Workshop Musik DKP-Pariwisata 2015 : Masih Mencari Identitas Musik Sumsel

PALEMBANG, KS

Kali kesekian,  keburaman identitas musik Sumatera Selatan (Sumsel) terkuak. Sampai pada pertemuan yang keuluhan kali, lagi-lagi musik Sumsel belum juga terdeteksi, baik jenis, irama dan alat musiknya. Realitas ini berbeda dengan daerah lain yang memiliki alat musik yang khas. Sebut saja Aceh, salah satunya Bangsi Alas, merupakan  instrumen tiup dari bambu yang dijumpai banyak  dijumpai di daerah Alas, Kabupaten Aceh Tenggara.

Kepala Dinas Pariwsiata Palembang, Drs Ahmad Jazuli saat memberi sambutan dalam acara Workshop Musik Kreatif berbasis Lokal di Hotel Paradis, Palembang Senin, (14/12/2015)

Kepala Dinas Pariwsiata Palembang, Drs Ahmad Jazuli saat memberi sambutan dalam acara Workshop Musik Kreatif berbasis Lokal di Hotel Paradis, Palembang Senin, (14/12/2015)

Kemudian Padang, Sumatera Barat memiliki Saluang adalah alat musik tradisional khas Minangkabau, Sumatra Barat. Yang mana alat musik tiup ini terbuat dari bambu tipis atau talang (Schizostachyum brachycladum Kurz). Jawa Tengah punya Kenong, merupakan salah satu alat musik yang menyusun gamelan Jawa.

Kenong merupakan unsur instrumen pencon gamelan yang paling gemuk, dibandingkan dengan kempul dan gong yang walaupun besar namun berbentuk pipih. Demikian juga Bali yang memiliki Rindik merupakan salah satu alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara dipukul terbuat dari susunan bambu. Sementara Sunda juga punya angklung, sebuah alat musik terbuat dari bambu yang sudah mendunia.

Ketua Dewan Kesenian Palembang, Vebri Al Lintani, saat memberi sambutan dalam acara Workshop Musik Kreatif berbasis Lokal di Hotel Paradis, Palembang Senin, (14/12/2015)

Ketua Dewan Kesenian Palembang, Vebri Al Lintani, saat memberi sambutan dalam acara Workshop Musik Kreatif berbasis Lokal di Hotel Paradis, Palembang Senin, (14/12/2015)

Sementara Sumsel, hingga kini masih sipang siur. Bila kemudian muncul musik bernada Sumsel, bukan mengendepankan alat musik tetap pada syair. Bahkan  sejak era 60-an hingga sekarang disebut Vebri Al-Lintani, Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP) yang terproduksi hanya lagu-lagu berbahasa Palembang, Besemah, Komering dan lainnya.

Namun identitas musik yang bercirikhas-kan Palembang atau Sumatera Selatan, belum teridentifikasi, sampai sekarang. “Irama Batanghari Sembilan tidak bisa kita klaim milik Sumsel, sebab di daerah lain, seperti Lampung, Jambi dan Bengkulu juga punya irama batanghari Sembilan,” ujar Vebri, pada Workshop Musik Kreatif Berbasis Lokal di Hotel Paradis Palembang, Senin (14/12/2015).

Undangan dan Peserta pada pembukaan Workshop Musik Kreatif berbasis Lokal di Hotel Paradis, Palembang Senin, (14/12/2015)

Undangan dan Peserta pada pembukaan Workshop Musik Kreatif berbasis Lokal di Hotel Paradis, Palembang Senin, (14/12/2015)

Namun demikian, melalui pelatihan yang digelar DKP dan Dinas Pariwisata Palembang ini, bukan hanya Vebri tetapi pelaku seni musik di Palembang “bermimpi” dalam tiga hari ini (14-16 Desember 2015), akan terkuak identitas musik Sumsel.

“Paling tidak dengan pelatihan ini kita bersama-sama terus melakukan proses pencarian, sebenarnya apa dan bagaimana identitas atau ciri khas musik Sumsel. Jangan hanya Padang, Jawa, Bali, Sunda yang identifikasi musiknya sudah jelas, tapi kita, di Sumsel juga harus memperjelas identitas musik kita sendiri,” tegasnya.

Senada dengan Vebri, Drs Ahmad Jazuli, M.Si, Kepala Dinas Pariwisata Palembang ikut mengamini. Hingga saat ini upaya pencarian identitas musik Palembang belum dapat dipadankan dengan daerah lain, seperti Bali, Aceh atau Sunda dan Padang. Sampai saat ini, menurut Jazuli musik Palembang atau bahkan musik Sumsel seolah sangat sulit muncul ke permukaan.

Menurutnya, musik di Sumsel akan terangkat ke publik bila ada keunikan. “Artinya menurut Jazuli, musik dari Palembang harus berbeda dengan jenis musik lain yang sudah ada. “Sebab, biasanya terangkatnya satu produk karena ada hal yang berbeda dengan yang ada. Nah, ini yang kita harapkan dapat lahir dari pelatihan ini,” ujar Jazuli berharap.

Pada di hari pertama, panitia menghadirkan dua pembicara, Azra Wahyu Firamadhan,S.Sn, alumnus jurusan Seni Musik Institut Seni Indoensia (ISI) Yogyakarta dan  Jemi Delvian, salah satu pelaku seni musik di Palembang yang kini mengelola studio rekaman musik di Palembang.

Workshop yang akan berlangsung 2 hari ini melibatkan peserta dari lembaga seni, sekolah, aktifis seni tradisi, dan pelaku seni lainnya berjumlah 150 orang. Hari pertama paro kedua, peserta kemudian dibagi menjadi 7 kelompok untuk membuat kreasi seni musik berbasis lokal, sesuai dengan materi yang disajikan.

Bagi tiga terbaik, akan tampil bersama Musisi Indoensia Leo Christy di Gun Coffee Palembang, setelah sebelumnya Leo Christy akan menjadi salah satu menjadi pembicara di hari kedua.

TEKS / EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *