Keterbelakangan Mental, Warsih Lebih Memilih Tinggal di Kebun, Pemkab Jamin Kehidupan Warsih dan Anaknya

EMPAT LAWANG, KS
Diduga karena keterbelakangan mental, Warsih (35) mengajak anaknya Satria (4) meninggalkan rumahnya di Lorong Sawah Kelurahan Jayaloka Tebing Tinggi dan menumpang di salah satu kebun warga. Bahkan, karena keterbatasan ekonomi, terkadang warsih dan anaknya hanya makan sayuran untuk mengganjal lapar.

Belum diketahui jelas apa alasan Warsih memilih menyendiri di kebun, namun dari penjelasan Ketua RT 02 RW 05 Kelurahan Jayaloka, Basri dan pemilik kebun, Muhibah, bahwa ibu dua anak itu hampir setiap hari menjual kayu bakar untuk mencukupi hidupnya.

Basri membantah, bahwa Warsih hanya menkonsumsi daun (sayuran, red) setiap hari. Karena dari hasil penjualan per dua keranjang kayu bakar saja sudah mendapat uang Rp 14 ribu. Disisi lain, bantuan beras miskin (Raskin) pun diberikan sebagai pendukung perekonomiannya. “Tidak benar hanya makan daun, memang karena keterbelakangan mental dia lebih senang tinggal di kebun itu,” jelas Basri.

9a97748b-c1e1-46ae-ab6e-3e815085d82c

Warsih saat menyuapi anaknya (Foto.Dok.KS/Saukani)

Informasi Warsih Hanya Makan Daun Selama 4 Tahun Tidak Benar

Hasil penelusuran Kabar Sumatera di lapangan, Minggu (6/12/2015) ke pondok Warsih di sekitaran Jalan Lingkar Kota Tebing Tinggi. Ternyata informasi bahwa Warsih dan anaknya hanya makan daun selama 4 tahun tidak benar.

Gubuk kayu ukuran 4×4 meter yang ditempati Warsih dan anaknya memang tidak layak huni, namun entah alasan apa mereka lebih memilih tinggal di kebun ketimbang dirumahnya sendiri. Peralatan dapur seadanya, memperlihatkan bahwa Warsih sering memasak di pondok itu untuk makan sehari-hari.

8678cfa5-8d5c-4763-b518-d8c3c7ea689c

Tim Pemkab Empat Lawang saat mengunjungi Rumah Warsih di Kebun

Dari keterangan Muhibah, pemilik kebun tempat Warsih dan anaknya menumpang, dirinya pun terkejut mendapat informasi bahwa Warsih hanya makan daun selama 4 tahun. “Itu tidak benar” kata Muhibah, sejak Warsih diketahui hamil, dirinya yang mempertanggungjawabkan pernikahan Warsih dengan Cen (tukang kebun Muhibah). Namun entah apa masalahnya, tidak lama setelah pernikahan mereka bercerai.

Muhibah menceritakan, Nah, setelah anaknya lahir dan diceraikan suaminya, Warsih tidak mau lagi tinggal dirumahnya, namun sering berpindah-pindah menumpang di kebun warga. Terakhir, kata Muhibah, Warsih ingin menumpang di kebunnya. Tentu karena kasihan ia pun mempersilahkan, sembari menjaga buah-buahan di kebunnya. Selain itu, jelas Muhibah, Warsih sehari-hari mencari nafkah dengan menjual kayu bakar ke dusun hampir setiap hari. “Kami sering bantu, makanan, pakaian dan uang, tapi kadang dibantu beras malah dijual oleh Warsih,”bebernya.

8f114415-fd4c-47c1-8b44-a81c80429603

Tim Pemkab Empat Lawang saat mengunjungi Rumah Warsih di Kebun

Dirinya menyambut baik, pemkab Empat Lawang telah memberi bantuan kepada Warsih. “Kami bersyukur, sekarang pemerintah sudah membantu Warsih dan anaknya. Kalau bisa anaknya juga disekolahkan, kasihan juga,” imbuh Muhibah.

Sementara itu, saat dibincangi Kabar Sumatera, Warsih mengaku memang suka makan dedaunan seperti daun ubi, daun kopi untuk sayur makan. Tapi, tidak setiap hari hanya makan daun, terkadang saja kalau tidak ada nasi memang hanya kenyang oleh sayuran. “Iya lemak makan daun ubi, makan nasi lemak,” kata Warsih terbatah-batah.

Ditanya mau anaknya sekolah ? Warsih mengangguk-angguk, begitu juga ditanya mau atau tidak pindah ke rumahnya di Jayaloka, Warsih juga mengangguk-angguk saja.

Pemkab Jamin Kehidupan Warsih dan Anaknya
Mendapat informasi adanya warga tinggal dikebun dan hanya makan dedaunan, Pemkab Empat Lawang dalam hal ini Plt Bupati, H Syahril Hanafiah, Ketua DPRD, H David Hadrianto, Sekda serta sejumlahSKPD terkait turun ke lokasi pondok ditempati Warsih, Minggu (6/12/2015). Menempuh perjalanan sekitar 10 menit, tiba di lokasi sudah banyak bantuan mengalir untuk Warsih, termasuk dari jajaran Mapolres Empat Lawang.

Awalnya, Pemkab Empat Lawang akan membawa Warsih dan anaknya pulang ke rumahnya di Jayaloka. Namun, karena khawatir nanti akan kembali ke kebun, maka diupayakan selama dua bulan kedepan Warsih dan anaknya ditempatkan di panti asuhan Yayasan Muhamadiyah di Jalan Lingkar Kota Tebing Tinggi.

4be2c01b-6f9d-4261-b3d5-5621b804f16e

Tim Pemkab Empat Lawang saat mengunjungi Rumah Warsih di Kebun

Rencananya, di Yayasan tersebut Satria akan disekolahkan, sementara Warsih akan diupayakan pekerjaan agar bisa hidup layak. “Mendapat informasi itu kita terkejut, karena memang selama ini belum ada laporan. Saat kita cek langsung, ternyata itu tidak benar,” kata Kadinsosnakertrans Empat Lawang, Hasbullah.

Pemerintah Empat Lawang, tegas Hasbulah, akan menjamin kehidupan Warsih dan anaknya. Termasuk upaya memberi pendidikan dan sesuai kemampuan. “Setelah di panti asuhan, bantuan akan kita salurkan terus menerus. Karena kalau dibantu materi saja, akan membahayakan kalau Warsih dan anaknya masih tinggal di kebun itu,” jelas Hasbullah. “Kalau hanya dibantu uang, sandang dan pangan, kita khawatir. Kebun itu kan sepi, takutnya nanti terjadi tindak kriminal terhadap Warsih,” imbuhnya.

Makanya, setelah berkomunikasi dengan RT dan keluarga dekat Warsih, pemerintah mengambil sikap untuk menempatkan sementara Warsih dan anaknya di panti asuhan. “Nanti kalau sudah siap kembali ke rumahnya, akan kita antarkan. Ini demi kebaikan,” kata Hasbullah.

430707a6-2732-4ac6-8504-83a75a1b8db7Wakil bupati Empat Lawang, H Syahril Hanafiah memastikan, Pemkab Empat Lawang konsisten membantu masyarakat dibawah garis kemiskinan. Tak hanya Warsih, termasuk orang-orang terlantar, meskipun bukan warga Empat Lawang tetap akan dibantu.

Nah terkait kasus Warsih ini, kata Syahril, setelah di cek ternyata ada alasan lain dibalik kenapa Warsih tinggal di kebun. Ternyata, dia (warsih) diduga mengalami keterbelakangan mental. Makanya, dalam mengupayakan solusi, bukan hanya memberi bantuan langsung, Pemkab Empat Lawang ingin agar kedepan kehidupan Warsih dan anaknya jadi lebih baik dan kembali ke rumahnya di Jayaloka. “Terutama anaknya, itu usia pendidikan dan harus diperhatikan betul. Anaknya sehat, tak mungkinlah kalau hanya makan daun. Bohong semua informasi itu,” kata Syahril.

Ditempat yang sama, Ketua DPRD Empat Lawang, H David Hadrianto mendukung langkah pemerintah, agar warsih dan anak di ambil alih dan di rehabilitasi untuk memulihkan kondisi serta mengembalikannya ketengah masyarakat dengan wajar.

kata David, pihaknya pastikan akan terus melihat perkembangan Warsih, tidak hanya memberikan bantuan karena keterbelakangan mentalnya itu ia lebih suka tinggal dipondok bahkan menjual setiap bahan makanan yang di berikan warga lain kepadanya,”jadi benar benar di perhatikan, tidak hanya diberikan bantuan kemudian di lepas karena dipastikan akan kembali tinggal di kebun sehingga upaya kita tidka ada hasil,” jelasnya.

‪David mengakui, bahwa warsi memiliki rumah pribadi di lorong sawah, yang setiap saat di tempati meskipun sekedar melepas lelah setelah menjaga kebun petai dan mengambil kayu bakar di kebun. “Jadi Warsih tidak tinggal empat tahun menetap di hutan, Warsih baru empat bulan terakhir di pondok kebun untuk menjaga pete dan mencari kayu bakar,” beber David.

Sering Dibantu, Tapi Terkesan Tak Dimanfaatkan
Beberapa orang dekat Warsih, seperti Ketua RT dan pemilik kebun, Muhibah mengakui, sudah kerap memberi bantuan baik berupa pakaian, makanan, beras kepada Warsih. Namun, karena mengalami keterbelakangan mental itulah, bantuan diberikan tersebut terkadan kurang dimanfaatkan. Contoh saja, diberi beras, malah dijual. Diberi baju atau alat dapur, malah diberikannya ke orang lain.

“Sering dapat bantuan, kalau raskin ya rutin. Tapi dijualnya, entah dibelikan apa uangnnya,” kata Basri, ketua RT setempat.

Basri mengaku, memang warsih tidak betah di satu tempat, berpindah-pindah dan terkesan miskin. Padahal dia punya rumah sendiri. “Kita bantu peralatan rumah dijualnya, kemudian tidak lebih dari satu minggu kembali lagi ke pondok kebun,”imbuhnya.

‪Begitu iuga disampaikan Muhiba, pemilik kebun tempat warsih menumpang, “Saya bukan keluarga hanya peduli. Warsih kami suruh (printah,red) jaga pohon pete, selain itu Warsih jual kayu bakar,”ujarnya.

Muhiba tak menampik, sering memberi bantuan pakaian, uang, beras dan lainnya. Namun ya itu tadi, tau-tau dijual atau diberikannya ke orang lain. “Tau-tau sudah pulang ke pondok lagi, padahal rumahnya kosong,” kata Muhiba menambahkan, ia bersyukur kalau pemkab akan menjamin kehidupan Warsih dan anaknya.

e78f25f5-9669-4288-b5c9-e5a32b46dfbe

Kisah Warsih Dapat Perhatian Menteri

Kisah Warsih disebut-sebut hanya memakan dedaunan dan hidup di hutan selama 4 tahun, menjadi perhatian beberapa pihak. Tak hanya bantuan, dari Mapolres Empat Lawang yang datang.

Minggu (6/12/2015), petugas mengaku dari Kementrian Kelautan, utusan Ibu Menteri Susi berniat menjemput Warsih dan anaknya, untuk diboyong ke Jakarta.

Namun, Pemkab Empat Lawang tidak lepas tangan, permintaan itu ditolak. Selain karena kisah diinformasikan ternyata tak se ekstrim kenyataanya, pemkab Empat Lawang meyakini mampu menjamin kehidupan Warsih dan anaknya. “Kalau mau kasih bantuan ya kita terima, tapi kalau mau membawa ke Jakarta tidak perlu. Cek dulu lah kondisinya,” jelas plt Bupati Empat Lawang, H Syahril Hanafiah.

Dijelaskan Syahril, kondisi sebenarnya Warsih mengalami keterbelakangan mental, saat ini pemkab sudah mendalami apa permasalahan dihadapi Warsih. Dengan demikian, sudah ada solusi dalam menjamin kehidupan Warsih dan anaknya dikemudian hari.

Kedatangan tim utusan Mentri Susi, diterima di rumdin Sekda Empat Lawang, pertemuan juga dihadiri Warsih dan anaknya.

TEKS / FOTO : SAUKANI

EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *