Saat Aku Menghujat Tuhan

Cerpen Imron Supriyadi

Entah yang ke berapakalinya aku dan isteri didera oleh keadaan yang tidak menentu. Setelah tumpukan derita sejak kami menikah, kini di Bulan Agustus 2015 duka dan nestapa itu datang lagi. Aku lupa menghitungnya. Tapi kali ini mungkin yang kedua juta kalinya. Tentu ini aku katakan bukan karena aku ingin mengingkari kenikmatan Tuhan. Sama sekali tidak.

Tapi sebagai umat yang awam, aku masih melihat rezeki dan keluasan hidup itu selalu dalam ukuran materi. Napasku tetap berdetak. Tapi kalau tak ada uang, jabatan dan kewenangan, maka akan aku katakan : aku sedang bokek, buntu dan rezeki seret. Proyek gagallah dan lainnya. Itulah aku. Atau mungkin sebagian orang sejenisku juga akan punya pandangan sama : mengukur kenikmatan Tuhan hanya dalam lingkaran toples roti.

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Tapi semua itu menurutku ada benarnya juga. Sebab aku dan manusia lain hidup bukan di alam fatamorgana. Persoalan lapar, haus dan obesesi kekayaan, keinginan jabatan dan kewenangan , aku anggap sah-sah saja. Manusiawi Kok! Jadi wajar kalau semua itu tidak aku dapat, lalu aku akan berkata : Tuhan tidak adiiiil! Tuhan tidak menjawb doaku! Tuhan hanya memberi kesengsaraan!

“Kau terlalu picik! Matamu sempit. Cara pandangmu tertutup oleh kacamata kuda?” batinku protes.

“Lho, selama ini aku sudah lakukan yang terbaik untuk Tuhan. Beribadah siang dan malam. Membaca kitab suci-Nya. Detak jatungku berisi nama-Nya. Kusebut nama-Nya atas nama kecintaan. Tapi apa hasilnya? Kata kiai, semakin kita dekat dengan-Nya, maka Tuhan akan kabulkan doa setiap hamba! Tapi mana!? Mana sekarang!? Ah! Tuhan ternyata pembohong!” kataku protes lagi.

“Oh, kau merasa belum mendapat balasan dari Tuhan, begitu?” tanya batinku.

BACO JUGO : 8 ORANG YANG MENENTANG TUHAN DAN AKIBATNYA

“Ya! Sebab faktanya, sejak aku menggayuh hidup berumah tangga, Tuhan selalu melemparkan aku dalam kubangan kemiskinan, keterbelangan,  keterpurukan, bahkan aku juga dijungkalkan dari kursi jabatan dan kewenangan. Aku hampir tidak pernah diberi ruang untuk sekadar bernapas lega bersama anak dan isteriku. Apa sih kehendak Tuhan padaku? Aku kembali bertanya.

“Hemm! Kalau Tuhan mau, satu detik saja kau akan jadi apapun,” tegas batinku.

“Tanpa kau katakan, semua orang juga percaya dengan Kun Faya Kun!”

“Tapi kau masih ragu? Lisanmu belum beriring dengan hatimu!”

“Tidak. Tak pernah ada keraguan. Hanya aku merasa gundah dan bertanya, kapan Tuhan akan menyulap aku menjadi sesuatu yang aku inginkan. Itu saja!” aku meredakan emosi.

“Saat ini Tuhan baru memberimu apa yang kau butuhkan, dan bukan apa kau inginkan, kau sadari itu?” kata batinku lagi. Sesaat aku tercenung.

“Belum cukup! Apa yang aku rasakan selama ini, Tuhan masih semaunya menghempaskan aku. Kau ingat bagaimana aku dipecat dari perusahaan? Kemudian dalam setahun, Tuhan mngutus pencuri untuk mengambil truga sepeda motorku tiga sekaligus. Apa nggak gila itu?! Tak puas dengan itu, Tuhan lagi-lagi menutup semua usaha yang sudah aku rintis dari nol. Dan sekarang, aku diombang-ambingkan lagi oleh keadaan. Apakah ini balasan terhadap hamba yang sedang meniakkan ketaatan kepada-Nya? Coba Jawab! Jawab!” emosiku kian memuncak.

“Tapi aku lihat sekarang isterimu hamil. Bukankah itu juga karunia?!” batinku mulai menguak satu persatu kenikmatan yang datang padaku.

“Iya..iya. Tapi itu juga yang kemudian membuat masalah baru!” aku masih mengeluh.

“Ow! Kau katakan janin dalam kandngan isterimu membuat masalah? Beraninya kau berkata seperti itu?!” batinku tersinggung.

“E…e…maaf. Maksudku, bukan begitu. Tapi kehamilan isteriku sekarang sudah di ujung hari. Kelahiran anakku tinggal menghitng detik : hari ini, besok atau lusa? Tapi apakah Tuhan peduli padaku?! Apakah Tuhan sudah menyiapkan biaya dan semua kebutuhanku untuk menyambut kelahirannya!?” aku kembali protes.

“Kau yakin itu pemberian dari Tuhan?”

“Sekecil Nyamuk-pun manusia tak akan pernah bisa membuat kehidupan,” jawabku.

“Kalau begitu serahkan saja dengan dia. Jangankan bayi yang lahir, daun yang jath saja semua tidak lepas dari takdir-Nya,” nasihat batinku.

“Iya, tapi hingga menjelang kelahiran, aku belum temukan tanda-tanda kalau Tuhan akan memberiku jalan keluar. Jangan biaya kelahiran, selama dalam kehamilan aku tak pernah bisa membelikan susu bagi ibu hamil. Ini namanya Tuhan tidak peduli. Kalau memang bayiku atas takdir-Nya, mestinya Dia juga harus ikut membiayai,” kata batinku.

“Mungkin karena kau tidak rajin meminta,” kata batinku lagi.

“Apa lagi yang akan aku lakukan!? Semua perintah-Nya aku jalani. Setiap detik ku-angungkan nama-Nya. Denyut nadi  ini  kualiri nada shalawat. Badanku mengayun setiap waktu, baik lima kali sehari atau di sepertiga malam terakhir.

Aku memohon dan meminta : Tuhan sebentar lagi isteriku akan melahirkan, tapi hingga detik ini Kau belum memberi tanda apapun tentang kekuasan-Mu. Aku yakin, Kau lebih mengetahui berapa besar biaya proses kelahiran?

Atau bahkan Kau juga bisa menggratiskan semuanya, meskipun aku tidak mau itu. Tapi menjelang kelahiran ini aku belum bisa menaggapmu berkuasa atas langit dan bumi. Sebab yang aku terima di bulan ini, bahkan di bulan sebelumnya bukan kenikmatan yang membuat aku bisa berlapang dada, tapi  justeru peluang untuk memilih bunuh diri!” aku menangis dalam pengaduan.

“Aku ulang lagi. Hanya satu detik saja, bumi dan langit akan hancur, jika Tuhan mau. Apalagi hanya persoalan makan, minum, kaya, miskin dan biaya kelahiran anakkmu. Permintaanmu itu benar-benar telah menghina dan mengecilkan kekuasaan Tuhan,” batinku protes lagi.

“Kali ini aku tidak minta apapun kecuali hanya itu! Selamatkan anak dan isteriku. Beri nafkah lahir dan batin keluargaku. Lapangkan ruang rezekiku. Bila masih di perut bumi keluarkanlah. Jika masih di langit turunkanlah. Tunjukkan kekuasan-Mu, kalau memang Engkau Tuhanku,” untuk kali kesekian aku memhon.

“Dasar buta! Buka mata hatimu. Lihat! siapa dirimu?! Berani sekali kau menyuruh Tuhan memperlihatkan kekuasaan-Nya? Bukankah kau sebelumnya tidak ada, kemudian dihidupkan, kemudin dimatikan lalu akan kembali dibangkitkan? Kau itu hanya berasal dari setes air hina yang menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging kemudian Tuhan meniupkan ruh, lalu kau hidup seperti sekarang,” batinku benar-benar marah kali itu.

“Tapi…!” kalimtaku terputus saat batinku naik pitam.

“Diam!” suara itu melebih petir. Hampir saja gendangan telingaku pecah.

“Lihat dirimu! Kenali dirimu, maka kau akan temukan Tuhanmu!” Kalimat itu mengingatkan aku saat mengkaji Kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali. Tapi kala itu umurku masih relatif muda, sehingga kalimat itu hanya masuk telinga kanan dan keluar  telinga kiri. Kini, kalimat itu aku dengan kembali. Pita rekaman itu berputar ulang.

“Berapa umurmu!” tanya batinku.

“Apakah pertanyaanmu ini ada hubungannya dengan biaya kelahiran anakku?”

“Jawab saja pertanyaanku!” batinku membentak.

“Dua puluh tahun lagi umurku sama dengan usia meninggalnya Rasul,” jawabku.

“Hm! lantas berapa juta yang kau keluarkan untuk membayar napasmu?”

“Aku pikir pertanyaan itu tak perlu dijawab,” aku mengelak.

“Bayar atau tidak, itu pertanyaanku!” batinku mendesakku untuk menjawab.

“Apakah kalau aku jawab, kemudian biaya kelahiran anakku akan cair?” tanyaku lagi.

“Jawab kataku!” kali ini batinku menjerat leherku. Ia memaksaku untuk menjawab.

“Iya…iya. itu semua gratis!” napasku hampir saja putus dengan cengkraman itu.

“Darahmu, Berapa juta?”

“Iya, itu juga gratis!”

“Detak jantung dan kesehatanmu, juga anak isterimu?”

“Gratis juga!”

“Lalu, pernahkah kau meminta dirimu akan diciptakan sesempurna seperti sekarang, dengan dua lobang hidung ke bawah? Rambut yang ikal? Bentuk tubuh yang bagus?”

Aku hanya menggeleng.

“Lantas, apa pernah kau memerintahkan darah dan paru-paru untuk terus bekerja 24 jam seumur hidupmu?”

Aku menggeleng.

“Atau kau juga pernah mengatur sirkulasi tinja yang setiap waktu harus keluar menjadi racun?” pertanyaan-pertanyaan itu bertubi menghunjamku. Aku menjadi gagu.

“Jawaaaaab!” batinku membentak saat aku hanya terdiam.

Aku hanya menggelegkan kepala. Detak jantungku seperti maling ketahuan Satpam.

“Lantas, kenikmatan apalagi yang kau dustakan, Hm!! Lihat dirimu! Tuhan sudah memberimu segalanya jauh sebelum kau meminta! Tuhan sudah menyiapkan semuanya untukmu sebelum kau lahir! Tuhan sudah mengatur semua kelangsungan hidupmu saat kau belum berbentuk! Tapi itu semua kau dustakan! Matamu hanya melihat materi. Hatimu tertutup oleh tumpukan sampah dunia, sehingga kau menganggap Tuhan tak memberimu apapun!” suara itu menembus gendangan terhadalam hingga badanku iktu terguncang.

“Kalau dengan bukti-bukti itu, kau masih juga menuduh Tuhan seperti itu, sekarang kau harus keluar dari kolong langit dan bumi ini. Lalu carilah Tuhan selain Aku!?”

Aku tergeregap saat suara itu menyebut dirinya “Selain Aku”

“Apa katamu? Kau bilang : Selain Aku!?

“Kaukah itu Tuhanku? Dimana Kau?” aku jadi blingsatan mencari datangnya dari mana suara itu datang. Tapi tak ada tanda setitikpun yang kutemukan.

“Aku ada dalam hatimu! Aku lebih dekat dari urat lehermu” suara itu menggema kemballi. Kai ini lebh dekat lagi dari sebelumnya.

Seketika aku tersadar dari tidur panjangku. Aku menangis sejadi-jadinya. Hanya keampunan yang akan membersihkanku dari noda dan kenistaan. Di luar rumah kubentangkan mata. Kutarik napas dzikir panjang. Ada jutaan kenikmatan yang kemudian menyusup dalam bilik jantungku.

“Ayah, Tuhan sudah memberi jalan buat kelahiran anak kita,” ujar isteriku yang tiba-tiba datang dari arah belakang. Dia memelukku erat. Ku elus perut isteriku.

“Nak, dunia menantimu. Tuhan kau sudah menyiapkan segalanya untukmu,” kataku.

“Doa kita terkabul, Yah,” isteriku menangis dalam syukur.

Wajah isteriku berbinar, sebinar cahaya langit yang akan terus hadir dalam rumah tangga kami hingga Tuhan mencabut izin napas di bumi.**

Bukit Lama – Palembang,  23 Agustus 2015

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *