TUHAN DALAM WC

Oleh Imron Supriyadi
(Jurnalis Kabar Sumatera.com)

Akhir 2014, suatu ketika saya didaulat untuk mengisi sebuah pelatihan organisasi Islam di Palembang. Judul materinya tentang ketuhanan. Tapi dibahasakan dalam undangan “Ke-Tauhid-an”. Waduh, mati saya! Ada beberapa detik saya tercenung. Saya ini bukan kiai, ustadz atau ahli tentang ketuhanan. Hanya karena saya alumnus IAIN Raden Fatah, lantas saya didaulat bicara ke-tauhid-an.

Tapi ya sudahlah, sebisa-bisa saya saja. Bismillah saja! Tuhan Maha Tahu. Kalau salah-salah sedikit nanti minta maaf. Tuhan juga Maha Pemaaf. Kalau tidak memaafkan kesalahan manusia, berarti Tuhan sama dengan mahluk-Nya yang seringkali susah memberi maaf.

Sejak awal sudah saya katakan, saya tidak menguasai tentang “ilmu ketuhanan” sehingga, kali itu peserta saya ajak berdiskusi tentang WC dan Tuhan saja.  Sebab itu yang saya bisa.

“Pernahkah Anda bertemu Tuhan dalam WC?” tanya saya memancing peserta di awal menyampaikan materi kali itu.

Diantara peserta sejenak saling pandang. Sebagian lagi menatap saya. “Ayo, jawab! Siapa yang pernah bertemu Tuhan dalam WC?” tanya saya sekali lagi.

“Saya, Pak!” salah satu peserta angkat tangan.
“Apa jawabnya?” tanya saya penasaran.
“Saya tidak akan menjawab, tapi saya hanya ingin meluruskan agar forum ini tidak dibawa ke hal-hal yang akan menyesatkan!” ujar peserta itu.

Saya tersenyum. Saya dianggap akan menyesatkan peserta pelatihan. Yes, ok! Tidak apa-apa.
“Saya, Pak!” peserta lain tunjuk tangan.
“Ayo, silakan!” kata saya.

“WC itu najis dan tempat bagi setiap orang membuang kotoran. Jadi saya kira tidak relevan kalau narasumber berbicara Tuhan dengan WC. Apalagi forum ini forum ilmiah, dan membahas tentang agama. Sangat tidak etis kalau Tuhan dikaitkan dengan WC. Tuhan itu suci, jangan dinodai oleh ulah manusia yang tidak bertanggungjawab seperti Anda!” ujar peserta lebih pedas.

“Jadi sebaiknya, menurut saya narasumber harus kembali kepada materi pokok tentang ketauhidan, dan jangan bawa-bawa nama Tuhan dalam WC. Sebab Tuhan itu dzat yang wajib dijaga kesucian-Nya,” ujarnya agak emosi.

Suasana makin panas. Saya sadar sebagian peserta sudah terpancing. Sementara waktu sudah kian malam. Kali itu sudah pukul 21.30 WIB. Acara harus berakhir pukul 22.00 WIB. Mau tidak mau saya harus memangkas jalur pikiran saya, supaya tema Ketuhanan segera ditangkap peserta.
“Ok. Saya tidak akan bawa nama Tuhan dalam WC. Tapi ada satu pertanyaan yang wajib Anda jawab,” saya memancing mereka untuk kembali serius.

“Apakah adik-adik pernah buang air kecil dan buang besar di WC?” tanya saya memancing. Meskipun, kali itu sebenarnya saya tak perlu jawaban. Sebab jawabannya pasti sama.
“Yang tidak pernah buang air kecil dan air besar, silakan tunjuk tangan!” kata saya.

Semua diam. Tak ada juga yang tunjuk tangan. Saya kemudian mendekati salah satu peserta.
“Kalau kamu sudah buang air, apa yang kamu rasakan?” tanya saya.
“Lega, Pak,” jawabnya pendek.

“Setelah kamu mengeluarkan air kecing dan tinja, apakah pernah kamu bersyukur pada Tuhan yang telah menyehatkan kalian dengan mengeluarkan kotoran setiap waktu?” tanya saya lagi.

Peserta diam. Matanya menggambarkan pengakuan, kalau dirinya tidak pernah berterima kasih pada Tuhan, sekalipun Tuhan sudah sedemikian baik dan “cerdas” telah mengatur sirkulasi kotoran dan makanan setiap detik .

Saya kembali mendekati peserta lain. Saya tatap matanya. Sesekali dia mendunduk.
“Anda pernah menahan kencing atau berak?” tanya saya lagi kepada peserta itu.
“Kalau berak belum pernah, tapi kalau kencing sudah pernah,” jawabnya.

“Bagaimana rasanya?”
“Sakit, dan saya tidak tahan,” jawabnya lagi.
“Saat ini Anda terasa mau berak atau kencing?” saya coba paksa.

“Tidak merasa apa-apa,” jawabnya.
“Sekarang Anda paksa kencing dan berak di WC! Cepat!” suara saya meninggi. Agak seperti komandan tentara memeritahkan bawahannya.
“Ya, tidak bisa, Pak! berak kok dipaksa!” jawabnya.

“Yang lain, apa ada yang bisa mengatur kapan waktu berak dan kapan waktu kencing dalam setiap harinya? Lalu apakah ada yang pernah mengatur komposisi makanan dan racun dalam tubuh, hingga akhirnya terpisah mana makanan bermanfaat dan makanan yang menjadi tinja?

Saat di WC pernahkah dalam hati mengucap syukur kepada Tuhan, karena Tuhan sudah mengatur air kencing dan tinja yang keluar setiap waktu tanpa kita perintah? Apakah itu kita sadari!?

doa-anak-shaleh-13-638Lantas Anda mengaku di WC tidak pernah bertemu Tuhan, sementara Tuhan lebih dekat dari urat leher kita? Kita sering mengingkari nikmat Tuhan dalam WC!” suara saya kian meninggi.

“Pernahkah Anda bayangkan ketika satu saat saluran kencing dan jalur tinja tersumbat oleh satu penyakit, lalu Anda hitung berapa besar biaya yang harus Anda keluarkan untuk sekadar mengeluarkan air kencing dan tinja?”

Dalam persoalan itu, Tuhan sama sekali tidak pernah meminta uang sepeserpun. Semua dibagikan gratis tanpa minta imbalan apapun! Bahkan jauh sebelum Anda minta dan lahir, Tuhan sudah menyiapkan mekanisme canggih bagaimana saluran kencing dan tinja bisa menyehatkan kita,” kalimat saya seperti banjir bandang tak tertahan lagi.

Semua peserta terdiam. Ada yang menatap saya. Sebagian tertunduk. Ada detak napas yang kian tak beraturan karena terseguk tangisan oleh kesalahan pangakuan. “Masihkah Anda akan menyebut, kalau Anda tidak pernah bertemu Tuhan di WC?” tanya saya kembali.

Dalam WC, Tuhan selalu hadir. Tuhan menjadikan WC sebagai “sekolah” bagi setiap hamba untuk belajar disilpin. Senikmat-nikmatnya kita dalam WC, kita tidak pernah akan betah untuk tinggal berlama di dalamnya. Sebab, perjalanan hidup tidak akan selesai dengan terus menerus berdiam diri di dalam ruang sempit itu. Kita harus keluar dan move on (bergerak dan bertebaran di mula bumi). Kita harus bergerak! Hidup thawaf!

Tapi ingat, sebelum keluar dari WC, pastikan kita tidak meniggalkan bekas kotoran apapun. Sebab jika masih ada yang tersisa, baik cuilan tinja atau bau air kecing, yang timbul kemudian fitnah antara satu sama lain. Orang akan enggan untuk masuk, karena masih ada “benda” bekas kita yang tersisa di kubangan WC.

Pun demikian halnya dalam perilaku keseharian. Alangkah indahnya jika “etika dalam WC” diterapkan dalam keseharian, untuk kemudian kita harus membuang kebiasaan “meninggalkan bekas kotoran” yang seringkali menjadi sumber fitnah bagi setiap orang. Oleh sebab itu “menyiram tinja” adalah kewajiban yang tak bisa dielakkan, agar “bekas kotoran kita” tetap bersih dan tak sesiapa merasa jijik untuk mendatanginya kembali.**

Palembang
Ditulis : September 2014.
Revisi : 8 Februari 2015




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *