Penemuan Batu Niding di Lahat, Diduga Dolmen

LAHAT, KSOL –  Kabupaten Lahat selain banyak memiliki wisata alam, ternyata menyimpan wsiata sejarah yang tak kalah dengan kota lain di Indonesia. Baru-baru ini, para arkeolog kembai menemukan sebuah batu. Warga setempat menyebutnya batu niding. Nama Batu Niding kini menjadi salah satu nama desa di Kecamatan Pseksu di Kabupaten Lahat Sumatera Selatan.

Batu Niding yang diduga Dolmen

Batu Niding yang diduga Dolmen

Selama 12 hari (16-26/4/2016), Penelitian Badan Arkeologi (Balar)  Palembang melakukan penelitian. Satu pekan di Lahat. Tepatnya di Desa Batu Niding, Kecamatan Pseksu dan Desa Bungamas, Kecamatan Kikim Timur.

Dalam melakukan  kegiatan yang dipimpin arkeolog Wahyu Rizki Andhifani ini mengajak 5 peneliti yang sekaligus ahli geologi. Pekan berikutnya mereka melakukan penelitian di wilayah lain di Indonesia.

Batu Niding yang diduga Dolmen

Batu Niding yang diduga Dolmen

Para ilmuan ini melakukan penelitain dan survei arkeologi. Tapi lebih khusus, mereka meneliti alat litik (batu) dan teras sungai di Sungai Kikim yang merupakan muara dari Sungai Saling, Cawang,  Empayang, Lingsing  dan Pangi.

“Rupanya informasi masyarakat ini selain penemuan beberapa alat litik dan teras sungai kita diajak ke Desa Batu Niding. Batu Niding sendiri menurut warga setempat artinya miring,” jelas Wahyu, belum lama ini di Lahat.

Menurut Wahyu alat batu pada jaman prasejarah, digunakan  untuk memotong dan menyerut. Sementara teras sungai penyusun dari sungai tersebut terdiri dari lapisan batuan, kerikil dan tanah yang terlihat.

Monolith yang melingkar 10

Monolith yang melingkar 10

Tujuannya awal penelitian mengenai pola sebaran alat-alat litik di Sumsel sekaligus untuk mencoba mengetahui area situs terbuka di DAS Kikim.

“Kita bersama salah satu perangkat desa, Pak Jaya Irawan menuju lahan Pak Ibnu yang ternyata di sana kita melihat Batu Niding (miring) yang dugaan awal merupakan dolmen. Sebab menurut warga, salah satu atau dua batu di depannya memang dahulunya ada,” papar Wahyu.

Lokasi Batu Niding berada di antara perkebunan kopi yang berjarak sekitar 1 km dari pemukiman penduduk. Menurut sejumlah warga terdahulu, desa setempat merupakan dusun lampau atau pemukiman masa lalu. “Tak jauh dari sana kita menemukan batu (monolith) yang bentuknya hampir melingkar sebanyak 10 buah batu,”jelasnya.

Wahyu menjelaskan, jarak antara  dolmen dan bebatuan yang melingkar tersebut sekitar 20 meter masih di lokasi kebun. Penelusuran mereka hingga tak jauh dari tepian sungai, terlihat banyak ditanami bambu aur yang berduri.

“Biasanya jika ada tanaman bambu aur berduri dan terdapat gundukan tanah yang lebih tinggi, dahulunya bisa jadi areal tersebut merupakan benteng tanah yakni sebagai lokasi pertahanan dari musuh. Apalagi ada parit yang dibuat di areal yang berbentuk “U” di tepi Sungai Cawang,” tutur Wahyu.

Menurut Jaya Irawan, mereka tidak tahu bila batu yang mereka sebut Batu Niding itu merupakan Dolmen. Hanya saja mereka mendapat cerita dari nenek-nenek mereka bahwa tempat tersebut merupakan dusun lama. “Kami hanya tahu kalau kebon ini dulunya wilayah dusun lama. Peninggalannya Batu Niding yang jadi nama desa ini,” ungkapnya.

Dolmen adalah meja batu tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang. Di bawah dolmen biasanya sering ditemukan kubur batu.

6Dolmen menurut sejumlah literatur ditemukan di Eropa, Asia, dan Afrika, terutama di sepanjang pesisir pantai. Mereka berasal dari periode Neolithikum awal, sekitar 10.000 tahun sebelum Masehi.

Dolmen adalah sebuah meja yang terbuat dari batu yang berfungsi sebagai tempat meletakkan saji-sajian untuk pemujaan. Adakalanya di bawah dolmen dipakai untuk meletakkan mayat, agar mayat tersebut tidak dapat dimakan oleh binatang buas maka kaki mejanya diperbanyak sampai mayat tertutup rapat oleh batu.

Hal ini menunjukan kalau masyarakat pada masa itu meyakini akan adanya sebuah hubungan antara yang sudah meninggal dengan yang masih hidup, mereka percaya bahwa apabila terjadi hubungan yang baik akan menghasilkan keharmonisan dan keselarasan bagi kedua belah pihak.

TEKS / FOTO : JUMRA ZEFRI
EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *