Sejak 9 Tahun Sekolah, Cuma Sekali Ini Kami Coret Seragam?

EMPAT LAWANG, KSOL – Meskipun sudah ada larangan melalui imbauan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik), ratusan pelajar kelas XII di Empat Lawang tetap merayakan kelulusan dengan aksi coret dan konvoi kendaraan di jalan raya.

Sabtu (7/5/2016), usai pengumuman kelulusan, para siswa langsung merayakan lepasnya beban yang mereka emban selama duduk dibangku sekolah. Padahal mereka tak memahami bahwa kelulusan sekolah tersebut merupakan cikal bakal kehidupan selanjutnya.

Berdasarkan pantauan kabarsumatera.com di Tebing Tinggi, terlihat siswa-siswi SMA/sederajat melakukan aksi corat seragam di jalanan. Mereka memblokir jalan dan lanjut berkompoi kejalanan. Ketika dibincangi, alasan para pelajar cukup simple, “Selama 9 tahun sekolah, cuma sekali ini kami coret seragam dan konvoi.

Tolong pahami kami, kakak jugo mungkin samo cak kami waktu sekolah,” cetus salah satu pelajar SMA di Tebing Tinggi, saat dibincangi apa alasanya melakukan aksi coret seragam.

Pelajar tadi tak menampik, aksi dilakukan itu tidak baik. Namun, kata dia, berbeda dengan hari rutin sekolah pada saat pengumuman mereka menggunakan seragam yang sudah lusuh. “Ini la buruk bajunyo kak, baju yang masih bagus idak kami coreti. Sekedar buat kenang-kenangan, ini ditulis nama-nama seluruh kawan akrab se tingkat kok,” imbuhnya.

Apapun alasan para pelajar melakukan aksi coret seragam dan konvoi, tetap dianggap tak bermanfaat dan dilarang. Seperti imbauan kepala Disdik Empat Lawang, Agusni Efendi baru-baru ini, kata Agusni, pihaknya telah memberikan himbauan keras agar para siswa tidak melakukan aksi corat dan kompoi dijalan.

Hal ini tidak hanya disampaikan melalui media akan tetapi hal ini sebelumnya telah dikoordinasi melalui seluruh kepala sekolah dan wakil-wakilnya. “Kami kecewa dengan para siswa, kami sudah berupaya mengimbau, mengingatkan, ternyata masih membandel,” tuturnya singkat.

Sementara itu, Rudi (42) warga PJKA Kecamatan Tebing Tinggi mengaku kecewa dan menyayangkan ulah para siswa dimaksud. Termasuk anaknya sendiri, jika mencoret ia tak segan akan memarahinya.

Alangkah baiknya pakaian tersebut dimanfaatkan ke hal yang posifit seperti disumbangkan ke panti asuhan yang memang benar membutuhkan. “Anak saya tidak pernah saya izinkan untuk ikut-ikutan,”kata Rudi.

Dibincangi terpisah, Cherin (17), Siswi SMAN I yang juga mengikuti penguman kelulusan disekolahnya mengatakan, Aksi corat-coret itu tidak bagus. “Mending baju nya kita sumbangkan atau ke adek kelas kita,” kata Cherin menambahkan, dari aksi kompoi-kompoi dijalan-jalan dapat mengakibatkan gangguan jalan raya dan mengganggu pengguna jalan tersebut bahkan bisa saja dapat menjadi kejadian kecelakaan lalulintas yang tentunya membahayakan dirinya dan pengguna jalan lainya.

“Mending kita lakukan hal yang positif, agar tidak ada yang dirugikan, baik pribadi sendiri, orang tua, dan masyarakat lainnya,” tukasnya.

TEKS / FOTO : SAUKANI
EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *