Konsep Kebudayaan Tak Bisa Jadi Acuan Kajian Agama

PALEMBANG, KS

Drs. Ahmad Zainal, akademisi Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, mengutip konsep kebudayaan dari Prof. Koentjaraningrat menjelaskan, kebudayaan dalam wujud keseharian, mencakup keseluruhan dari gagasan, kekuatan, hasil kelakuan. Hal itu dikatakan Ahmad Zainal pada Forum Diskusi Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah  di Aula Fakultas Adab UIN, Senin (16/11/2015).

Lebih lanjut, Ahmad Zainal mengatakan, namun demikian konsep kebudayaan diatas tidak dapat digunakan sebagai acuan pendekatan kebudayaan untuk kajian agama. “Karena agama bukan kelakuan atau hasil kelakuan, sebaliknya pengertian ini dijadikan sasaran kajian atau penelitian antropologi,” tegasnya.

Kebudayaan, menurut Ahmad Zainal,  sebagai pedoman bagi sebuah masyarakat untuk menafsirkan, guna memahami lingkungan hidupnya dan mendorong serta menghasilkan tindakan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Sementara itu, Drs. Masyhur Dungcik lebih menitikberatkan pada kajian tulisan jawi. Menurutnya, terdapat problematika dalam penggunaan dan cara membaca tulisan jawi. Sebab tulisan jawi tidak seperti tulisan pegon yang berasal dari pulau Jawa. Jenis tulisan  pegon sudah memiliki tanda baca atau baris pada aksara, tulisan Jawi harus diperbarui dan ditambah tanda baca pada beberapa dialek.

Seperti disebut dalam beberapa literatur, huruf pegon adalah huruf Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa juga Bahasa Sunda. Kata pegon konon berasal dari bahasa Jawa pégo yang berarti menyimpang. Sebab Bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab dianggap sesuatu yang tidak lazim.

Berbeda dengan huruf Jawi, yang ditulis gundul. Pegon hampir selalu dibubuhi tanda vokal. Jika tidak, maka tidak disebut pegon lagi melainkan gundhil. Bahasa Jawa memiliki kosakata vokal (aksara swara) yang lebih banyak daripada bahasa Melayu sehingga vokal perlu ditulis untuk menghindari kerancuan.

Terkait hal itu, Drs. Masyhur Dungcik, M.Ag saat ini sedang menyusun keyboard baru dalam penulisan aksara Jawi dengan beberapa perubahan dan penambahan tanda baca tersebut. Lulusan doktor dari Brunei ini mengatakan, dengan penambahan tanda baca dan perubahan dalam beberapa penggunaan huruf, diharapkan akam mampu atau memudahkan sekaligus menambah peminat tulisan Jawi yang selama ini dikatakan rumit bagi sebagaian kalangan masyarakat.

Acara ini diikuti 150 peserta, terdiri dari dosen, Mahasiswa Fakultas Adab, UIN Raden Fatah Palembang, Uiniversitas Muhammadiyah Palembang dan sebagian lagi siswa SMA N 3 Palembang. Tema yang diusung ada acara ini Metodologi Penelitian Budaya. Acara berlangsung sejak pukul 09.00-12.00 WIB.

TEKS : NURKHOLIS (Santri Sekolah Jurnalistik Ponpes Al-Badar Palembang)

EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com