Warga Ulak Paceh, Antusias Saksikan Shoting Film Meniti 20 Hari

Adzan isyak baru saja berlalu. Warga Desa Ulak Paceh Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) ramai tak langsung masuk ke rumah. Mereka berkerumun di halaman salah satu warga. Tua, muda, laki-laki dan wanita berjejal diantara keremangan malam.

Kehadiran mereka guna melihat proses shoting film “Meniti 20 Hari” yang diproduksi Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

7. Sutradara Ari Musbarianto senang memberi arahan dalam film Meniti 20 Hari

Sutradara Film Meniti 20 Hari – Ari Musbarianto sedang memberi arahan dalam sebah adegan

Film yang berdurasi 105 menit ini, mengisahkan perjalanan Kepanduan HW bersama Kiai Pak AR Muda, yang kemudian menjadi Ketua Umum Muhammadiyah periode 1979-1988 saat berada di Desa Ulak Paceh Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan.

Secara genetika, Pak AR lahir dan berdomisili di Yogyakarta. Namun siapa sangka, kalau sebelum menjadi Ketua Umum Muhammadiyah, ternyata tokoh yang satu ini pernah  tinggal dan besar di Desa Ulak Paceh Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) Sumatera Selatan di tahun 1940-an.

Praktis, sebagian warga Muhammadiyah di Sumatera Selatan pun tidak banyak yang mengetahui perjalanan dan ketokohan Pak AR di Sumatera Selatan. Namun lain halnya ketika masuk di Desa Ulak Paceh. Hampir sebagian kalangan orang tua, mengenal ketokohan Pak AR, terutama proses awal berdirinya Muhammadiyah di Sumatera Selatan.

Melihat kenyataan itu, Sukri berharap melalui film ini akan mengungkap dan membuka tabir sejarah terutama bagi kalangan  muda yang selama ini tidak mengetahui perjuangan Pak AR dalam mendirikan Muhammadiyah di Sumatera Selatan.

“Ini sangat berguna bagi kalangan muda, terutama di Sumatera Selatan. Sebab melalui film ini akan mengungkap sejarah asal muasal Muhammadiyah di Sumatera Selatan, dan bagaimana kisah perjalanan Pak AR muda saat di Ulak Paceh,” ujar Sukriyanto, yang merupakan anak kandung Pak AR.

Tepatnya di era 1939, Pak AR bersama 11 rekannya di Kepanduan HW, melakukan perjalanan panjang menggunakan sepeda onthel selama 20 Hari, dari Desa Ulak Paceh Kabupaten Muba, Sumatera Selatan menuju Medan Sumatera Utara. “Tujuannya, untuk mengikuti Kongres Muhammadiyah ke-28 yang diselenggarakan di Pesisir Timur Kota Medan,” ujar Sukriyanto saat ditemui di Palembang, Rabu (25/5/2016).

Dari sejumlah sumber yang dihimpun menyebutkan, perjalanan Pak AR dari Ulak Paceh ke Medan inilah yang dikemudian hari melahirkan Muhammadiyah di Sumatera Selatan. Sebagai permulaan pendirian Muhammadiyah, Pak AR bersama Tim Kepanduan HW, warga Desa Ulak Paceh, secara bergotong royong membuat sebuah bangunan, yang kini tetap berdiri dan terawat dengan baik.

“Ini pondasi yang dulu pernah dibangun Pak AR. Dan warga di sini melanjutkan bangunan ini sampai sekarang,” ujar Elfan, salah satu warga Desa Ulak Paceh menunjukkan bukti bangunan di Desa Ulak Paceh.

Gedung Muhammadiyah dan rumah tinggal Pak AR, hingga kini masih berdiri kokoh di Desa Ulak Paceh Kabupaten Muba Sumatera Selatan. Gedung Muhammadiyah, kini menjadi asrama Muhammadiyah di Desa Ulak Paceh yang dihuni sejumlah kader Muhammadiyah dan aktifis Kepanduan HW. Sementara rumah tinggal Pak AR tetap dihuni dan dirawat dengan baik oleh warga di Ulak Paceh.

Karena film ini merupakan napak tilas perjalanan Pak AR muda, maka rumah tinggal inilah kemudian menjadi salah satu lokasi shoting film ini. Meskipun dalam praktiknya, sutradara juga memilih beberapa lokasi lain di kabupaten dan kota di Sumatera Selatan. Diantaranya, Taman Wisata Punti Kayu Palembang,  Kecamatan Jejawi (Kabupaten Ogan Ilir), Desa Kota Agung dan Pulau Pinang (Kabupaten Lahat).

Sukri berharap, melalui film ini dapat menjadi motivasi bagi generasi muda Indonesia, tentang bagaimana perjuangan seorang tokoh untuk melakukan kebaikan, yang penuh tantangan dan rintangan. “Oleh sebab itu, film ini melibatkan anak-anak muda, sehingga nantinya generasi muda Indonesia, dapat mengambil pelajaran dari kisah film ini,” ujarnya.

Film ini menurut Sukri akan menjadi starting point dalam maksimalisasi kader Muhammadiyah untuk mengelola potensi seni di tubuh Muhammadiyah yang masih terpendam. “Saya melihat, sangat banyak anak muda di Muhammadiyah yang memiliki potensi seni. Oleh sebab itu  perlu ada pemberdayaan agar mereka terus dan mampu berkarya, sekaligus merintis dan mendorong gerakan dakwah kultural. Salah satunya melalui seni film ini. Insya  Allah, film ini akan di putar di akhir Juni,” ujarnya

Film Perdana

Film “Meniti 20 Hari” yang disutradarai Ari Musbarianto asal Yogyakarta ini, merupakan film perdana yang murni diproduksi PP Muhammadiyah. Sebelumnya, Muhammadiyah juga pernah memiliki film “Sang Pencerah” yang berkisah tentang pendiri Muhammadiyah, KHA Dahlan. Namun film yang disutradarai Hanung Bramantyo ini, dibintangi sejumlah artis terkenal dan profesional di bawah bendera Production House (PH), sebuah PH mainstream di Jakarta.

Lain halnya film “Meniti 20 Hari” ini. Selain didanai PP Muhammadiyah, juga dibintangi sejumlah pemain baru. Sebagian pemain, 80 % tidak memiliki pengalaman di dunia film apalagi acting di depan kamera.  “Hal ini dilakukan, sebagai salah satu upaya pemberdayaan potensi genersi muda, terutama putra putri Muhammadiyah di Sumatera Selatan,” ujar Sukriyanto.

Konsekuensinya,  dalam film ini sang sutradara dipaksa membentuk aktor baru di lokasi shoting dalam waktu yang relatif singkat. Tak ayal, sejumlah scene (adegan) yang diambil juga harus beberapa kali kali diulang. “Nanti akan kita direct di lapangan saat shoting. Ini biasa saja terjadi di hampir setiap film. Jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Mereka saya lihat punya potensi. Jadi tinggal kita latih saja beberapa kali, insya Allah bisa,” ujar sang Sutradara, Ari Musbarianto, saat dibincangi usai casting di UMP, pekan silam.

Kesan Pemain Baru

Bagi sebagian pemain baru, pola jadi aktor dadakan ini punya kesan tersendiri. Salah satunya disampaikan Rozali (21), aktifis Kepanduan HW di Ulak Paceh. Rozali mengaku, tak terbersit sebelumnya jika hari itu dia didaulat menjadi salah satu figuran dalam film ini. “Nervous juga. Sebab saya baru pertama kali ikut main film,” ujarnya ketika ditemui di sela-sela shoting di Desa Ulak Paceh, Kamis (26/5/2016).

Selain Rozali, hal serupa juga diungkapkan M Andreanto Wibisono (21). Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) ini mengatakan tidak terpikir jika dalam casting di UMP bulan sebelumnya dirinya terpilih menjadi salah satu pemain dalam film ini.

Apalagi, sutradara kemudian mendaulat Andre memerankan Pak AR muda yang menjadi tokoh sentral dalam film ini. Bagi Andre terlibat dalam film ini merupakan pengalaman baru. Sebab jauh sebelum ini, Andre tak pernah kenal dengan dunia acting atau teater.

“Ada pengalaman baru, ada kenyamanan baru, juga teman-teman baru. Ini sangat berkesan. Saya baru tahu tentang akting dan teater ya di film ini,” ujarnya saat ditemui di asrama Muhammadiyah di Desa Ulak Paceh, tempat para pemain dan crew menginap dalam beberapa hari selama shoting berlangsung.

Lain lagi bagi Bagus Rama Putra (21) sosok pemain baru lainnya. Obsesinya menjadi aktor akhirnya terwujud, setelah sekian lama hanya dalam angan. “Saya memang sudah tertarik untuk jadi aktor. Tapi ya baru sekarang saya mulai belajar. Kalau di SMA baru ikut  di teater,” ujar Mahasiswa Teknik Kimia UMP ini saat dibincangi di sela-sela shoting di Desa Ulak Paceh, Kamis (26/5/2016).

Seiring dengan Bagus, pemain baru lainnya, Suwaibatul Aslamiyah (21) juga merasakan cita-citanya terlibat dalam produksi film terwujud. Meskipun, dara kelahiran Mesuji Ogan Ilir yang akrab dipanggil Mia ini mengaku sudah beberapa kali terlibat dalam produksi film indi. “Sebenarnya dari dulu ada keinginan main di film layar lebar. Alhamdulillah baru sekarang terwujud,” ujar pemeran Halimah ini, saat dibincangi di Angkringan Nasi Bakar Kopi Hitam (NBKH) Palembang, usai casting di Palembang, pekan silam.

Lain lagi bagi Janero (19) aktifis film indi di Palembang. Bagi mahasiswa jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah ini, keinginan belajar menjadi aktor dalam film layar lebar sudah lama membersit dibenaknya. Namun kesempatan itu baru terjadi, saat dirinya terpilih menjadi salah satu anggota Pandu HW dalam film ini.

Sehingga, meski harus diulang beberapa kali, dalam diri Janero tak ada rasa bosan apalagi kesal. “Kami malah senang, Mas. Sebab disinilah saya dan kawan-kawan banyak belajar memainkan sebuah peran. Saya enjoy saja kok, Mas,” ujar aktifis Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ukhuwah UIN Raden Fatah Palembang ini, ketika dibincangi usai melakukan sebuah adegan di Desa Ulak Paceh.

Selain pemain pemula, film ini juga melibatkan sejumlah pemain teater di Palembang. Diantaranya, Jaid Saidi, jebolan Bengkel Teater Rendra. Pentolan Teater Harmoni Palembang ini,  sebelumnya pernah terlibat dalam dua film layar lebar yang bersetting sejarah Sumatera Selatan, (Film Pengejar Angin dan Gending Sriwijaya) besutan sutradara Hanung Bramantyo.

Selain Jaid Saidi, film ini didukung pula pelaku teater lainnya di Palembang, diantaranya Yussudarson. Aktifis teater Palembang yang akrab dipanggil Sonov ini, di era 1990-an selain menjadi aktor di TVRI Palembang, sebelumnya pernah bermain bareng dengan Almarhum Jefri Al Bukhri (Uje), dalam  sinetron “Cermin Retak” di Kabupaten Lahat Sumatera Selatan.

Lounching di Punti Kayu

Film ini sebelumnya, Senin (23/5/2016) sekitar pukul 08.15 WIB, secara resmi dilounching di pelataran panggung utama di Taman Wisata Hutan Punti Kayu (TWHPK) Palembang.

Kali itu, Drs H Sukriyanto AR M.Hum, Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olah Raga (LSBO) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, mewakili jajaran PP Muhamamdiyah, kali itu memberi sambutan pada opening ceremoni sekaligus memberi aba-aba pengambilan gambar perdana (shoting) film “Meniti 20 Hari” produksi LSBO PP Muhammadiyah.  “Siap-siap ya! Kamera, action!” ujar Sukriyanto layaknya sutradara yang memberi aba-aba pada sebuah adengan film usai memberi sambutan.

Sejumlah crew film yang sudah bersiap 1 jam sebelumnya, dengan sigap merekam adegan para aktifis Kepanduan HW yang naik sepeda. Mereka menggambarkan perjalanan Kiai Haji (KH) Abdul Rozak (AR) Fachruddin muda, ketika menempuh jarak 1300 km antara Desa Ulak Paceh Musi Banyuasin (Muba) Sumatera Selatan menuju Medan Sumaera Barat bersama anggota Kepanduan HW. Di kemudian hari, nama Haji Abdul Rozak Fachruddin dikenal akrab dengan panggilan Pak AR (baca : A-Er).

Kepanduan HW adalah salah satu organisasi otonom (ortom) di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah. HW didirikan pertama kali di Yogyarakta pada 1336 H/1918 M) yang diprakarsai KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Ide mendirikan HW ini muncul setelah KH Ahmad Dahlan menggelar pengajian di Solo. Di Kota itulah KH Ahmad Dahlan melihat latihan Pandu di alun-alun Mangkunegaran. Namun pada tahun 1961, gerakan ini kemudian melebur ke dalam Pramuka. Namun di tahun berikutnya, HW dibangkitkan kembali oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dengan SK Nomor 92/SK-PP/VI-B/1.b/1999 tanggal 10 Sya’ban 1420 H / 18 November 1999 M.

TEKS / EDITOR : IMRON SUPRIYADI

 

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *