FH UIBA Palembang Galang Kader Jurnalis Mahasiswa, Tarech : Saatnya Melawan Media Mainstream

PALEMBANG, KS

Suasana Laboratorium  Fakultas Hukum Universitas Ida Bayumi (UIBA) Palembang, pagi itu, Minggu (19/12/2015) tidak seperti biasa. Sebab, ruang yang biasa untuk praktik peradilan semu, kali itu selama satu hari digunakan untuk pelatihan jurnalistik tingkat dasar.

Pelatihan berfokus sehari penuh, mulai pukul 09.00-17.30 WIB. Hadir sebagai pembicara, Dr Tarech Rasyid, M.Si, Dosen Fakultas Hukum UIBA Palembang dan  Imron Supriyadi, Pemimpin Redaksi Media Online www.kabarsumaterea.com.

Dr Tarech Rasyid, Dosen Fak. Hukum UIBA Palembang sedang memberi materi pada Pelatihan Jurnalistik FH UIBA Palembang, Minggu (20/12/2015). (Foto.Dok.KS)

Dr Tarech Rasyid, Dosen Fak. Hukum UIBA Palembang sedang memberi materi pada Pelatihan Jurnalistik FH UIBA Palembang di Ruang Laboratorium FH UIBA Palembang, Minggu (20/12/2015). (Foto.Dok.KS)

Tarech Rasyid yang tampil sebagai pembicara pertama mengupas tentang periodisasi pers di Indonesia. Menurut Tarech, di era pra kemerdekaan, pers menjadi alat pergerakan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Namun di era orde berikutnya, terutama di masa Orde Baru (orba) pers dikebiri dengan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP).

Tindakan represif rezim Orba terhadap pers ini, sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai falsafah pancasila. Sebab menurut Tarech, falsafah pancasila sifatnya sangat terbuka, meskipun pada penerapannya makna dan filosofi pancasila dalam negara tidak bisa terpisahkan antara satu dan lainnya.

Pancasila pada rezim Orba dibuat sangat tertutup dan kaku. Pancasila di rezim Soeharto dibonsai (dikerdilkan) sehingga pemaknaannya sangat sempit. “Padahal, falsafah pancasila dapat dimaknakan sebagai ideologi pembebasan terhadap segala bentuk penindasan, termasuk upaya pembebasan terhadap pers yang di masa itu dikebiri kebebasannya,” ujar Koordinator Sekolah Demokrasi Prabumuoih (SDP) ini.

Ideologi Cyber

Seiring dengan waktu, ideologi pers ini kemudian bergeser. “Dan saat ini, idelogi pers sudah bergeser menjadi alat politik dan sangat kapitalistik,” ujarnya. Menurut Tarech, di negeri ini media, baik cetak, elektronik dan online sudah terjebak pada ideologi cyber, termasuk tata kelola negeri ini.

“Kebijakan negara, atau dalam konteks pers, konten media sangat bergantung siapa yang memiliki domain dalam hal ini pemilik modal. Siapa yang berada di balik blog itu, maka merekalah yang menentukan isi atau konten sebuah media. Saya pikir, realitas media yang seperti ini harus dilawan dengan cara menerbitkan media yang sama, terutama media online,” tegasnya.

Mengapa ini penting? Sebab di tengah media mainstream yang sudah dikuasai oleh para pemillik modal, diperlukan penyeimbang. Tujuannya untuk mengembalikan ruh pers pada proporsi yang sebenarnya sebagai salah satu pilar demokrasi. “Seharusnya, bila pers tetap berpijak pada nilai-nilai Pancasila, pers akan terkembali pada ruhnya sebagai salah satu satu pilar demokrasi, terutama sebagai kontrol terhadap para pemegang kebijakan negara, tapi faktanya nilai-nilai dan falsafah ancasila ini dihianati, sehingga ideolgi pers juga ikut bergeser seperti sekarang ini,” tambahnya.

Menulis dengan Hati

Imron Supriyadi, Pemimin Redaksi Media Online KabarSumatera.Com sedang memberi materi pada Pelatihan Jurnalistik FH UIBA Palembang, Minggu (20/12/2015). (Foto.Dok.KS)

Imron Supriyadi, Pemimin Redaksi Media Online KabarSumatera.Com sedang memberi materi pada Pelatihan Jurnalistik FH UIBA Palembang, di Ruang Laboratorium FH UIBA Palembang, Minggu (20/12/2015). (Foto.Dok.KS)

Sementara Imron Supriyadi, lebih menitikberatkan pada pelatihan teknis penulisan berita. Sejumlah jenis berita, straight news, feature dan indept news hari itu dibahas pada sesi kedua. Imron menjelaskan secara rinci, layaknya menghadapi calon jurnalis mahasiswa yang belum mengenal jurnalistik.  Namun untuk kali pertama, baru melatih peserta pada penulisan straight news (berita langsung).

“Teori  dasar jurnalistik harus dikuasai, sebelum Anda menulis bentuk berita yang lain. Belajar jurnalistik seperi naik sepeda, kalau teori sudah melekat, Anda naik sepeda dengan lepas tangan bisa berjalan tanpa jatuh. Makanya sekarang kuasai dulu teori dasar, baru kemudian kita belajar yang lain. Pesan saya menulislah dengan hati, supaya bisa mencerahkan bagi pembaca,” tegas salah satu cerpenis Palembang ini.

Setelah memberi pengantar awal, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang (2009-20011) ini kemudian mengoreksi semua karya peserta. Kali pertama, penulis buku “Revolusi Hati untuk Negeri” ini mengoreksi hasil karya peserta dalam bentuk lead berita dengan sitem penulis piramida terbalik, yang menerapkan rumus dasar 5W+1 H.

Selanjutnya fasilitator membagi 5 kelompok dan masing-masing diberi tugas menulis dengan tema ditentukan. Usai istirahat, setiap kelompok mempresentasikan hasil karya mereka. Saat itulah, Imron memandu dan mengoreksi semua karya peserta dari paragraf per paragraf, bahkan kata perkata hingga selesai.

Komunitas Jurnalistik Dibentuk

Sisa waktu 30 menit sebelum merapat ke pukul 17.30 WIB,  dimanfaatkan Tarech Rasyid untuk membentuk Komunitas Jurnalitik Fakultas Hukum UIBA Palembang. “Komunitas ini dibentuk untuk memudahkan komunikasi, sehingga nanti ketika ada follow-up bisa kita lanjutkan dengan pelatihan penulisan berita yang lain. Hari ini baru dasar-dasarnya saja, masih banyak materi lain yang perlu dipelajari,” ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur BEM FH UIBA Palembang M Syahrial Akbar menyampaikan apresiasi terhadap pelatihan yang berlangsung. Pada sambutannya di acara yang diikuti 40 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi itu, Syahrial mengharapkan agar ilmu yang diperoleh dapat bermanfaat, terutama untuk memudahkan mahasiswa dalam membuat karya tulis ketika mengerjakan karya ilmiah, baik makalah maupun skripsi.**

TEKS / EDITOR : T PAMUNGKAS




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *