Balai Bahasa Sumsel Akan Terbitkan Ensiklopedia Sastra Modern Sumatera Selatan

PALEMBANG, KS

Selama ini, masyarakat Sumatera Selatan seringkali kesulitan mencari data sastra. Tapi tahun depan hal itu tidak akan terjadi lagi. Sebab, tak akan lama lagi Balai Bahasa Sumatera Selatan segera menebitkan Ensiklopedia Sastra Modern Sumatera Selatan yang disusun 6 orang dari Balai Bahasa Sumatera Selatan, yaitu; Dian Sulastri, Erlinda Rosita, Budi Agung Sudarmanto, Yeni Mastuti, Sari Herleni dan Ery Agus Kurnianto.

Rencana penerbitan ini, terungkap pada Sarasehan Penyusunan Ensiklopedia Sastra Modern Sumatera Selatan, di Ruang Amran Halim Balai Bahasa Sumatera Selatan, Kamis, (19/11/2015). Pada sarasehan itu, dikupas tuntas tentang draf ensiklopedia yang disebut Penyair Anwar Putra (AP) Bayu masih perlu penyempurnaan. “Perlu ada follow up untuk penyempurnaan, bisa melalui FGD, dengan mengundang sejumlah pihak yang berkompeten untuk menambah data dalam buku ini,” ujarnya.

Suasana Sarasehan Penyusunan Ensiklopedia Sastra Modern Sumatera Selatan, di Ruang Amran Halim Balai Bahasa Sumatera Selatan, Kamis, (19/11/2015). (Foto.Dok.KS)

Suasana Sarasehan Penyusunan Ensiklopedia Sastra Modern Sumatera Selatan, di Ruang Amran Halim Balai Bahasa Sumatera Selatan, Kamis, (19/11/2015). (Foto.Dok.KS)

Sarasehan ini disebut oleh Kepala Balai Bahasa Sumsel, Aminullatif, S.E, M.Pd untuk memadukan antara materi teknis penyusunan dan validasi substansi lema ensiklopedia yang telah dikumpulkan tim-nya selama 2009-2014 di 15 kabupaten dan kota di Sumatera Selatan. Pada kesempatan itu, Amin menyebutkan draf ensiklopedia yang akan diterbitkan Balai Bahasa Sumatera Selatan masih memerlukan masukan dan penguatan, sehingga dieprlukan masukna dari semua pihak. “Dengan begitu ketika buku ini terbit akan lebih sempurna dari sebelumnya,” tambahnya.

Sarasehan yang berjalan sekitar 3 jam ini sebagai bentuk ihtiar dalam menambah kancah kreatifitas ilmiah, terutama pendokumentasian, yang dinilai Dian Sulastri, M.Hum, Ketua Tim Penyusunan Ensiklopedia Sastra Modern di Sumatera Selatan dokumentasi masih perlu peningkatan.

“Setelah kami melakukan proses penelusuran data di sejumlah kota dan kabupaten di Sumsel, terutama berkaitan dengan penyusunan ensiklopedia ini, kami di lapangan menemukan banyak sumber data. Tapi setelah kami cross cek kembali ke lembaga yang lain, banyak data yang tidak terdokumentasi. Saya kira pendokumentasian di Sumsel perlu dimaksimalkan kembali, sehingga ke depan akan lebih baik,” ujarnya di sela-sela paparan draf ensiklopedia di hadapan puluhan para undangan.

Suasana Sarasehan Penyusunan Ensiklopedia Sastra Modern Sumatera Selatan, di Ruang Amran Halim Balai Bahasa Sumatera Selatan, Kamis, (19/11/2015). (Foto.Dok.KS)

Suasana Sarasehan Penyusunan Ensiklopedia Sastra Modern Sumatera Selatan, di Ruang Amran Halim Balai Bahasa Sumatera Selatan, Kamis, (19/11/2015). (Foto.Dok.KS)

Dian mengemukakan, proses penelusuran penyusunan ensiklopedia ini sudah dilakukan selama 5 tahun (2009-2014), meliputi 15 kabupaten dan kota di Sumatera Selatan. Tahan awal 2009, tim yang dipimpinnya menggali data di Kabupaten Ogan Ilir, OKI dan Kota Prabumulih. Tahun 2010 di Kabupaten Lahat, Empat Lawang dan Kota Pagaralam juga di Palembang. “Tahun 2011, sementara Balai Bahasa konsentrasi pada bidang lain, misalnya penguatan pemahaman bahasa, sehingga pada tahun 2011, pengumpulan data kami hentikan sementara. Baru kemudian dilanjutkan di tahun 2012 di Lubuk Linggau, Musi Banyuasin dan Musi Rawas, di tambah Kota Palembang,” tambahnya.

Tahun 2014, tim Balai Bahasa kembali menelusuri data ke Kabupaten OKU, OKU Selatan dan OKU Timur. “Dan tahun 2015 kami ke Kabupaten Muara Enim, Banyuasin dan juga penambahan data dari Palembang. Dari data yang kami kumpulkan, sebenarnya bisa lebih banyak dari apa yang ada dalam draf itu. Tapi setelah kami teliti, ada beberapa lembaga atau figur yang harus kami cansel, karena menurut kami tidak masuk dalam kriteria,” ujarnya.

Dian mengakui, draf ensiklopedia yang disusun bersama tim-nya masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu kritik dan saran dari semua pihak menjadi hal penting. Hal ini sebagai masukan dan berbaikan buku yang akan diterbitkan. “Kami mengakui, hasil kerja kami belum sempurna, masih perlu penguatan dan penambahan data. Kami punya keterbatasan dalam penelusuran data di Sumatera Selatan, sehingga kami memerlukan masukan dan tambahan informasi untuk penyempurnaan buku ini,” ujar kandidat doktor Universitas Islam Negeri Raden Fatah ini.

Pada kesempatan itu, Dr Dora Amalia, Kabid Pengembangan di Pusat pengembangan dan Peelindungan, Badan Bahasa Jakarta menjelaskan teknis penyusunan buku ensiklopedia.

Menurutnya, ensiklopedia adalah karya referensi sejenis kamus dan glosarium, meskipun ketiganya memiliki perbedaan di beberapa hal. Misalnya, dalam ensiklopedia teks yang ditulis menggunakan istilah artikel, sementara di kamus dengan istilah lema. “Artikel terdiri dari beberapa paragraf, sementara di kamus hanya bebera frasa,” ujarnya.

Dora juga mengemukakan tentang pentingnya template atau pola penulisan ensklopedia. Menurutnya, untuk penyusunannya ada pola yang seharusnya diikuti, meskipun Dora tidak memberi harga mati pola yang harus diikuti.

“Tentang polanya bagaimana, itu Mbak Dian dan kawan-kawan di Balai Bahasa Sumatera Selatan bisa punya kreatifitas sendiri. Tapi tetap mengacu pada template, misalnya paragraf pertama menjelaskan biografi tokoh, kemudian masuk ke paragraf kedua bicara tentang genre atau aliran sastra yang ditulis dan seterusnya. Sehingga pola penulisan dalam ensiklopedia ini akan lebih sistematis. Tapi menurut saya ini sudah hasil kerja yang baik, tinggal disempurnakan lagi,” tegasnya.

MENGHINDARI KOMPLAIN

Pada sesi dialog Yos Elyas memberi apreasiasi positif terhadap Tim Balai Bahasa Sumatera Selatan yang telah menyusun draf ensiklopedia. Hanya saja, praktisi Teater APA Palembang ini mengeritisi akurasi data dalam draf.

Menurut Yos, akurasi data sangat penting dalam draf ini. Hal ini untuk menghindari kemungkinan adanya komplain dari pihak tertentu yang merasa dirugikan. “Termasuk memasukkan Teater APA dalam draf ini, saya akan beri data yang lebih akurat, juga lembaga lainnya harus demikian. Sehingga kalau buku ini nanti sudah diterbitkan, tidak akan menimbulkan persangkaan yang tidak baik, misalnya wah kenapa itu masuk dan saya tidak? Kenapa lembaga ini masuk dan teater itu tidak masuk? Nah ini yang harus dihindari,” tegasnya.

Sering dengan itu, Imron Supriyadi, salah satu pelaku sastra versus jurnalis di Palembang lebih menitikberatkan pada kriteria ketokohan yang juga menjadi salah satu mata point dalam ensiklopedia. Kritik dan saran Imron ini bermula dari pengamatannya dalam draf yang mencantumkan beberapa nama “orang muda” yang secara historis belum ikut dalam proses perjalanan sastra di Sumatera Selatan, namun tiba-tiba disebut tokoh.

“Saya pikir, sebagai masukan tim dari Balai Bahasa merumuskan kembali apa kriteria tokoh yang dimaksud dalam buku ini, sehingga ukurannya jelas, mengapa dia disebut tokoh? Tidak bisa penulis sastra yang baru muncul tiba-tiba disebut tokokh dalam ensiklopedia,” ujarnya.

Kalau dalam bahasa Yos Elyas, menempatkan penulis pemula sebagai tokoh, yang tidak ikut dalam proses panjang, hal itu akan berdampak psikologis pada yang bersangkutan, atau juga terhadap psikologis keluarga besar tokoh sekaliber alm Amran Halim. “Rasanya ini akan megangganggu secara kejiwaan, kok bisa anak yang baru muncul di era 90-an terus tiba-tiba jadi tokoh dalam buku ini, saya kira ini perlu dievaluasi,” tegas Yos.

Imron yang jumga mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palembang periode 2009-2013 mencotohkan, tidak setiap penulis sastra disebut tokoh. Atau tidak semua lembaga kebudayaan yang konsen terhadap sastra bisa dimasukkan dalam ensiklopedia. Sebab, menurut dosen Jurnalistik di Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang ini, tidak semua lembaga atau penulis ikut serta dalam proses perjalan sastra di Sumatera Selatan.

”Ada penulis sastra untuk dirinya sendiri, atau lembaga yang hanya untuk penanda tanda ada efek dan kontribusi terhadap masyarakat sekitar. Maksud saya, baik lembaga atau pribadi, perlu ada ukuran yang jelas, sehingga dalam penyusunan ensiklopedia ini tidak akan ada sangkaan suka dan tidak suka, ada karena unsur pertemanan,” tegasnya.

Senada dengan Imron, Penyair AP Bayu menandaskan, belajar dari ensiklopedia yang pernah ditulis Hasanudin WS, yang diterbitkan angkasa. Sampai beberapa tahun, disbeut AP Bayu, buku itu masih menjadi perdebatan, karena data yang dibuat tidak akurat.

Oleh sebab itu menurut AP Bayu, penyusunan ensiklopedia yang terpenting adalah kebenaran sejarah, validitas informasi sehingga ensiklopedia ini tidak bernasib sama dengan bukunya Hasanudin WS.

“Menurut saya, ensiklopedia yang terpenting adalah kebenaran informasi dan pertanggungjawaban terhadap data. Sehingga tidak akan ada komplain dari pihak manapun. Sebab, ini adalah penulusuran sejarah. Salah kita menyusun buku ini, nanti generasi penerus kita akan salah juga memahami sejarah sastra di Sumsel,” tegasnya.

Pada acara itu, Balai Bahasa mengundang sejumlah pelaku sastra, penulis dan para pelaku seni di Sumatera Selatan. Selain itu, mendampingi Dr Dora Amalia, hadir juga Dewi Puspita, Kasub Konservasi dari Pusat Pengembangan dan Perlindungan Badan Bahasa Jakarta. Acara yang digelar berakhir pada pukul 12.00 WIB. Direncanakan, sebagai follow up dari sarasehan ini, dalam waktu dekat akan digelar Forum Grup Discussion (FGD) sebagai penguatan teks dalam ensiklopedia Sastra Modern Sumatera Selatan.

TEKS / EDITOR : T PAMUNGKAS

FOTO : DOK.KS




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *