera diatasi agar tenaga kerja di bidang pertanian tidak terus menyusut, meskipun saat ini dapat diatasi dengan mekanisasi pertanian.


Waktu itu jumlahnya 22 orang dan pemberangkatan dibagi menjadi 2 tahapan. Kuartal pertama ada 18 orang dan sisanya 14 orang di kuartal kedua. Namun keberangkatan nya hanya selisih hari saja. Dengan menggunakan pesawat Garuda dan hanya transit di Bandara Ngurai Rai Denpasar Bali,” ujar Maman.

Maman mengatakan, sebelumnya rombongan yang dipimpin putranya sudah melapor ke kedutaan Indonesia di Jepang. Dan saat ini, mereka sudah dengan orang tua asuh atau bapak angkatnya masing-masing untuk melaksanakan pendalaman budidaya, seperti padi organik, sayuran dan juga peternakan. Untuk budidaya padi ada 6 orang termasuk anaknya Ade Sukma Setiarasa yang ditempatkan di wilayah Tokyo Jepang.

“Saya berharap keberangkatan Ade Sukma ke Jepang akan membuat para pemuda mencintai pertanian dan berharap nantinya Ade Sukma menjadi regenerasi penyuluh pertanian yang berprestasi di Muara Enim,” katanya.

Ade Sukma, Pemuda Tani Desa Lebak Budi, Muaraenim Terpilih Magang di Jepang

Ade Sukma, Pemuda Tani Desa Lebak Budi, Muaraenim Terpilih Magang di Jepang

Menurut Maman, tujuan magang adalah membentuk watak, keterampilan dan etos kerja pemuda tani sebagai bekal untuk menjadi wirausahawan muda mandiri di desanya. Terbukti, hasil dari kegiatan magang yang dilakukan oleh pemuda tani sebelumnya di wilayah lainnya, cukup berhasil dalam mengembangkan pembangunan pertanian di tanah air.

Maman menjelaskan, program petani muda magang ini berawal dari kementerian ESDM RI mencari kader tani untuk didatangkan dengan cara berkesempatan untuk di training di negeri sakura Jepang selama setahun. Untuk di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), yang meliputi Bangka Belitung, Bengkulu, Jambi dan Lampung, secara kebetulan satu-satunya utusan pemuda tani dari formulator asal Desa Lebak Budi Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, yang terpilih setelah sebelumnya mengikuti seleksi menjadi ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) AFAN, yang sudah bergerak dari tahun 2010.

Ia pun berharap setelah satu tahun selesai dalam mengikuti magang di negara Jepang, sepulangnya dapat melakukan pengembangan usaha dari pelajaran dan pengalaman selama magang di Jepang.

“Ya syukur-syukur nanti dapat merekrut semua produksi yang sifatnya organik. Dan yang lebih penting lagi kita bisa meningkatkan nilai ekspor beras organik sehingga cita-cita untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani bisa benar-benar tercapai, mengingat selama ini walaupun produksi harga beras organik tinggi untuk organik namun belum dinikmati oleh petani, karena realitas yang terjadi masik dinikmati oleh para tengkulak atau pedagang perantara yang membeli hasil bumi dan sebagainya dari petani atau pemilik pertama dengan harga beli rendah pada umumnya dari harga pasar. Nah, ini harapannya dari para kawula muda untuk merekrut produk ini, termasuk pemberdayaannya,” ujar Maman.

Harapannya bagaimana inovasi dalam bidang pertanian dapat diinkubasi atau rangkaian usaha yang dibutuhkan sebelum memulai usaha tertentu, sehingga membuahkan tenaga kerja, finansial dan sebagainya.

Ade Sukma Saat Menjadi Komandan Upacara Di Kedutaan RI di Jepang

Ade Sukma Saat Menjadi Komandan Upacara Di Kedutaan RI di Jepang

“inkubasi itu waktu atau masa yang dibutuhkan untuk melaksanakan observasi atau aksi dan intervensi tertentu, sampai muncul perubahan dari kondisi awal menjadi kondisi baru. Pertanyaannya, mengapa inkubasi penting untuk dilakukan?’ tegasnya.

Pada umumnya, menurut Maman sebuah usaha baru atau inisiatif baru membutuhkan semacam uji coba, market testing, atau piloting sebelum dijalankan sepenuhnya. Pada tahap awal, biasanya masih dijumpai adanya pengalaman yang terbatas, keterampilan manajerial yang minim, jejaring usaha yang sedikit, atau dukungan dan kepercayaan publik yang juga masih sangat terbatas.

Dengan berbagai keterbatasan diatas, kemungkinan keberhasilan suatu usaha atau inisiatif menjadi kecil. Untuk itu, menutut Maman sesuatu yang masih mentah bisa menjadi matang setelah melewati masa inkubsi. “Sesuatu yang masih berupa konsep dan ide dapat menjadi program yang aplikatif dengan menjalani masa inkubasi,” jelas Maman detail.

Suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang ayah karena putranya  mewakili Sumbagsel dan satu-satunya terpilih seleksi membawa nama harus kabupaten Muara Enim untuk mengikuti training atau magang di Jepang.

Alhamdulilah, Pemerintah Kabupaten sangat responsif. Meskipun ada sedikit kendala untuk dirinya mendapatkan rekomendasi dari dinas terkait. Nyaris terlambat dalam memenuhi syarat tersebut.

“Maksudnya, sebelumnya ada 34 orang yang harusnya berangkat hingga menjadi 22 orang, itu karena keterlambatan mereka mendapatkan persyaratan. Misalnya surat rekomendasi dan surat keterangan serta surat pernyataan dari dinas terkait. Saya sempat ikut mengantar putra saya ketika berangkat ke Bogor. Alhamdulillah dibantu Pak Herwanto, Sekretaris Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Muara Enim, yang akhirnya justru memberikan surat rekomendasi,” ungkapnya.

“Jadi yang mengeluarkan surat rekomendasi tersebut adalah kepala dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura. Seharusnya barisan BP4K yang harus lebih dominan mengeluarkan nya. Bayangkan dari 34 orang dari berbagai daerah, hingga yang berangkat menjadi 22 orang, akibat salah satu kendalanya tidak mendapatkan rekomendasi dari birokrasi,”akunya.

Maman juga tuidak mengetahui persisinya mengapa dirinya ada naluri untuk ikut mendampingi anaknya ke Bogor. Sesampai disana ada persyaratan yang kurang. “Kemudian saya coba melakukan komunikasi. Akhirnya data dikirim melalui internet dan syarat fisik di antar melalui jasa pengiriman swasta hingga tepat waktu dapat memenuhi syarat untuk keberangkatan. Ya alhamdulillah, mengingat kesempatan itu biasanya tidak akan datang dua kali.

Maman berharap,  ke depan yang munculnya, bukan hanya nama Ade Sukmanya, tapi Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) AFAN, dan akan membawa nama harum Kabupaten Muara Enim dan Sumatera Selatan. “Semoga langkah Ade ini akan mampu memotivasi para pemuda untuk tetap berkecimpung di sektor pertanian dalam negeri,” ujarya. Semoga…

TEKS / FOTO : HENDRO ALDO IRAWAN – REPORTER RGBA FM TANJUNG ENIM
EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *