CitiMall di Lahat, Membuat Batin Sartini Tersayat

pic_02

Pusat pembelanjaan berkelas mini market, bagi sebagian orang membuahkan kebahagiaan tersendiri. Selain adanya kemudahan berbelanja, kenyamanan suasana, keamanan parkir juga ruangan ber-AC. Ada keinginan berlama-lama di ruang belanja berkelas menengah itu.

Tapi, siapa sangka, bangunan megah itu, membuat batin Sartini (45) tersayat. Betapa tidak? Bagi warga Desa Manggul Dusun V Jalan Aswari Kabupaten Lahat ini, mini market telah memaksa air matanya berderai. Sebab lokasi rumah Sartini yang tak jauh dari komplek mini Market bermerk Citimall di Lahat itu, sejak Kamis malam (21/4/2016) tergenang banjir.

Kali itu, Sartini tak bisa menolak taqdir. Tapi meski berat, Satini kali itu harus kompromi dengan taqdir. Genangan air itu bukan hanya merendam rumahnya, tapi juga sebagian rumah warga lainnya yang berada di belakang Citimall.

Malam itu, sejak pukul 18.00 WIB hujan terus mengguyur sebagian Kabupaten Lahat. Konsekuensinya, sebagian Kota Lahat kembali diterpa banjir, apalagi hujan kali itu baru reda pada pukul 03.00 WIB Jumat (22/4) dini hari.

Suasana salah satu rumah warga yang terkena banjir

Suasana salah satu rumah warga yang terkena banjir. Sejumlah warga sedang membersihkan rumahnya.

Melihat genangan air yang tak kunjung surut, Sartini tak kuasa menahan derai air matanya. Apalagi malam itu, Sartini sedang tinggal sendirian. Tak sesiapa yang berada disisinya untuk ikut menyelematkan benda-benda berharga agar terhindar dari air.

Suasana salah satu rumah warga yang terkena banjir

Suasana salah satu rumah warga yang terkena banjir. Sebuah meja makan terendam banjir.

“Kami cuma sendirian di rumah semalem. Lakiku masih di Jawo, baru bae (baru saja) ngoreng (menggoreng) kerupuk dan nak dijualke (akan dijual), tapi sekarang alat-alat masak, kerupuk dan minyak goreng abis galo (habis semua) dek,” kata Sartini dalam tangisan yang terhanan.  Malam itu, wajah Sartini tampak kebingungan.

Semburat ronanya, membayangkan banjir akan datang setiap tahun dan terus menghantui keluarga dan warga lainnya.  Tak terbayang sebelumnya, jika permukiman yang sudah 20 tahun terhindar banjir, kini berubah menjadi kubangan limbah air selokan.

Bukan hanya Sartini, warga lainnya, Karolin (30) juga terusik pilu. Sebab, pemilik kontrakan yang berlokasi di wilayah tersebut mengaku, menurut cerita orang tuanya, sejak puluhan tahun mereka tinggal tidak pernah terjadi banjir.

Suasana permukiman yang berdekatan dengan Citimall yang terkena banjir

Suasana permukiman yang berdekatan dengan Citimall di Lahat

Apalagi wilayah yang mereka tinggali berada pada kontur tanah yang cukup tinggi. Lokasinya juga jauh dari sungai. Hanya ada saluran air (siring) yang ada sekitar permukiman itu. Sehingga Sartini dan warga lainnya tak pernah terpikir jika kemudian di tahun ini hujan telah menghadirkan air yang berlebih, hingga merendam rumahnya.

“Dak pernah dek, selama 20 tahun, kato wong tuo (kata orang tua) kami dak nian banjir (tidak pernah), kali inila. Siring tu cuma mereka beneri, bae kecik pulok (kecil sekali). Sementara gundukan tanah urugan yang mereka buat melebihi tinggi rumah. Jadi lumpur dan air mengerus, siring tidak lancar,” paparnya.

Suasana permukiman warga yang berdekatan dengan Citimall yang terkena banjir

Suasana permukiman warga yang berdekatan dengan Citimall yang terkena banjir

Melihat di lapangan, kondisi lumpur tanah yang ditimbun dari pembangunan City Mall mencapai ketinggian diatas dua meter. Sementara selokan air dibuat hanya sekitar 100 cm, ditambah lumpur dan air yang menggerus dinding selokan.

“Sekarang sejak ado pembangunan Citimall banjirnyo ngabiske seluruh isi rumah dan alat-alat elektronik kami rusak jugo, seluruh yang kebanjiran sekarang mendata apo be (apa saja) kerugian yang nak kami laporkan. Silahkan liat dewek keadaan kami,” ungkapnya. Akibat banjir, hingga siang harinya, Sartini beserta 7 kepala keluarga lainnya belum selesai membersikan lumpur dan limbah air yang memenuhi rumahnya.

Kondisi yang lebih menyedihkan dialami warga lalinnya. Asmarani (51) mengaku bangunan rumanya retak akibat banjir semalaman tersebut.

“Rumah kami bagian belakang retak di sepanjang dapurnya, baru tadi siang terlihat setelah banjir surut. Malem tu sekitar sepinggang kami banjir masuk ke rumah, benerla 20 tahun disini dak pernah banjir. Sekarang ini segalo pelatan peralatan rumah tangga rusak,” jelasnya  setengah menyalahkan pembangunan yang membuat selokan terlalu kecil.

Warga Dusun V ini akhirnya juga memportes terhadap pembangunan CitiMall. Sebab jauh sebelumnya, belum ada sosialisasi kepada warga. Apalagi pembicaraan mengenai Amdal. Semua jauh panggang dari api.

Terhadap kasus ini, Kairul Nawar, aktifis lingkungan hidup Yayasan Indonesia Bumi ijau (YIB) akhrinya angkat bicara. Menurutnya, pembangunan Citimall sampai sekarang tidak memiliki Amdal, Izin Lingkungan dan IMB. “Sedangkan pembangunan Citimall tersebut dilaksanakan pada bulan Oktober 2015. Padahal mereka berjanji pada Februari 2016 akan menyelesaikan Amdal, bahkan janji tersebut mereka ucapkan di depan beberapa anggota DPRD Lahat,” ujarnya.

Kairul mengaku, pihaknya pernah memberi peringatan. “Kita sudah memberikan peringatan kepada pihak-pihak terkait. Kami mengirimkan surat, bahkan kami melakukan aksi damai, betapa pentingnya Amdal harus diselesaikan terlebih dahulu baru membangun, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Konstruksi bangunan dikerjakan terlebih dahulu, sementara Amdal dan perizinan lainnya disusulkan. Nah sekarang dampaknya mulai terasa, jika sudah begini kejadiannya, siapa yang akan bertanggung jawab atas kerugian yang menimpa masyarakat yang terkena dampak tersebut,” jelas Khairul Anwar, setengah menyesalkan dampak pembangunan Citimall itu.

Ditanya mengenai kelanjutan pengaduan aktifis lingkungan Hidup Lahat ke Kejari Lahat, Khairul Anwar mengatakan, ia dan rekan lainnya tetap mengikuti perkembangan kasus tersebut. “Tidak ada Amdal dan izin lainnya, namun masih mendirikan bangunan. Saya lebih suka menyebut hal tersebut dengan kejahatan lingkungan hidup yang dilakukan bersama-sama. Mudah-mudahan pihak penegak hukum dapat memproses tindak kejahatan lingkungan tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dan kita tetap memantau perkembangannya,” kata Kairul Nawar.

TEKS / FOTO : TIM REDAKSI
EDITOR : IMRON SUPRIYADI

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *