Sudah Bayar Pajak dan Zakat, Negeri Ini Masih Miskin

PURWAKARTA, KS

Ratusan warga Purwakarta sore ini berkumpul di pendopo kantor Bupati Purwakarta. Para warga tersebut berkumpul untuk menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar oleh Pemkab Purwakarta.

Acara ini menggabungkan konsep antara budaya sunda dan Islam. Terlihat dari dekorasi di sekitar pendopo yang terdapat wadah bunga mawar berwarna merah jambu dan bunga kamboja berwarna putih kuning dengan dihiasi tiga buah dupa.

Harum semerbak dari dupa pun menyeruak ke segala penjuru pendopo. Hiasan caping pun tak ketinggalan menambah meriah tiang-tiang pendopo sebagai tempat acara.

Lantunan salawat nabi yang diiringi oleh seruling dan kecapi mengalun, menandakan dimulainya acara. Setelah itu dilanjutkan oleh pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an beserta artinya yang diterjemahkan dalam bahasa sunda oleh qori dan qoriah.

“Hari ini kita berkumpul di pendopo untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Hadirin, saya selalu nekat untuk membantu kebutuhan masyarakat. Selama anggaran kita cukup. Saya akan membantu,” kata Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi saat membuka acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Pendopo Bupati Purwakarta, Jl Jend Ahmad Yani, Senin (14/12/2015).

Hadir dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW, mantan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, Kapolres Purwakarta AKBP Trunoyudho, dan Dandim 0619/Purwakarta Letkol CZI Cahyadi Amperawan.

“Konstitusi yang berpihak pada agama adalah itu sebenarnya konstitusi. Seperti kalau ibu bayar zakat, ibu itu baik banget. Kalau ibu bayar zakat harusnya jangan bayar pajak. Ini bayar zakat tapi juga bayar pajak. Tapi negeri ini masih miskin,” lanjutnya.

Dedi juga menambahkan bahwa dia telah membuka layanan sms 24 jam untuk menerima keluh kesah dari warga Purwakarta. “Layanan itu untuk mengetahui keluh kesah dari warga dan memastikan agar masyarakat Purwakarta sehat. Tidak boleh ada warga Purwakarta yang meninggal di jalan. Kalau ada, zalim bupatinya,” ucap Dedi.

Dia juga menjelaskan bahwa dirinya tidak mempunyai televisi di rumanya. Karena menurutnya, dia lebih menyukai bunyi-bunyi air dan musik.

“Saya adalah bupati yang gak punya televisi. Baik di rumah maupun di kamar. Saya juga gak pernah nonton televisi. Saya lebih suka dengar air yang berbunyi gemericik dan juga musik,” tuturnya.

TEKS / FOTO : DETIK.COM

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *